PERISTIWA

Berkunjung ke Trenggalek, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka Tinjau Pembangunan Bendungan Bagong

×

Berkunjung ke Trenggalek, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka Tinjau Pembangunan Bendungan Bagong

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat sampai di lokasi areal proyek pembangunan Bendungan Bagong Trenggalek.
Inti Berita:
• Wapres Gibran meninjau proyek Bendungan Bagong di Trenggalek
• Didampingi Emil Dardak dan Raffi Ahmad, disambut Bupati Trenggalek
• Kepala desa titip pesan soal percepatan bendungan dan irigasi
• Kunjungan juga serap aspirasi terkait pembangunan desa dan ketahanan pangan

SUARA TRENGGALEK – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, meninjau progres pembangunan Bendungan Bagong yang berlokasi di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Rabu (29/4/2026).

Gibran mendarat dan tiba di Trenggalek melalui Stadion Menak Sopal sekitar pukul 09.15 WIB, kemudian langsung menuju lokasi Bendungan Bagong dan tiba sekitar pukul 09.35 WIB.

Setibanya di lokasi areal proyek, ia langsung melakukan peninjauan serta mendengarkan paparan dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas terkait perkembangan proyek tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, Wapres didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak serta Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad.

Kehadiran rombongan disambut langsung oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dan Wakil Bupati Syah Muhammad Natanegara serta jajaran Forkopimda.

Selain meninjau proyek strategis nasional tersebut, Gibran juga menyempatkan berdialog dengan sekitar 20 kepala desa di Kabupaten Trenggalek.

Dalam pertemuan tersebut, para kepala desa menyampaikan sejumlah titipan aspirasi terkait pembangunan di daerah.

Ketua DPC Persatuan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Trenggalek, Puryono mengatakan pihaknya menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wapres ke Trenggalek.

“Kami perwakilan kepala desa se-Kabupaten Trenggalek menyampaikan terima kasih kepada Mas Gibran yang sudah datang ke Trenggalek. Mudah-mudahan ini membawa dampak kemajuan,” ujarnya.

Puryono menambahkan, pihaknya juga menitipkan pesan agar pemerintah pusat melakukan percepatan penyelesaian pembangunan Bendungan Bagong, termasuk pembebasan lahan, juga menjadi perhatian utama.

“Kami berharap pembangunan fisik bendungan segera diselesaikan, termasuk pembebasan lahannya. Selain itu, jaringan irigasi juga perlu segera dibangun agar program ketahanan pangan bisa dirasakan petani,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pembangunan jaringan irigasi di Bendungan Tugu agar mendukung program swasembada pangan nasional.

Kunjungan kerja Wapres di Trenggalek berlangsung singkat. Sekitar pukul 10.30 WIB, Gibran bersama rombongan meninggalkan lokasi Bendungan Bagong dan kembali menuju helipad di Stadion Menak Sopal.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.