Inti Berita:
• Sebanyak 15 keris peninggalan era Mataram dan Madiun dijamas di Griya Joglo Mbah Kowor, Desa Karangan.
• Jamasan digelar sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.
• Selain membersihkan pusaka secara fisik, kegiatan juga diisi sarasehan untuk mengenalkan filosofi keris kepada masyarakat.
SUARA TRENGGALEK – Sebanyak 15 pusaka berupa keris dijamas dalam tradisi pelestarian budaya yang digelar di Griya Joglo Mbah Kowor, Dusun Jayan, Desa Karangan, Kabupaten Trenggalek, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Kepala Desa Karangan bersama Paguyuban Pelestari Budaya Tosan Aji Panji Patrem itu menjadi momentum merawat sekaligus mengingat kembali nilai filosofis warisan leluhur.
Prosesi jamasan dilakukan secara perlahan terhadap belasan bilah keris yang sebagian besar merupakan peninggalan era Kerajaan Mataram dan Madiun.
Beberapa di antaranya diperkirakan telah berusia hampir 300 tahun, termasuk keris tangguh era Pakubuwono (PB) Sepuh dan Amangkurat II.
Kepala Desa Karangan, Tri Rohadi atau yang akrab disapa Mbah Lurah Kowor, mengatakan tradisi jamasan bukan sekadar ritual merawat pusaka, melainkan bentuk penghormatan terhadap peninggalan leluhur yang sarat nilai sejarah dan filosofi.
“Prosesi ini untuk mengingat leluhur, bahwa keris itu memiliki filosofi. Keris juga merupakan simbol peradaban, yang bisa kita lihat dari guratan pamornya,” ujar Tri Rohadi.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan hal-hal mistis. Menurutnya, jamasan perdana yang digelar di kediamannya mendapat sambutan positif dari masyarakat.
“Ini masih perdana di sini. Alhamdulillah, teman-teman dari Paguyuban Panji Patrem sangat membantu. Antusiasme warga dan anggota paguyuban juga luar biasa, saling mendukung untuk mengingatkan pada hal-hal yang baik,” katanya.
Jamasan Tak Hanya Membersihkan Pusaka
Ketua Panji Patrem Trenggalek, Mamba Udin Syafi’i, menjelaskan rangkaian kegiatan tidak berhenti pada proses pembersihan fisik keris.
Setelah jamasan, panitia juga menggelar sarasehan sebagai ruang edukasi mengenai nilai sejarah dan budaya pusaka.
“Hari ini alhamdulillah telah selesai acara jamasan yang digelar oleh Mbah Lurah Tri Rohadi bersama kami dari Paguyuban Panji Patrem Trenggalek. Kami juga menggelar sarasehan tentang pusaka, khusus untuk masyarakat Desa Karangan serta umum,” terangnya.
Ia menyebut sementara terdapat sekitar 15 bilah pusaka yang dijamas. Namun masyarakat masih diberi kesempatan untuk menitipkan pusaka karena proses jamasan berlanjut di Balangbulan.
“Untuk sementara ini pusaka yang dijamas ada sekitar 15 bilah. Namun, jika nanti ada masyarakat yang menyusul, pusakanya bisa dititipkan di kediaman Mbah Lurah ini karena proses jamasan masih berlanjut di Balangbulan,” ujarnya.
Bulan Suro Jadi Momentum Introspeksi
Mamba menjelaskan pelaksanaan jamasan pada 10 Suro bukan merupakan aturan baku. Waktu pelaksanaan menyesuaikan tradisi yang berkembang di masing-masing daerah maupun keluarga.
“Sebenarnya pakem waktu tergantung dari tradisi daerah ataupun keluarga masing-masing. Ada yang mengambil momen malam 1 Suro, ada yang tepat 10 Suro seperti ini, atau bahkan dilaksanakan kapan saja di dalam bulan Suro,” jelasnya.
Menurutnya, jamasan memiliki dua makna sekaligus, yakni menjaga kondisi fisik pusaka agar tidak rusak sekaligus menjadi simbol pembersihan diri.
“Secara fisik, fungsi jamasan memang untuk merawat benda dari karat dan kerusakan materi. Namun, dari sisi budaya dan filosofi, ini adalah proses pembersihan diri,” katanya.
Ia menambahkan, Bulan Suro menjadi momentum refleksi diri untuk menyambut tahun baru Jawa dengan harapan kehidupan yang lebih baik.
“Keris dan pusaka lain memiliki nilai sejarah serta pesan luhur. Itulah yang kita gali dan kembangkan kembali, sebagai ungkapan syukur atas warisan berharga dari para pendahulu,” tegasnya.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memanjatkan doa dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat agar terus menjaga warisan budaya yang dimiliki.











