BUDAYA

Tradisi Jamasan Pusaka di Trenggalek, Abdi Dalem Keraton Rawat Keris hingga Manuskrip Kuno

×

Tradisi Jamasan Pusaka di Trenggalek, Abdi Dalem Keraton Rawat Keris hingga Manuskrip Kuno

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
MB Dwijaharmaji saat melakukan jamasan pusaka pribadi di rumahnya di Kecamatan Pogalan.
Inti Berita:
• MB Dwijaharmaji melestarikan tradisi jamasan pusaka di Trenggalek dengan merawat keris, tombak, hingga manuskrip kuno setiap bulan Muharam.
• Sebagai Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ia mengikuti pakem keraton dalam menentukan waktu pelaksanaan.
• Selain menjaga warisan sejarah, prosesi tersebut juga mengedepankan nilai ekologis melalui penggunaan bahan-bahan alami dan pemanfaatan kembali air bekas jamasan untuk menyiram tanaman.

SUARA TRENGGALEK – Tradisi jamasan pusaka masih terus dilestarikan di Kabupaten Trenggalek sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Tidak hanya membersihkan keris dan tombak, prosesi tersebut juga dilakukan untuk merawat manuskrip kuno agar tetap lestari dan terjaga kondisinya.

Tradisi itu dilakukan oleh MB Dwijaharmaji, warga RT 21 RW 11 Desa/Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Di kediamannya, ia menjamas sejumlah pusaka dan manuskrip kuno milik pribadi sebagai bagian dari upaya pelestarian benda-benda bernilai sejarah.

“Saya menjamas beberapa pusaka-pusaka, di antaranya adalah pusaka keris, kemudian pusaka tombak. Terus ada beberapa pusaka yang saya anggap luar biasa itu adalah manuskrip-manuskrip itu,” ujar Dwijaharmaji saat ditemui di kediamannya, Rabu malam (8/7/2026).

Dwijaharmaji menjelaskan, jamasan tidak hanya diperuntukkan bagi senjata tradisional.

Menurutnya, tradisi tersebut juga dapat diterapkan pada berbagai benda bersejarah lain, termasuk manuskrip kuno, kereta, hingga vegetasi tertentu sesuai pakem yang dianut.

Pria yang bersama istrinya merupakan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu mengatakan, inti dari tradisi jamasan adalah menjaga dan merawat peninggalan sejarah agar tetap lestari.

“Sebab, kita tahu pusaka-pusaka tersebut, baik keris atau tombak, itu dahulu pernah dipergunakan untuk berjuang melawan penjajah. Kita yang berada dalam alam padang harus bisa bersyukur,” katanya.

Menurutnya, rasa syukur tersebut diwujudkan melalui perawatan terhadap benda-benda peninggalan leluhur.

“Cara bersyukurnya yaitu dengan menjamas pusaka ini, merawatnya, karena ini adalah tinggalan dari para eyang buyut kita,” jelasnya.

Menunggu Jamasan Keraton Yogyakarta

Berbeda dengan sebagian besar pencinta pusaka yang melaksanakan jamasan pada awal bulan Suro atau Muharam, Dwijaharmaji memilih waktu tersendiri karena mengikuti tata adat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ia selalu menunggu prosesi jamasan pusaka di lingkungan keraton selesai lebih dahulu sebelum melaksanakan jamasan terhadap koleksi pribadinya.

Menurut pakem keraton, jamasan dilaksanakan pada Selasa Kliwon di bulan Muharam atau Jumat Kliwon apabila tidak terdapat Selasa Kliwon.

“Karena posisi saya pribadi itu adalah di luar Keraton Ngayogyakarta, maka saya menjamas pusaka itu setelah pusaka keraton dijamasi. Hal ini terkait dengan tata rerakiting wewaangunannya atau kesopanan,” ungkapnya.

Gunakan Air Kembang Setaman dan Tatal Kayu

Dalam prosesi jamasan, Dwijaharmaji menggunakan air murni yang dicampur kembang setaman sebagai media utama pembersihan.

Air bunga tersebut dimasukkan ke dalam kendi kecil, kemudian disiramkan perlahan ke bilah keris maupun tombak. Setelah dibersihkan menggunakan jeruk nipis, pusaka dikeringkan memakai tatal atau serbuk kayu bekas gergajian.

Ia menilai cara tersebut juga mengandung nilai pelestarian lingkungan.

“Nilai ekologisnya adalah kita kembali kepada lingkungan juga. Jadi, kita tidak memakai bulu-bulu yang berlogam atau mungkin dari peralatan yang mengandung logam,” paparnya.

Air bekas siraman pusaka pun tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman di sekitar pekarangan.

Selain itu, penggunaan tatal kayu dinilai lebih aman bagi bilah pusaka sekaligus ramah lingkungan.

“Sehingga aspek memayu hayuning bawana, yaitu menghias atau memperindah alam, itu bisa dilaksanakan dengan cara hal seperti itu,” tuturnya.

Manuskrip Kuno Dibersihkan Menggunakan Kuas

Tak hanya keris dan tombak, Dwijaharmaji juga merawat sejumlah manuskrip kuno miliknya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sebelum prosesi dimulai ia terlebih dahulu memanjatkan doa selama sekitar lima hingga sepuluh menit.

Seluruh pusaka dan manuskrip ditata berjajar di ruang tamu, sedangkan proses jamasan dilakukan di teras rumah.

Untuk manuskrip kuno, proses perawatannya dilakukan secara berbeda. Naskah dibersihkan menggunakan kuas kecil secara perlahan, mulai dari sampul hingga beberapa lembar halaman secara acak.

Setelah dibersihkan, manuskrip diangin-anginkan di ruang tamu dan didiamkan pada suhu ruangan selama semalam sebelum kembali disimpan.

Tradisi jamasan tersebut rutin dilaksanakan Dwijaharmaji setiap tahun pada bulan Muharam setelah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyelesaikan prosesi jamasan pusaka internalnya.