PERISTIWA

60 Polisi di Trenggalek Jalani Program Diet, 19 Lolos Berat Badan Ideal

×

60 Polisi di Trenggalek Jalani Program Diet, 19 Lolos Berat Badan Ideal

Sebarkan artikel ini
Kapolres Trenggalek saat akan memberi apresiasi kepada anggotanya dengan berat badan ideal.

SUARA TRENGGALEK – Program Kapolres Trenggalek dalam menurunkan berat badan untuk para anggota polisi yang memiliki badan gendut atau obesitas membuahkan hasil.

Sebanyak 26 anggota polisi berhasil menurunkan berat badan lebih dari 10 kilogram, lima di antaranya berhasil menurunkan berat badan lebih dari 20 kilogram.

Tidak hanya itu, terdapat satu anggota polisi penurunan berat badan paling drastis, yaitu hampir 26 kilogram dalam waktu tiga bulan. Anggota polisi tersebut sebelumnya memiliki berat badan 160 kilogram.

Keberhasilan tersebut disampaikan Kapolres Trenggalek AKBP Indra Ranu Dikarta. Ia juga memaparkan bahwa program ini diikuti sekitar 60 anggota, dengan 19 orang telah mencapai berat badan ideal.

“Meski demikian, masih ada sekitar 65 persen yang belum mencapai target ideal,” ungkapnya, Senin (6/1/2025).

AKBP Indra juga berucap alhamdulillah dan bersyukur dengan pencapaian saat ini. Ia berharap bonus dari program ini adalah anggota bisa memiliki tubuh yang proporsional dan ideal.

Program penurunan berat badan ini tidak hanya berfokus pada olahraga, tetapi juga memberikan edukasi tentang pola makan yang sehat.

“Karena para anggota mendapatkan pembinaan langsung dari ahli gizi untuk memastikan asupan makanan mereka seimbang dan mendukung upaya penurunan berat badan,” jelasnya.

AKBP Indra juga mangatakan bahwa khususnya bagi anggota yang berusia di atas 40 tahun, penting untuk menjaga pola makan yang sehat. Karena semakin tua, metabolisme tubuh manusia cenderung menurun.

“Pola makan menjadi faktor utama selain olahraga,” tambah AKBP Indra.

Ia juga menegaskan bahwa memiliki tubuh yang proporsional bukan hanya soal penampilan, tetapi juga mendukung kinerja anggota di lapangan.

Tubuh yang ideal memberikan kesan wibawa dan meningkatkan performa. Kesehatan adalah rezeki yang paling berharga, dan bonusnya adalah penampilan yang baik dan kewibawaan dalam bertugas.

Sebagai bentuk apresiasi, anggota yang berhasil menurunkan berat badan diberikan penghargaan.

“Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Saya selalu mengatakan bahwa perjuangan dan pengorbanan tidak akan mengkhianati hasil,” tutup AKBP Indra.

Program ini diharapkan AKBP Indra menjadi motivasi bagi anggota lainnya untuk terus menjaga kesehatan, demi mendukung tugas dan pelayanan kepada masyarakat.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.