Inti Berita:
• Kapur barus dapat digunakan sebagai salah satu upaya tambahan untuk mencegah ular mendekati rumah karena aromanya yang menyengat.
• Namun, efektivitasnya belum terbukti kuat secara ilmiah sehingga tidak bisa dijadikan solusi utama.
• Menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk ular, dan menghilangkan tempat persembunyiannya tetap menjadi langkah pencegahan yang paling efektif.
SUARA TRENGGALEK – Kapur barus atau kamper telah lama dikenal sebagai bahan rumah tangga untuk mengusir ngengat dan serangga.
Di Indonesia, sebagian masyarakat juga memanfaatkannya sebagai cara tradisional untuk mencegah ular masuk ke rumah karena aromanya yang menyengat.
Meski demikian, efektivitas kapur barus sebagai pengusir ular masih menjadi perdebatan. Sejumlah ahli menyebut belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa kapur barus mampu menghalau ular secara efektif.
Aroma naftalena memang diduga dapat mengganggu indra penciuman ular yang sensitif, tetapi tidak menjamin reptil tersebut akan menjauh, terutama jika di sekitar lokasi tersedia makanan atau tempat berlindung.
Karena itu, penggunaan kapur barus sebaiknya hanya dijadikan sebagai langkah pencegahan tambahan, bukan solusi utama.
Cara Menggunakan Kapur Barus
Bagi yang ingin mencobanya, kapur barus dapat ditempatkan di sejumlah titik yang berpotensi menjadi jalur masuk ular, seperti:
- Sudut rumah.
- Dekat pintu dan ventilasi.
- Celah dinding.
- Lubang saluran air.
- Gudang atau area lembap.
- Sekitar pagar dan fondasi rumah.
Agar tidak berserakan, kapur barus dapat diletakkan di dalam wadah kecil atau piring.
Sebagian orang juga menghancurkannya menjadi serpihan agar aroma lebih cepat menyebar.
Selain itu, kapur barus juga kerap digunakan dalam bentuk larutan semprot.
Caranya dengan menghancurkan sekitar 5–10 butir kapur barus, kemudian melarutkannya ke dalam satu liter air panas.
Setelah dingin, larutan dimasukkan ke botol semprot dan diaplikasikan pada area yang dianggap rawan dilalui ular.
Penggunaan sebaiknya diulang setiap satu hingga dua minggu atau setelah hujan karena aroma kapur barus mudah menguap.
Perhatikan Keamanannya
Kapur barus mengandung naftalena yang bersifat beracun apabila tertelan atau terhirup dalam jumlah berlebihan. Oleh sebab itu, penggunaannya perlu dilakukan secara bijak.
Hindari meletakkan kapur barus di tempat yang mudah dijangkau anak-anak maupun hewan peliharaan. Penggunaan di ruang tertutup tanpa ventilasi juga tidak disarankan karena dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, pusing, hingga gangguan kesehatan lainnya.
Kombinasikan dengan Langkah Pencegahan Lain
Selain menggunakan kapur barus, pencegahan yang lebih efektif dilakukan dengan menjaga lingkungan rumah tetap bersih dan tidak menjadi habitat ular.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menutup celah yang berpotensi menjadi akses masuk ular.
- Memotong rumput dan semak yang terlalu rimbun.
- Membersihkan tumpukan kayu, sampah, atau barang bekas yang dapat menjadi tempat persembunyian.
- Mengendalikan populasi tikus dan hewan kecil yang menjadi sumber makanan ular.
Sebagian masyarakat juga memanfaatkan bahan lain seperti belerang, serai wangi, bawang putih, cabai, maupun minyak esensial beraroma tajam sebagai upaya tambahan untuk mengurangi kemungkinan ular mendekati rumah.
Apabila ular sudah masuk ke dalam rumah atau berada di lokasi yang membahayakan, sebaiknya jangan mencoba menangkapnya sendiri.
Segera hubungi petugas berwenang atau layanan pemadam kebakaran yang memiliki peralatan dan kemampuan untuk melakukan evakuasi secara aman.











