PERISTIWA

Polres Trenggalek Gelar Sertijab, 2 Pejabat Utama Berganti

×

Polres Trenggalek Gelar Sertijab, 2 Pejabat Utama Berganti

Sebarkan artikel ini
Pelepasan dua pejabat utama dalam pelaksanaan sertijab Polres Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Sejumlah pejabat utama di Polres Trenggalek berganti. Kasatreskrim Polres Trenggalek, AKP Zainul Abidin dipindah ke Panit II Unit I Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim.

Kasatreskrim lama digantikan oleh AKP Eko Widiantoro yang sebelumnya menjabat sebagai Kasat Intelkam Polres Ponorogo.

Selain Kasatreskrim, juga jabatan Kasatresnarkoba Polres Trenggalek juga diisi oleh orang baru. Pejabat yang lama AKP Yoni Susilo dimutasi ke Baglog Polres Nganjuk.

Sedangkan gantinya adalah AKP Hari Siswanto yang sebelumnya menjabat sebagai Panit II Unit II Subdit I Ditreskrimum Polda Jatim.

Sedangkan jabatan Kapolsek Gandusari juga dilakukan penyegaran. Iptu Katik digantikan oleh Iptu Suhadi yang sebelumnya menjabat sebagai Wakapolsek Gandusari.

Kapolres Trenggalek AKBP Indra Ranu Dikarta saat dikonfirmasi usai menjadi inspektur upacara mengatakan bahwa hari ini telah melaksanakan sertijab Satreskrim, Satreskoba dan Polsek Gandusari.

“Saya mengucapkan terimakasih atas dedikasi dan loyalitas selama mengemban jabatan,” kata AKBP Indra, Senin (6/1/2025).

AKBP Indra juga mengapresiasi pejabat lama salah satunya AKP Zainul Abidin yang banyak mengungkap sejumlah kasus menonjol selama menjabat sebagai Kasatreskrim.

Kasus tersebut mulai dari pencabulan terhadap sejumlah santriwati oleh 2 tokoh agama di Kecamatan Karangan dan pemerkosaan santriwati oleh kiai di Kecamatan Kampak.

Bahkan mantan Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya tersebut juga berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan di salah satu rumah polisi.

Selain itu, Abidin juga menginisiasi ruang Pehh (Profesional Edukasi Humble dan Humanis) Ngopi sebagai sarana untuk mempermudah menyampaikan inovasi dan pemikiran bukan hanya untuk anggota Satreskrim tapi juga seluruh satuan di Polres Trenggalek.

“Untuk pejabat yang baru saya harapkan bisa mempertahankan kinerja atau bahkan meningkatkan apa yang sudah dilakukan oleh pejabat sebelumnya,” ucap Indra.

Sedangkan untuk Kapolsek Gandusari yang baru, AKBP Indra berharap bisa memberikan layanan yang optimal kepada masyarakat dan meningkatkan sinergitas antara TNI-POLRI dan instansi lainnya. (*)

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.