BUDAYA

FJTT Ke-30, Sesepuh Jaranan Trenggalek Dorong Regenerasi dan Inovasi Tanpa Gesekan

×

FJTT Ke-30, Sesepuh Jaranan Trenggalek Dorong Regenerasi dan Inovasi Tanpa Gesekan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pagelaran Festival Jaranan Trenggalek Terbuka.
Inti Berita:
• Memasuki FJTT ke-30, sesepuh sekaligus perintis festival, Sutiono, melihat regenerasi sebagai modal penting keberlanjutan jaranan Trenggalek.
• Ia mendorong generasi muda terus mencari terobosan dengan tetap mengikuti aturan dan menghindari gesekan antarkelompok.
• Di sisi lain, ia menilai meningkatnya keberanian anak muda menunjukkan bahwa jaranan semakin melekat pada generasi penerus, meski tetap perlu diberi wadah dan arahan.

SUARA TRENGGALEK – Memasuki penyelenggaraan ke-30 Festival Jaranan Trenggalek (FJTT), regenerasi menjadi salah satu modal penting untuk menjaga keberlangsungan kesenian jaranan di Kabupaten Trenggalek.

Sesepuh sekaligus perintis Festival Jaranan Trenggalek, Sutiono, mengaku bangga melihat semangat generasi muda yang kini terus menunjukkan ketertarikan terhadap kesenian jaranan.

“Saya sangat bangga punya generasi penerus seperti adik-adik sekarang yang punya niatan cukup hebat bagaimana ke depannya lebih baik,” ujar Sutiono.

Ia mengatakan, dirinya ikut mendirikan lomba jaranan pada 1996. Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi Festival Jaranan Trenggalek yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-30.

“Karena saya termasuk tahun ’96 itu ikut mendirikan lomba jaranan yang sekarang jadi festival jaranan yang ke-30 untuk tahun ini. Saya sangat senang sekali. Karena apa? Semangatnya cukup tinggi,” katanya.

Pengalaman Generasi Lama Jadi Bekal

Menurut Sutiono, pengalaman para pelaku jaranan generasi sebelumnya seharusnya tidak menjadi penghambat bagi generasi penerus dalam mengembangkan kegiatan kesenian.

Sebaliknya, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk mencari berbagai terobosan agar perkembangan jaranan tetap berjalan tanpa menimbulkan gesekan antarkelompok.

“Tetapi saya sampaikan pengalaman yang saya miliki monggo jangan menjadikan kendala mereka, semangat mereka untuk mengembangkan kegiatan ini tapi malah memacu semangat mereka mencari terobosan-terobosan yang sehingga memperlancar kegiatan adik-adik tanpa harus bersinggungan, bergesekan dengan kelompok-kelompok lain yang akhirnya menjadikan hambatan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar pengembangan kesenian tetap mengikuti aturan yang berlaku.

“Yang penting aturan pemerintah juga harus tetap diikuti. Cita-cita untuk mengembangkan kegiatan berkesenian, berbudaya itu bisa jalan dengan lancar,” ujarnya.

Anak Muda Mulai Bangga dengan Jaranan

Sutiono melihat perkembangan positif dari sisi regenerasi. Menurutnya, anak-anak sekolah kini semakin berani menunjukkan kecintaan terhadap jaranan tanpa merasa malu.

“Dari sisi semangat adik-adik saya bangga. Anak-anak sekolah tingkat sekolah membawa jaranan sambil pakai pakaian jaranan, naik sport motor ke sana, membawa barongan, tidak ada rasa malu dan saya bangga,” katanya.

Menurut Sutiono, kondisi tersebut menunjukkan bahwa jaranan mulai melekat dalam diri generasi muda. Namun, semangat tersebut tetap membutuhkan ruang dan arahan agar berkembang secara positif.

“Berarti itu jaranan sudah melekat pada jiwa adik-adik kita. Hanya saja itu perlu kita wadahi, perlu kita arahkan,” terangnya.

Ia menyebut sejumlah generasi muda yang kini aktif dalam jaranan juga pernah mendapat pembinaan dari dirinya.

“Karena saya membina jaranan cukup lama dan alhamdulillah itu adik-adik yang sekarang punya semangat tinggi itu juga dari binaan saya, Mas Jaya, itu juga Mas Bokir, itu saya juga ikut membina adik-adik yang sekarang semangatnya cukup tinggi, punya talenta di bidang seni yang cukup bagus,” ujarnya.

Soal Stigma Kesurupan dalam Jaranan

Sutiono juga menanggapi stigma negatif yang kerap melekat pada kesenian jaranan, terutama karena adanya unsur kesurupan dalam pertunjukan.

Menurutnya, unsur tersebut telah menjadi bagian yang melekat dalam jaranan dan tidak perlu dipandang semata-mata dari sisi negatif.

“Sebenarnya kesurupannya itu tidak ada masalah, Mas. Memang sudah gandengannya dengan itu,” katanya.

Ia mengatakan unsur tersebut bahkan telah menjadi objek kajian mahasiswa maupun dosen dalam penelitian akademis.

“Ini sudah dipelajari oleh para mahasiswa bahkan untuk disertasi mereka dipelajari sebenarnya apa toh? Apakah ada hal negatif? Enggak, itu positif semua,” jelas Sutiono.

Ia menilai unsur tersebut merupakan bagian dari jaranan yang sudah berjalan berdampingan dengan kesenian tersebut.

“Dan bagus itu semua. Iya, satu paket dengan itu,” ujarnya.

Sutiono menegaskan, keberadaan unsur tersebut bukan berarti masyarakat harus mempercayai hal-hal gaib. Menurutnya, masyarakat tetap dapat menyikapinya dalam konteks yang positif.

“Dan bukan kita itu apa, mempercayai hal-hal yang gaib, tidak. Nah, itu kan ciptaan Tuhan juga, ciptaan Allah. Dan itu ada,” katanya.

Ia menambahkan, unsur yang tidak kasatmata tersebut dapat disikapi secara berdampingan selama tetap berada dalam konteks yang positif.

“Hanya kita kan punya hak toh, misalnya bisa kita ajak kerja bareng, ya kerja bareng selagi kerja yang positif, walaupun tidak bisa kasat mata,” pungkasnya.