BISNIS

Sapi Asli Trenggalek Bertubuh Kecil, Dinas Akui Sapi Galekan Kalah Jika Untuk Bisnis

×

Sapi Asli Trenggalek Bertubuh Kecil, Dinas Akui Sapi Galekan Kalah Jika Untuk Bisnis

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Sapi Galekan yang dipelihara oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek.
Inti Berita:
• Sapi Galekan merupakan plasma nutfah asli Trenggalek yang terus dilestarikan pemerintah daerah.
• Bobot sapi Galekan dewasa rata-rata hanya 350–400 kilogram dan membutuhkan 3–4 tahun untuk mencapai 500 kilogram.
• Pertumbuhan sapi Galekan jauh lebih lambat dibanding sapi hasil persilangan seperti Limousin, Simmental, dan Brahman.

SUARA TRENGGALEK – Di tengah dominasi sapi hasil persilangan modern yang memiliki pertumbuhan cepat, keberadaan Sapi Galekan sebagai plasma nutfah asli Kabupaten Trenggalek terus dipertahankan.

Meski kalah dari sisi produktivitas, sapi lokal ini memiliki keunggulan berupa daya tahan tubuh yang kuat, termasuk saat menghadapi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Pengelola Rumah Potong Hewan (RPH) sekaligus Juru Sembelih Halal (Juleha) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, Suyitno mengatakan perbedaan paling mencolok antara Sapi Galekan dengan sapi hasil persilangan terletak pada ukuran tubuh dan kecepatan pertumbuhannya.

“Secara bisnis dan ekonomis, sapi asli Trenggalek atau Sapi Galekan memang postur tubuhnya lebih kecil dan perkembangannya lambat. Berbeda dengan sapi cross breeding seperti Limousin, Simmental, atau Brahman yang pertumbuhannya lebih cepat dan ukuran tubuhnya lebih besar,” ujar Suyitno.

Bobot Sapi Galekan

Menurutnya, rata-rata bobot Sapi Galekan dewasa berkisar antara 350 hingga 400 kilogram. Namun apabila dipelihara dalam waktu yang lebih lama, bobotnya dapat mencapai sekitar 500 kilogram.

“Kalau yang standar rata-rata antara 350 sampai 400 kilogram. Tapi kalau dipelihara lebih lama bisa mencapai 500 kilogram,” jelasnya.

Meski demikian, untuk mencapai bobot tersebut dibutuhkan waktu yang tidak singkat. Suyitno memperkirakan peternak memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat tahun untuk menghasilkan sapi Galekan berbobot 500 kilogram.

“Untuk mengarah ke 500 kilogram itu paling tidak membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat tahun,” katanya.

Ia menambahkan, budidaya Sapi Galekan membutuhkan kesabaran tinggi karena karakter genetiknya berbeda jauh dengan sapi hasil persilangan.

“Memelihara sapi Galekan memang butuh kesabaran. Secara genetika, perkembangannya jauh berbeda dengan sapi cross breeding. Dalam satu tahun sapi cross breeding bisa mencapai bobot lebih dari 200 kilogram, sedangkan sapi Galekan mungkin hanya sekitar separuhnya,” ungkapnya.

Populasi Masih Terbatas

Saat ini populasi Sapi Galekan yang dikembangkan pemerintah daerah masih tergolong sedikit. Di pusat pengembangbiakan yang berada di kawasan UPTD Pengembangan Ternak Trenggalek, jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 30 hingga 40 ekor.

“Jumlahnya kurang lebih antara 30 sampai 40 ekor,” ujar Suyitno.

Selain di pusat pengembangbiakan, ia menyebut masih terdapat peternak di sejumlah wilayah selatan Trenggalek yang memelihara Sapi Galekan secara tradisional.

“Kalau yang saya tahu untuk khusus sapi Galekan memang ada di sini, tetapi kemungkinan masih ada juga di daerah Panggul dan Munjungan,” katanya.

Tidak Ditemukan Kasus PMK

Keunggulan lain yang dimiliki Sapi Galekan adalah daya tahan tubuhnya yang cukup baik.

Saat wabah PMK melanda berbagai daerah beberapa waktu lalu, Suyitno mengaku tidak menemukan kasus PMK pada Sapi Galekan yang berada di pusat pengembangbiakan.

“Sepengetahuan saya untuk sapi Galekan alhamdulillah tidak ada yang terkena PMK,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak ada sapi yang benar-benar kebal terhadap virus. Karena itu, pengawasan lalu lintas ternak tetap diperketat, terutama di area RPH.

“Kalau ada sapi yang masuk ke RPH dan terindikasi PMK, saya hentikan dan saya suruh balik. Tidak boleh masuk,” tegasnya.

Dikembangkan Lewat Inseminasi Buatan

Dalam upaya menjaga kemurnian genetik, pengembangbiakan Sapi Galekan saat ini dilakukan melalui program inseminasi buatan atau kawin suntik.

Menurut Suyitno, semen pejantan unggul Sapi Galekan telah tersedia dan digunakan untuk mendukung pelestarian plasma nutfah asli Trenggalek tersebut.

“Biasanya menggunakan kawin suntik. Ada pejantan yang diambil semennya khusus untuk sapi Galekan. Kalau tidak salah penyediaannya dari Singosari,” pungkasnya.