Inti Berita:
• Universitas Ciputra Surabaya mulai mendampingi enam UMKM Batik Ngentrong melalui survei dan pelatihan desain yang akan berlanjut pada akhir tahun 2026.
• Program ini difokuskan pada peningkatan kualitas desain, penyesuaian dengan tren fesyen, serta penguatan promosi digital agar Batik Ngentrong semakin dikenal hingga pasar yang lebih luas.
SUARA TRENGGALEK – Enam pelaku UMKM batik di Desa Ngentrong, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, mulai mendapat pendampingan dari Universitas Ciputra Surabaya.
Kerja sama tersebut diawali dengan survei lapangan sebagai langkah awal pengembangan desain dan promosi batik lokal agar semakin dikenal luas.
Ketua TP PKK Desa Ngentrong, Prihatin mengatakan proses menghadirkan Universitas Ciputra ke Trenggalek tidak berlangsung singkat. Komunikasi dengan pihak kampus telah dimulai sejak Desember 2025.
Menurutnya, pada awalnya Universitas Ciputra masih ragu untuk menjalin kerja sama karena mempertimbangkan jarak, potensi desa, hingga pembiayaan internal.
“Saya terus meyakinkan bahwa kami punya potensi, mau bergerak, mau belajar, dan mau berkembang. Alhamdulillah akhirnya hari ini menjadi titik awal kerja sama yang kami lakukan,” ujar Prihatin, Sabtu (25/7/2026).
Pada tahap awal, tim Universitas Ciputra melakukan survei terhadap enam UMKM batik yang selanjutnya akan mengikuti pelatihan desain dan pengembangan produk. Pelatihan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Oktober atau November 2026.
Hasil desain yang dikembangkan bersama mahasiswa Universitas Ciputra nantinya akan ditampilkan dalam peragaan busana sebagai bagian dari tugas akhir mahasiswa, sebelum dikembalikan kepada masing-masing pelaku UMKM untuk dimanfaatkan.
“Hari ini kita melakukan survei untuk enam UMKM batik yang nantinya akan dilatih oleh Ciputra dan hasilnya akan dipromosikan oleh mahasiswa Ciputra melalui fashion show. Ini baru titik awal,” katanya.
Fokus Perkenalkan Batik Ngentrong
Prihatin menegaskan, kerja sama tersebut belum berorientasi pada peningkatan penjualan dalam waktu dekat.
Menurutnya, target utama pada program ini adalah memperkenalkan Batik Ngentrong agar semakin dikenal, tidak hanya sebagai bagian dari batik Trenggalek, tetapi juga memiliki identitas tersendiri.
“Saya tidak menargetkan pemasaran yang besar dulu. Target saya bagaimana Batik Ngentrong ini bisa dikenal secara global, sehingga orang tahu bahwa pengrajinnya berasal dari Desa Ngentron,” ujarnya.
Ia juga berharap seluruh pelaku UMKM batik di desanya dapat berkembang bersama.
Selama ini, kata dia, baru dua pelaku usaha yang sudah cukup dikenal, sedangkan empat lainnya masih membutuhkan pendampingan agar mampu tumbuh secara beriringan.
Tata Warna dan Tren Jadi Fokus Pendampingan
Sementara itu, Dosen Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra Surabaya, Dr. Soelistyowati, menjelaskan kunjungan tersebut bertujuan memetakan potensi batik lokal sekaligus melihat aspek yang masih perlu diperkuat.
Menurutnya, kualitas batik Ngentrong sudah cukup baik, namun perlu penyegaran dari sisi desain agar mampu mengikuti perkembangan tren.
“Potensi batiknya sebenarnya sudah bagus, hanya perlu pengembangan desain supaya lebih menarik dan lebih terekspos,” ujarnya.
Ia menilai beberapa aspek yang perlu dibenahi meliputi tata warna, komposisi motif, hingga penempatan ornamen agar lebih sesuai dengan tren fesyen saat ini.
“Yang perlu dibenahi sebenarnya tata warna, kemudian desainnya jangan itu-itu saja. Perlu mengikuti tren yang berkembang, termasuk penempatan motif agar tampil lebih menarik,” katanya.
Anak Muda Dinilai Jadi Kunci Promosi
Soelistyowati juga menilai batik masih diminati kalangan muda. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah pendekatan promosi yang mengikuti kebiasaan generasi muda.
Di Universitas Ciputra, mahasiswa bahkan diwajibkan mengenakan batik setiap hari Rabu sebagai upaya membiasakan penggunaan batik dalam aktivitas sehari-hari.
Ia menyarankan promosi produk batik memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram yang saat ini menjadi ruang utama generasi muda.
“Cara memasarkan sekarang serahkan kepada anak-anak muda. Mereka lebih memahami tren media sosial. TikTok dan Instagram sangat efektif untuk mengenalkan batik kepada pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, perpaduan desain yang mengikuti tren dengan promosi digital menjadi peluang besar bagi UMKM batik untuk memperluas pasar di masa mendatang.











