Inti Berita:
• Wali murid temukan benda mirip telur belatung di menu MBG
• Temuan berasal dari paket SPPG Yayasan Al-Mursyid Pogalan
• Satgas MBG duga kontaminasi terjadi setelah makanan dipindah wadah
• Dapur disebut sudah sesuai SOP, namun risiko tetap ada
• Kasus ini jadi sorotan soal pengawasan dan higienitas distribusi makanan
SUARA TRENGGALEK – Temuan benda asing yang diduga telur belatung dalam paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu kekhawatiran orang tua di Kabupaten Trenggalek.
Laporan temuan tersebut datang dari wali murid PAUD yang menerima paket makanan dari SPPG Yayasan Al-Mursyid, Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan.
Seorang wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebut saja Sisi, mengaku menemukan butiran kecil menyerupai telur lalat pada menu makanan anaknya, Senin (27/4/2026). Temuan itu diketahui setelah makanan dibuka di rumah.
“Saya buka di rumah, lalu melihat butiran kecil menyerupai telur menempel di kulit ayam dan wortel,” ujarnya.
Sisi menjelaskan, sebelum dibagikan kepada siswa, makanan dipindahkan terlebih dahulu ke wadah pribadi milik anak. Hal ini yang kemudian menambah kekhawatiran, mengingat penerima program merupakan anak usia dini.
“Saya kaget karena ini jatah untuk anak PAUD. Pengelola seharusnya benar-benar menjaga kualitas dan kebersihan,” tambahnya.
Insiden ini menjadi sorotan karena SPPG Yayasan Al-Mursyid diketahui baru kembali beroperasi pada 23 April 2026 setelah sebelumnya sempat dikenai sanksi penghentian sementara. Wali murid pun mempertanyakan efektivitas pengawasan pasca evaluasi.
“Kami hanya ingin makanan yang benar-benar aman untuk anak-anak kami. Jangan sampai kejadian ini terulang,” tegas Sisi.
Menanggapi laporan tersebut, Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, langsung melakukan peninjauan ke dapur SPPG.
Berdasarkan hasil pengecekan, ia menyebut proses produksi hingga distribusi telah berjalan sesuai standar operasional.
Namun, Sunarto menduga kontaminasi kemungkinan terjadi setelah makanan keluar dari kemasan asli, yakni saat dipindahkan ke wadah lain.
“Foto yang beredar menunjukkan wadah yang bukan kemasan asli SPPG. Artinya makanan sudah berpindah tempat. Kemungkinan besar kontaminasi terjadi setelah distribusi,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, secara teknis lalat biasanya meletakkan telur dalam jumlah banyak di area terbuka. Jika kontaminasi terjadi di dapur, telur seharusnya tercampur atau berada di bagian bawah makanan.
“Kalau berasal dari dapur, telur akan tercampur di bagian bawah. Namun di foto justru terlihat di bagian atas. Ini mengarah pada kontaminasi lingkungan setelah makanan diterima,” urainya.
Meski demikian, Sunarto mengingatkan bahwa potensi kontaminasi tetap bisa terjadi di berbagai tahap, sehingga diperlukan kewaspadaan dari semua pihak, termasuk orang tua.
“Lalat bisa bertelur 75 sampai 100 butir sekaligus dalam waktu singkat. Kita harus waspada, baik petugas dapur maupun orang tua saat menyajikan makanan di rumah,” tegasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga distribusi hingga penyajian di tingkat penerima.











