PERISTIWA

Kemensos Kucurkan Bantuan Rp 191,9 Juta untuk 68 Lansia dan Disabilitas di Trenggalek

×

Kemensos Kucurkan Bantuan Rp 191,9 Juta untuk 68 Lansia dan Disabilitas di Trenggalek

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Perwakilan dari Kemensos bersama Kepala Dinas Sosial saat memberikan bantuan kepada perwakilan penerima manfaat.
Inti Berita:
• 68 lansia dan disabilitas di Trenggalek terima bansos Rp 191,9 juta dari Kemensos
• Bantuan berupa kebutuhan hidup layak dan alat bantu seperti kursi roda
• Disalurkan berdasarkan hasil survei dan asesmen di 12 kecamatan
• Program bersifat berkelanjutan, penerima bisa berbeda tiap tahun

SUARA TRENGGALEKKementerian Sosial melalui Sentra Kartini Temanggung menyalurkan Rp 191.950.000 untuk 68 warga lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek

Penyaluran bantuan tersebut dilakukan dalam rangka kegiatan bakti sosial yang digelar pada Rabu (29/4/2026), dengan menyasar penerima manfaat di berbagai kecamatan.

Pekerja Sosial Madya Kementerian Sosial, Sartono, menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya berupa kebutuhan dasar, tetapi juga alat bantu bagi penyandang disabilitas.

“Dalam bakti sosial ini kami juga memberikan layanan terapi di dua rumah terapi di Trenggalek,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pengukuran untuk kebutuhan alat bantu seperti tangan dan kaki palsu yang akan ditindaklanjuti pada tahap berikutnya.

“Ada juga pengukuran tangan dan kaki palsu bagi warga yang membutuhkan. Untuk penyerahannya akan kami tindak lanjuti. Total bantuan atensi yang kami serahkan sebesar Rp191.950.000,” jelasnya.

Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup layak serta alat bantu seperti kursi roda.

“Kami berikan kepada 68 penerima manfaat, berupa kebutuhan layak dan alat bantu seperti kursi roda,” imbuh Sartono.

Ia menambahkan, Trenggalek menjadi salah satu wilayah kerja Sentra Kartini Temanggung yang secara rutin mendapatkan intervensi sosial sejak 2021.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial P3A Trenggalek, Habis Solehudin, mengatakan bantuan yang disalurkan merupakan hasil usulan pemerintah daerah berdasarkan pemetaan kebutuhan di lapangan.

“Pelayanan yang diberikan meliputi terapi di rumah terapi Panggul serta penyaluran alat bantu seperti tongkat dan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, penentuan penerima dilakukan melalui survei dan asesmen terhadap kelompok rentan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian khusus.

“Penerima berbasis hasil survei tim di lapangan. Kami memetakan kebutuhan, kemudian mengusulkan ke Kemensos dan hari ini bantuan tersebut disalurkan,” jelasnya.

Habis menambahkan, penerima manfaat tersebar di 12 kecamatan di Trenggalek. Program ini juga bersifat berkelanjutan, dengan penerima yang bisa berubah setiap tahun sesuai kebutuhan.

“Kalau sudah menerima alat bantu seperti kursi roda, tentu tidak diajukan lagi. Tapi untuk lansia tetap menjadi prioritas dalam peningkatan kesejahteraan,” tandasnya.

Pemerintah daerah juga membuka peluang pengajuan bantuan lanjutan apabila masih ditemukan warga yang membutuhkan.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.