BISNIS

Harga Cabai Rawit Jadi Penyumbang IPH Tertinggi di Trenggalek

×

Harga Cabai Rawit Jadi Penyumbang IPH Tertinggi di Trenggalek

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pedagang pasar basah Trenggalek saat melayani pembeli
Inti Berita:
• Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang paling berpengaruh terhadap perubahan harga di Trenggalek.
• Pemerintah mendorong pengembangan budidaya cabai rawit agar swasembada cabai di daerah dapat terwujud dan tekanan perubahan harga bisa diantisipasi.

SUARA TRENGGALEK Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang berpotensi memberikan sumbangan tinggi terhadap Indeks Perubahan Harga (IPH) di Kabupaten Trenggalek.

Kepala Komindag Trenggalek, Saniran, mengatakan harga cabai rawit cenderung sulit diprediksi dan menjadi salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian harga.

“Cabai ini salah satu komoditas yang memang unpredictable terhadap IPH, indeks perubahan harga. Jadi, setiap musim, setiap tahun pasti ada IPH tertinggi di Trenggalek,” ujar Saniran.

Menurutnya, cabai menjadi salah satu komoditas yang diamati karena berpotensi menjadi penyumbang IPH tertinggi di Trenggalek.

“Salah satu yang kita amati yang menjadi sumber potensi penyumbang IPH tertinggi adalah cabe,” katanya.

Saniran menyebut jenis cabai yang menjadi perhatian adalah cabai rawit.

“Untuk Trenggalek ini cabe jenis apa, Pak? Cabe rawit. Yang memang yang IPH-nya tinggi cabe rawit,” ujarnya.

Dorong Swasembada Cabai

Untuk mengantisipasi tingginya perubahan harga, Saniran mengatakan pemerintah mendorong Dinas Pertanian untuk memperhatikan pengembangan budidaya cabai rawit di Trenggalek.

Menurutnya, Dinas Pertanian memiliki data terkait penanaman, pembudidayaan, serta pengembangan komoditas tersebut.

“Nah, ini makanya kita mendorong pemerintah melalui Dinas Pertanian. Tentu Dinas Pertanian yang punya data pasti bahwa untuk penanaman atau pembudidayaan dan pengembangan cabe rawit ini menjadi atensi sehingga untuk swasembada cabe di Trenggalek mudah-mudahan jadi kenyataan,” jelasnya.

Namun, persoalan kenaikan harga cabai tidak hanya terjadi di Trenggalek. Daerah-daerah yang menjadi sentra produksi juga dapat mengalami perubahan harga ketika IPH meningkat.

“Cuman memang cabe ini jangankan kalau di Trenggalek, di daerah-daerah produsen pun ketika terjadi IPH tertinggi harga naik itu ya sama,” ungkap Saniran.

Ia menyebut sejumlah daerah seperti Blitar dan Nganjuk sebagai daerah yang juga menjadi sumber produksi cabai. Bahkan, menurutnya, harga cabai di daerah produsen terkadang justru lebih tinggi dibandingkan Trenggalek.

“Jadi tidak hanya di Trenggalek yang naik, kemudian di Blitar, Ngajuk dan mungkin Pari itu sebagai sumber produsennya di sana ya justru yang di sana kadang-kadang lebih tinggi dari Trenggalek,” tuturnya.