PERISTIWA

Full Fasilitas Pos Pelayanan Nataru 2025 Bergaya Kerajaan Majapahit di Trenggalek

×

Full Fasilitas Pos Pelayanan Nataru 2025 Bergaya Kerajaan Majapahit di Trenggalek

Sebarkan artikel ini
Pos lalu lintas Nataru 2025 yang disiapkan Polres Trenggalek untuk para pengunjung dengan berbagai fasilitas lengkap.

SUARA TRENGGALEK – Pos pelayanan natal dan tahun baru milik Polres Trenggalek terbilang cukup unik, dengan menggunakan konsep kerajaan jawa bergaya Majapahit, pos tersebut dapat memanjakan para pengendara untuk beristirahat.

Bertempat di jalan Soekarno-Hatta Trenggalek di depan Agropark, tepat di sebelah selatan Pos Lalu Lintas/PSC 119 didirikan untuk mendukung Operasi Lilin Semeru 2024 yang bertujuan mengamankan perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru).

Konsep Pos Lalu Lintas Menjelang Nataru 2025

“Konsep ini mengusung jawa klasik era Kerajaan Majapahit, lengkap dengan ornamen gunungan dan lukisan tokoh kerajaan yang menghiasi dinding,” kata Kasatlantas Polres Trenggalek, AKP Agus Prayitno, Senin (23/12/2024).

AKP Agus juga menyampaikan jika hal itu memberikan suasana unik dan nostalgia sejarah bagi para pengunjung. Alasannya dirancang untuk memberikan pengalaman baru yang tak hanya menarik tetapi juga memiliki nilai sejarah.

“Selain desainnya yang klasik, Pos Pelayanan Nataru di Agropark juga dilengkapi berbagai fasilitas untuk kenyamanan para pemudik,” ungkapnya.

Pelayanan Pos Lalu Lintas Perayaan Nataru 2025

Disampaikan pula oleh AKP Agus bahwa para pengunjung dapat menikmati layanan kesehatan gratis yang tersedia 24 jam, berupa ruang ibadah dan istirahat yang nyaman, area bermain anak, hingga fasilitas hiburan seperti kursi pijat dan smart TV dengan aplikasi movie streaming.

Tak hanya itu, pos ini juga menyediakan informasi kondisi lalu lintas secara real-time, makanan dan minuman gratis, serta layanan kendaraan derek untuk membantu pengendara yang mengalami kendala di jalan.

“Pos Pelayanan Nataru ini juga berfungsi sebagai rest area yang terbuka bagi masyarakat umum, khususnya mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh selama libur panjang Nataru,” ungkapnya.

Tujuan Berdirinya Pos Lalu Lintas Nataru 2025

AKP Agus juga menambahkan bahwa fasilitas ini diharapkan dapat membantu pengemudi melepas lelah sekaligus memastikan perjalanan mereka lebih aman.

“Kami mengingatkan seluruh pengguna jalan untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan dalam berkendara,” tuturnya.

Dalam rangka Operasi Lilin Semeru 2024, yang berlangsung mulai 21 Desember 2024 hingga 2 Januari 2025, Polres Trenggalek juga mendirikan Pos Pengamanan di Durenan dan Watulimo.

Pos-pos ini didukung oleh personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, Dishub, Dinkes, Orari, Senkom, dan Pramuka.

“Dengan kehadiran pos pelayanan yang menarik dan fasilitas lengkap, kami berupaya memberikan kenyamanan serta rasa aman bagi masyarakat yang melintas di wilayah ini selama libur Natal dan Tahun Baru,” pungkasnya.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.