Inti Berita:
• BPR Jwalita Trenggalek mencatat laba sekitar Rp 1,585 miliar pada semester I 2026 atau melampaui target Rp 1,3 miliar.
• Kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya penyaluran kredit kepada pelaku UMKM.
• Hingga akhir tahun, BPR menargetkan laba Rp 2,8 miliar dan optimistis dapat mendekati Rp 3 miliar.
SUARA TRENGGALEK – PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Jwalita (Perseroda) atau Bank Trenggalek mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Hal itu menunjukkan bukti nyata kontribusinya dalam menaikkan kelas UMKM dari segi permodalan.
Bank plat merah milik Pemkab Trenggalek tersebut berhasil membukukan laba sebesar sekitar Rp 1,585 miliar, melampaui target semester pertama tahun 2026 yang dipatok sekitar Rp 1,3 miliar.
Direktur Utama PT BPR Jwalita Trenggalek, Dwi Fraidianria mengatakan capaian tersebut didorong oleh peningkatan penyaluran kredit yang menjadi sumber utama pendapatan perusahaan.
“Alhamdulillah di semester I tahun 2026 ini BPR bisa mencapai laba kurang lebih sekitar Rp 1.585.000.000. Dari target kami yang semester I sebenarnya kurang lebih sekitar Rp 1,3 miliar, tapi alhamdulillah melebihi target,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Menurut Dwi, peningkatan penyaluran kredit dari BPR Jwalita dipengaruhi sejumlah faktor musiman.
Mayoritas nasabah BPR Jwalita berasal dari sektor UMKM dan pedagang yang membutuhkan tambahan modal menjelang Ramadan, Idulfitri, hingga kebutuhan memasuki tahun ajaran baru.
“Penopang pendapatan BPR Jwalita itu dari kredit. Otomatis ekspansi kredit di semester I memang lebih besar karena ada banyak faktor. Kebetulan saat itu ada puasa, hari raya, hingga kebutuhan anak-anak masuk sekolah,” jelasnya.
Target Laba Tahun 2026 Tembus Rp 2,8 Miliar
Sepanjang tahun 2026, Dwi menerangkan BPR Jwalita menargetkan laba sebesar Rp 2,8 miliar.
Namun, dengan capaian semester pertama yang sudah mendekati Rp 1,6 miliar, manajemen optimistis realisasi laba dapat melampaui target tersebut.
“Target tahun 2026 kurang lebih sekitar Rp 2,8 miliar. Kami berharap bisa lebih dari itu. Semester I saja sudah hampir Rp 1,6 miliar, mudah-mudahan akhir tahun bisa mendekati Rp 3 miliar,” kata Dwi.
Target tersebut juga lebih tinggi dibandingkan realisasi laba tahun 2025 yang mencapai sekitar Rp 2,7 miliar.
Fokus Biayai UMKM Baru dan Usaha yang Sudah Berkembang
Selain mempertahankan nasabah lama, BPR Jwalita juga terus memperluas pembiayaan kepada pelaku UMKM baru.
Dwi menyebut komposisi pertumbuhan berasal dari nasabah eksisting maupun nasabah baru yang relatif seimbang.
Salah satu strategi yang dilakukan ialah menjalin kerja sama dengan lembaga pelatihan kerja (LKP), termasuk LKP Sanita di Bendo, yang melahirkan calon-calon pelaku usaha baru.
“Kalau nominal kredit dan nasabah baru saya kira imbang. Ada nasabah potensial yang memang sudah sering kami biayai, tetapi juga ada nasabah baru karena kami bekerja sama dengan lembaga pelatihan kerja yang mencetak UMKM baru,” ungkapnya.
Ia menegaskan, perbankan tidak hanya perlu mendukung UMKM yang telah berkembang, tetapi juga memberikan akses permodalan kepada calon pelaku usaha agar mampu tumbuh menjadi UMKM yang lebih besar.
“Embrio dari UMKM yang besar itu berasal dari calon-calon UMKM yang juga membutuhkan perhatian, terutama permodalan. Mereka sudah punya keterampilan, tetapi belum memiliki modal. BPR hadir untuk itu,” pungkasnya.











