BISNIS

Hobi Layangan Jadi Ladang Rezeki, Pemuda Trenggalek Ini Produksi 100 Buah per Bulan

×

Hobi Layangan Jadi Ladang Rezeki, Pemuda Trenggalek Ini Produksi 100 Buah per Bulan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Afrizal Rian Khoirul Manna pengrajin layangan asal Trenggalek yang kebanjiran pesanan.
Inti Berita:
• Afrizal Rian Khoirul Manna, pemuda asal Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, sukses mengembangkan hobinya menjadi usaha pembuatan layangan.
​• Rian mampu memproduksi 12 hingga 15 layangan per hari atau sekitar 100 buah per bulan, dengan jangkauan pemasaran hingga ke Tulungagung.
​• Maraknya event dan festival layangan selama musim kemarau tahun ini mendongkrak jumlah permintaan dari berbagai ukuran dan model, seperti jenis Tanggalan dan Gapangan.

SUARA TRENGGALEK – Desiran pisau yang menggesek batang bambu terdengar lirih dari sebuah rumah di RT 15 RW 03, Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.

Dengan telaten, Afrizal Rian Khoirul Manna menggerakkan pisau untuk menghaluskan bambu yang sebelumnya telah dipotong. Di tangan pemuda lulusan SMK itu, potongan bambu perlahan berubah menjadi bagian dari kerangka layangan.

Bagi Rian, aktivitas tersebut bukan sekadar mengisi waktu luang. Hobi membuat layangan sejak kecil kini berkembang menjadi usaha rumahan yang mendatangkan pemasukan.

Ia mulai serius menekuni pembuatan layangan sekitar 2021. Awalnya, layangan dibuat hanya karena hobi. Namun, pesanan yang datang perlahan membuat kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha.

“Dulunya saya cuma senang membuat layangan. Lama-lama ada orang yang pesan, kadang satu, kadang dua. Kemudian ada yang pesan dalam jumlah banyak dan cocok. Setelah itu pesanannya berlanjut sampai sekarang,” terang Rian, Kamis (3/9/2026).

Untuk memenuhi pesanan, Rian mampu menyelesaikan sekitar 12 hingga 15 layangan dalam sehari. Dalam sebulan, produksinya rata-rata mencapai sekitar 100 buah.

Salah satu jenis yang dibuatnya disebut Layangan Tanggalan. Menurut Rian, istilah tersebut biasa digunakan pembeli dari Trenggalek maupun Tulungagung.

Layangan itu memiliki ukuran bahan mentah sekitar 1,10 meter. Setelah melalui proses pengerjaan, ukurannya menjadi sekitar 90 hingga 95 sentimeter.

Untuk ukuran tersebut, Rian menerima harga grosir sekitar Rp20 ribu per buah dari pengepul asal Tulungagung.

“Untuk layangan ini harganya grosir. Saya menerimanya ada nominal sekian,” terang Rian yang enggan menyebut harga.

Pesanan Meningkat Saat Musim Kemarau

Musim kemarau menjadi salah satu momentum yang menguntungkan bagi Rian. Bambu yang menjadi bahan utama lebih cepat kering karena mendapat paparan sinar matahari.

Sebaliknya, musim penghujan menjadi tantangan tersendiri. Bambu lebih sulit diperoleh dan proses pengeringannya membutuhkan waktu lebih lama.

“Kalau dukanya ketika musim hujan, mencari bambunya susah. Mengeringkannya juga susah. Cuma itu kendalanya ketika hujan,” jelasnya.

Menurut Rian, jumlah pengrajin layangan di wilayahnya tidak terlalu banyak. Pengrajin seperti dirinya masih dapat dihitung dengan jari.

Namun, tren bermain layangan justru semakin meluas ketika memasuki musim kemarau. Permintaan tidak hanya datang dari Trenggalek, tetapi juga Tulungagung dan sekitarnya.

“Untuk tren ini sepertinya meluas. Tulungagung dan Trenggalek ramai kalau musim seperti ini,” akuinya.

Pesanan tahun ini juga disebut lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktornya karena semakin banyak kegiatan atau festival yang menggunakan layangan sebagai bagian dari acara.

“Kalau dibandingkan tahun kemarin, lebih ramai sekarang. Karena acara atau event-event juga banyak,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai festival layangan turut mendongkrak minat masyarakat. Dampaknya, semakin banyak orang yang tertarik sehingga model dan ukuran yang dipesan juga semakin beragam.

“Iya, mendongkrak. Jadi lebih banyak yang suka, lebih banyak yang pesan. Model-modelnya juga lebih banyak,” imbuhnya.

Layangan Kecil Justru Lebih Rumit

Dalam proses pembuatan, Rian menggunakan beberapa jenis bambu, di antaranya pring biasa dan pring petung. Jenis bambu disesuaikan dengan pesanan.

Untuk pesanan tertentu, seperti dari Sumar di Desa Gesikan, Kecamatan Campurdarat, ia menggunakan pring petung.

Menariknya, layangan berukuran kecil justru membutuhkan ketelitian lebih dibandingkan ukuran besar. Bagian-bagiannya lebih detail sehingga proses pengerjaannya menjadi lebih rumit.

“Kesulitannya malah yang kecil, karena lebih rumit. Proses pengerjaannya lebih detail,” ungkapnya.

Selama menekuni usaha tersebut, Rian juga pernah menerima pesanan layangan berukuran sekitar 2,5 meter. Namun, saat ini pesanan yang paling banyak diterimanya adalah jenis gapangan.

Untuk target produksi, Rian mengaku belum memiliki ketentuan khusus dari pengepul. Setelah pesanan selesai dikerjakan, ia langsung mengirimkannya.

“Kalau selama ini tidak ada target. Asal jadi, saya kirim,” tuturnya.

Hingga tahun ini, permintaan model layangan masih didominasi jenis yang sama. Ke depan, Rian berharap usaha yang dirintis dari hobi tersebut dapat terus berkembang dengan menghadirkan lebih banyak variasi model.

“Mungkin untuk ke depan bisa berkembang, model-modelnya juga lebih banyak supaya lebih banyak variasi,” harapnya.

Hobi yang Tetap Dipertahankan

Bagi Rian, membuat layangan tidak semata-mata soal keuntungan. Kegemaran yang telah digelutinya sejak duduk di bangku sekolah dasar menjadi alasan utama dirinya tetap bertahan.

“Kalau sukanya ya hobi tadi. Senang membuatnya,” ungkapnya.

Rian merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Sejak kecil, ia sudah menyukai layangan. Kegemaran itu kemudian berkembang hingga akhirnya ditekuni secara serius.

Pengamatan di lokasi, Rian masih mengerjakan proses finishing dengan membersihkan kelebihan plastik pada layang-layang.

Sementara aksesori suara atau sawangan dibuat secara terpisah. Aksesori tersebut harus dilepas terlebih dahulu untuk kemudian dipasang sendiri oleh pembeli.

Di teras rumahnya, berjajar layangan dengan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran kecil hingga jumbo yang panjangnya lebih dari 2 meter.

Setiap hari selain membuat layangan, Rian bersama teman-teman di lingkungannya juga kerap menerbangkan layangan di sawah yang lokasinya tidak jauh dari rumah.

Sambil menunggu waktu Maghrib, layangan menjadi teman untuk bersantai sembari menikmati suasana senja.