PERISTIWA

Harga Sapi di Trenggalek Naik Jelang Idul Adha, Stok Hewan Kurban Dipastikan Aman

×

Harga Sapi di Trenggalek Naik Jelang Idul Adha, Stok Hewan Kurban Dipastikan Aman

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pedagang sapi di pasar hewan Trenggalek.
Inti Berita:
• Harga sapi di Trenggalek naik jadi sekitar Rp25 juta per ekor
• Kenaikan dipicu turunnya populasi ternak di tingkat peternak
• Stok hewan kurban tetap aman, bahkan masih kirim ke luar daerah
• Permintaan diprediksi naik mulai Mei jelang Idul Adha
• Harga kambing stabil dan stoknya masih melimpah

SUARA TRENGGALEK – Harga sapi di Kabupaten Trenggalek mulai mengalami kenaikan menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.

Meski demikian, ketersediaan hewan kurban dipastikan masih aman dan bahkan mampu menyuplai ke sejumlah kota besar di Indonesia.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Peternakan Trenggalek, Ririn Hari Setiani, mengungkapkan bahwa harga sapi tahun ini naik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Saat ini harga sapi berkisar Rp25 juta per ekor, sebelumnya sekitar Rp23 juta, dengan estimasi bobot karkas sekitar 120 kilogram,” ujarnya,” Rabu (29/4/2026).

Menurut Ririn, kenaikan harga ini dipicu oleh menurunnya populasi ternak di tingkat peternak dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menyebut, banyak peternak yang mengurangi jumlah ternaknya, bahkan ada yang berhenti beternak.

“Peternak yang dulu punya lima ekor, sekarang rata-rata tinggal tiga, bahkan ada yang sudah tidak beternak. Penurunan populasi ini sangat terasa dan berdampak pada harga,” jelasnya.

Meski harga mengalami kenaikan, Ririn memastikan stok hewan kurban di Trenggalek masih mencukupi. Bahkan, daerah ini tetap menjadi salah satu pemasok sapi ke luar daerah seperti Jakarta dan Tangerang.

Selain sapi, distribusi kambing dari Trenggalek juga menjangkau sejumlah wilayah lain, seperti Surabaya, Malang, hingga Jakarta.

Ririn menambahkan, permintaan hewan kurban diperkirakan mulai meningkat pada Mei 2026. Hal ini terlihat dari meningkatnya permohonan surat keterangan kesehatan hewan untuk pengiriman ternak ke luar daerah.

“Untuk kambing, harganya relatif stabil dan stoknya melimpah. Dari hasil pemantauan dan vaksinasi di lapangan, populasi kambing masih cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar,” pungkasnya.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.