Inti Berita:
• Universitas Ciputra Surabaya mulai mendampingi enam UMKM batik di Desa Ngentron melalui survei awal sebagai langkah menuju pelatihan desain dan promosi.
• Pendampingan difokuskan pada pembaruan desain, penguatan identitas batik, serta pemasaran digital agar Batik Ngentron semakin dikenal luas dan mampu berkembang bersama seluruh pelaku UMKM.
SUARA TRENGGALEK – Enam pelaku UMKM batik di Desa Ngentron, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, bakal mendapatkan pendampingan dari Universitas Ciputra Surabaya.
Pendampingan diawali dengan survei lapangan sebagai langkah awal kerja sama untuk meningkatkan kualitas desain, memperkuat identitas batik lokal, hingga memperluas promosi melalui pendekatan digital.
Dosen Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra Surabaya, Dr. Soelistyowati mengatakan potensi batik Ngentron sebenarnya sudah cukup baik. Namun, masih diperlukan penyempurnaan agar mampu mengikuti perkembangan tren pasar.
“Dalam rangka survei tempat, terus kemudian melihat potensi pembatik di sini yang ingin dikembangkan agar lebih terekspos. Karena memang di sini sebenarnya potensi batiknya sudah bagus, cuma belum tahu cara mendesain yang lebih keren,” ujarnya.
Menurut Soelistyowati, aspek yang perlu diperkuat bukan hanya motif, tetapi juga komposisi warna, tata letak motif, hingga penyesuaian dengan tren yang berkembang.
“Yang perlu dibenahi sebenarnya tata warna. Kemudian desainnya juga masih itu-itu saja, kurang mengikuti tren. Kita ingin menambah ilmu atau pengetahuan untuk mengenal tren-tren yang akan datang,” katanya.
Ia menjelaskan setiap daerah memiliki karakter batik yang berbeda sehingga identitas tersebut harus tetap dipertahankan sembari mengikuti perkembangan desain.
“Dari segi warna maupun bentuk, setiap daerah punya ciri khas masing-masing. Itu yang harus tetap dipertahankan,” jelasnya.
Generasi Z Dinilai Masih Menyukai Batik
Soelistyowati menilai anggapan bahwa anak muda enggan mengenakan batik tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, batik tetap diminati apabila dikemas mengikuti gaya generasi muda.
“Di tempat kami di Ciputra, setiap hari Rabu mahasiswa diwajibkan memakai batik. Mereka menciptakan batik dengan gayanya sendiri, mengikuti tren generasi Z,” ujarnya.
Ia menyebut generasi muda cenderung menyukai perpaduan warna yang lebih kontras serta desain yang lebih segar.
“Anak-anak sekarang senangnya warna-warna yang kontras. Kadang mereka punya ide yang bahkan di luar ekspektasi saya karena mengikuti tren yang sedang berkembang,” katanya.
Selain desain, Soelistyowati juga mendorong pelaku UMKM memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.
“Sekarang zamannya TikTok dan Instagram. Cara memasarkan itu serahkan sama anak-anak muda. Mereka lebih paham bagaimana memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan produk,” ucapnya.
Berawal dari Komunikasi Sejak Akhir 2025
Sementara itu, Ketua TP PKK Desa Ngentron, Prihatin, mengatakan kerja sama dengan Universitas Ciputra tidak berlangsung secara instan. Komunikasi telah dibangun sejak Desember 2025.
“Saya mengawali berkomunikasi dengan Ciputra pada bulan Desember 2025. Banyak kendala karena jaraknya jauh dan pihak Ciputra juga sempat ragu untuk datang ke sini,” katanya.
Menurut Prihatin, pihaknya terus meyakinkan Universitas Ciputra bahwa Desa Ngentron memiliki potensi batik yang layak dikembangkan.
“Kami mau bergerak, kami mau belajar, kami mau berkembang. Makanya saya tidak berhenti berkomunikasi sampai akhirnya beliau bersedia hadir hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan kegiatan kali ini menjadi tahap awal sebelum pelaksanaan pelatihan yang direncanakan berlangsung pada Oktober atau November 2026.
“Hari ini kita melakukan survei untuk enam UMKM batik yang nantinya akan dilatih oleh Ciputra. Hasilnya akan dipromosikan oleh mahasiswa Ciputra sebagai tugas akhir melalui fashion show,” jelasnya.
Menurut Prihatin, tujuan utama program tersebut bukan semata-mata mengejar penjualan, melainkan memperkenalkan Batik Ngentron agar semakin dikenal luas.
“Yang saya targetkan dulu adalah bagaimana Batik Ngentron bisa terkenal, bisa mendunia, bisa dikenal secara global. Tidak hanya batik Trenggalek, tetapi orang tahu bahwa pengrajinnya berasal dari Ngentron,” tuturnya.
Ia juga berharap seluruh pelaku UMKM batik di desa tersebut dapat berkembang bersama.
“Selama ini yang dikenal luas baru dua UMKM. Saya berharap enam UMKM batik ini bisa berjalan bersama, minimal bisa berkembang beriringan,” katanya.
Saat ini, sebagian besar proses produksi batik di Desa Ngentron masih dilakukan secara manual. Hanya sebagian kecil yang telah menggunakan batik printing melalui bantuan dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskomidag).











