Inti Berita:
• Saat ini tingkat pengelolaan sampah di Trenggalek masih kurang dari 40 persen.
• Sebanyak 51 ton sampah per hari masih masuk ke TPA.
• DLH juga mulai mengawasi pengelolaan sampah dan limbah cair di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melalui sampling dan roadshow edukasi.
SUARA TRENGGALEK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek terus mengampanyekan gerakan pengelolaan sampah dari sumber sebagai langkah mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Masyarakat diminta mulai memilah sampah sejak dari rumah agar hanya sampah residu yang berakhir di TPA.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Trenggalek, Cusi Kurniawati, mengatakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.
“Hari ini kita melaksanakan telekonferensi mengikuti Zoom secara nasional dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026 dengan tema Now For Climate atau Saatnya Bekerja untuk Iklim,” ujar Cusi.
Menurutnya, harapan pemerintah sebenarnya sederhana, yakni masyarakat mampu memilah sampah langsung dari sumbernya.
“Supaya beban TPA itu tidak berat. Jadi mulai di rumah, di manapun tempatnya beraktivitas, langsung memilah sampah,” katanya.
Sampah Organik dan Anorganik Harus Diolah
Cusi menjelaskan, sampah organik seharusnya tidak langsung dibuang ke TPS maupun TPA.
Sampah jenis ini dapat diolah secara mandiri melalui komposter, biopori, maupun metode joglangan.
Sementara itu, sampah anorganik masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual atau didaur ulang melalui bank sampah maupun pengepul.
“Yang organik dijadikan kompos dan ditangani sendiri di rumah. Untuk yang anorganik itu kan masih berharga, bisa jadi cuan, bisa jadi uang,” jelasnya.
Ia menegaskan hanya sampah residu yang seharusnya dibuang ke TPS dan akhirnya menuju TPA.
“Sehingga TPA kita tidak berat, tidak terjadi open dumping, dan secara umum kita bertanggung jawab atas sampah kita sendiri,” imbuhnya.
Baru Kurang dari 40 Persen Sampah Terkelola
Meski berbagai program pengelolaan sampah telah dijalankan, DLH mencatat tingkat pengelolaan sampah di Kabupaten Trenggalek masih di bawah 40 persen.
“Kita masih terolah kurang dari 40 persen. Makanya angka ini harus terus ditingkatkan,” ungkap Cusi.
Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 51 ton per hari.
Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
SPPG Jadi Perhatian Baru DLH
Selain persoalan sampah rumah tangga, DLH Trenggalek juga mulai memberi perhatian terhadap timbulan sampah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Cusi, pihaknya telah melakukan sampling di sejumlah lokasi SPPG sekaligus memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah dan limbah cair.
“Kita juga turun ke SPPG untuk sampling dan akan mengumpulkan semuanya. Selain masalah IPAL, kita juga memberikan penyuluhan bagaimana menangani sampah dari sumber di SPPG,” ujarnya.
Cusi menegaskan seluruh sampah dari dapur SPPG tidak boleh langsung dibuang ke TPS tanpa proses pengelolaan.
Jangan semua sampah SPPG dibawa ke TPS. Harus ada pengolahan organiknya, bagaimana anorganiknya, bagaimana residunya, dan bagaimana limbah cair yang masuk ke IPAL,” tegasnya.
DLH Siapkan Roadshow Edukasi SPPG
Untuk memperkuat pengawasan, DLH bersama Bakorwil telah melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi SPPG, termasuk di wilayah Ngantru.
Selain melakukan sampling, pemerintah juga akan menggelar roadshow edukasi yang dijadwalkan mulai pekan depan guna memastikan pengelolaan sampah dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berjalan sesuai ketentuan.
“Kami sudah melakukan sampling di beberapa lokasi dan akan melaksanakan roadshow edukasi mulai Senin mendatang,” pungkas Cusi.











