Inti Berita:
• Sapi Nggalekan merupakan sapi lokal asli Trenggalek yang kini dipertahankan sebagai plasma nutfah.
• Populasinya diperkirakan hanya sekitar 30–40 ekor di lingkungan UPTD Puskeswan Trenggalek.
• Bobot dewasa rata-rata hanya 350–400 kilogram dan pertumbuhannya lebih lambat dibanding sapi silangan.
SUARA TRENGGALEK – Di tengah dominasi sapi hasil kawin silang yang memiliki pertumbuhan lebih cepat dan bobot lebih besar, keberadaan Sapi Nggalekan masih dipertahankan di Kabupaten Trenggalek.
Namun, sapi lokal asli Trenggalek ini kini lebih difokuskan sebagai plasma nutfah untuk menjaga kelestarian genetiknya agar tidak punah.
Juru Periksa Daging atau Keur Master Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ngadirenggo, Suyitno, mengatakan Sapi Nggalekan memiliki nilai historis dan genetik yang penting bagi Kabupaten Trenggalek.
“Jadi Sapi Nggalekan itu sifatnya plasma nutfah. Artinya pelestarian genetik asli sapi Trenggalek,” ujar Suyitno, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, populasi Sapi Nggalekan saat ini relatif sedikit. Jumlahnya diperkirakan hanya berkisar 30 hingga 40 ekor yang berada di lingkungan UPTD Puskeswan Trenggalek.
Suyitno menjelaskan, secara ekonomi Sapi Nggalekan kalah bersaing dibandingkan sapi hasil persilangan seperti Limosin, Simental, maupun Brahman. Penyebabnya adalah ukuran tubuh yang lebih kecil dan pertumbuhan bobot yang lebih lambat.
“Secara rata-rata, bobot sapi Nggalekan dewasa yang biasa dipotong berkisar antara 350 hingga 400 kilogram,” katanya.
Bobot tersebut sudah termasuk ukuran maksimal atau standar terbesar untuk jenis sapi lokal tersebut. Untuk mencapai bobot sekitar 500 kilogram, sapi jantan membutuhkan waktu pemeliharaan yang cukup panjang.
“Untuk mengarah ke 500 kilo itu, kalau jantan paling tidak butuh waktu tiga sampai empat tahun lebih,” tambahnya.
Pertumbuhan Lebih Lambat
Menurut Suyitno, peternak yang memelihara Sapi Nggalekan harus memiliki kesabaran lebih karena secara genetika pertumbuhannya jauh lebih lambat dibandingkan sapi silangan.
Ia mencontohkan, sapi hasil cross breeding mampu mencapai bobot lebih dari 200 kilogram dalam waktu satu tahun. Sementara Sapi Nggalekan pada umur yang sama diperkirakan hanya mampu mencapai sekitar setengahnya.
“Sebaliknya, Sapi Nggalekan dalam kurun waktu yang sama diperkirakan hanya bisa mencapai setengah dari bobot tersebut,” jelasnya.
Untuk persebaran populasi, Suyitno menyebut kelompok terbesar masih berada di wilayah RPH Ngadirenggo. Namun, populasi Sapi Nggalekan diduga juga masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah pesisir selatan Trenggalek seperti Kecamatan Panggul dan Munjungan.
Relatif Aman Saat Wabah PMK
Di balik keterbatasan dari sisi ekonomi, Sapi Nggalekan memiliki keunggulan yang menarik perhatian. Saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda beberapa waktu lalu, populasi sapi ini dilaporkan tidak ditemukan kasus terjangkit PMK.
“Sepengetahuan saya, untuk Sapi Nggalekan itu alhamdulillah tidak ada. Tidak ada kena PMK, aman,” ungkapnya.
Meski demikian, Suyitno menegaskan kondisi tersebut bukan berarti Sapi Nggalekan kebal terhadap PMK. Menurutnya, keberhasilan menjaga populasi tetap sehat juga didukung pengawasan ketat petugas kesehatan hewan.
Ia menjelaskan setiap sapi yang akan dipotong di RPH harus melalui pemeriksaan kesehatan. Jika ditemukan gejala PMK, sapi tersebut tidak diperbolehkan masuk rumah potong.
“Kalau petugas menemukan ada indikasi gejala PMK pada sapi yang hendak dipotong di RPH, petugas akan langsung memerintahkan pemilik untuk membawa sapi tersebut pulang,” tegasnya.
Pelestarian Melalui Inseminasi Buatan
Upaya pelestarian Sapi Nggalekan juga dilakukan melalui program reproduksi menggunakan metode Inseminasi Buatan (IB).
Suyitno mengungkapkan, beberapa tahun lalu Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari pernah mengambil semen beku atau sperma dari Sapi Nggalekan untuk mendukung program pelestarian plasma nutfah tersebut.
“Dulu ada beberapa ekor yang diambil spermanya khusus untuk Sapi Nggalekan. Kalau tidak salah oleh Singosari,” pungkasnya.











