Inti Berita:
• Kabupaten Trenggalek akan berpartisipasi dalam event pariwisata dunia di Korea Selatan pada September-Oktober 2026.
• Budaya Ponorogo dan Tari Turonggo Yakso direncanakan menjadi tarian pembuka acara.
• Trenggalek mendapat kesempatan mempromosikan pariwisatanya selama satu bulan penuh di Korea Selatan.
SUARA TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek mendapat kesempatan untuk tampil dalam ajang pariwisata dunia yang akan digelar di Korea Selatan pada September dan Oktober 2026.
Dalam perhelatan tersebut, kesenian khas Mataraman seperti Turonggo Yakso dan budaya Ponorogo dijadwalkan menjadi bagian dari rangkaian acara internasional yang dihadiri peserta dari lebih dari 200 negara.
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mengatakan keterlibatan Trenggalek dalam agenda tersebut merupakan hasil dari hubungan bilateral yang terjalin antara Indonesia dan Korea Selatan.
Menurutnya, Kabupaten Trenggalek bersama wilayah Mataraman diusulkan untuk berpartisipasi dalam event pariwisata dunia yang tahun ini diselenggarakan di Korea Selatan.
“Kabupaten Trenggalek pada bulan September dan Oktober nanti akan menghadiri salah satu event pariwisata dunia yang kebetulan tuan rumahnya adalah Korea Selatan,” ujar Novita.
Turonggo Yakso dan Budaya Ponorogo Jadi Tarian Pembuka
Novita menjelaskan, pihaknya mengusulkan kesenian khas Mataraman untuk tampil dalam acara tersebut. Budaya Ponorogo dan Tari Turonggo Yakso dipilih untuk menjadi bagian dari pembukaan kegiatan internasional itu.
“Saya mengambil tema kebudayaan Ponorogo dan juga Jaranan Turonggo Yakso untuk menjadi tarian pembuka ketika event tersebut dilaksanakan pada bulan September,” katanya.
Keterlibatan seni budaya daerah dalam ajang internasional tersebut diharapkan menjadi sarana promosi budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Jawa Timur kepada masyarakat dunia.
Promosi Pariwisata Trenggalek Selama Satu Bulan
Selain menampilkan kesenian daerah, Trenggalek juga mendapat kesempatan untuk mempromosikan sektor pariwisatanya selama satu bulan penuh di Korea Selatan.
Kesempatan tersebut dinilai menjadi ruang strategis untuk mengenalkan destinasi wisata, budaya, dan potensi ekonomi kreatif Kabupaten Trenggalek kepada pasar internasional.
“Kabupaten Trenggalek juga mendapatkan kehormatan untuk bisa mempromosikan pariwisatanya selama satu bulan penuh di Korea Selatan,” ujar Novita.
Ia berharap momentum tersebut dapat menjadi kebanggaan bagi masyarakat Trenggalek, khususnya para pelaku seni dan budaya yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut.
Tanpa Membebani APBD dan APBN
Novita menegaskan, keikutsertaan Trenggalek dalam event internasional tersebut tidak menggunakan anggaran pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Menurutnya, seluruh dukungan keberangkatan merupakan hasil dari hubungan bilateral yang telah terbangun sehingga tidak membebani APBD maupun APBN.
“Anak-anak dari Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo bisa kami berangkatkan untuk menari dan menampilkan kreasinya di Korea Selatan tanpa APBD dan tanpa APBN. Ini murni dari hubungan bilateral yang terjadi,” jelasnya.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi sektor ekonomi kreatif, Novita menilai kesempatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas promosi budaya dan potensi daerah di tingkat internasional.
“Ini menjadi satu pencapaian bagi Kabupaten Trenggalek karena kita bisa memberangkatkan budaya Turonggo Yakso dan Ponorogo ke Korea Selatan tanpa membebani APBN maupun APBD,” pungkasnya.











