BUDAYA

Siap-Siap! Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Bakal Dihelat Pada 20-26 September

×

Siap-Siap! Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 Bakal Dihelat Pada 20-26 September

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kegiatan festival jaranan Trenggalek terbuka tahun lalu.
Inti Berita:
• FJTT 2026 memasuki penyelenggaraan ke-30 dengan capaian baru setelah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).
• Festival dijadwalkan berlangsung 20-26 September 2026 dengan berbagai kategori lomba jaranan.
• Selain kompetisi, panitia juga memperkuat riset melalui Samboja dan mendorong regenerasi agar jaranan tetap menjadi bagian kuat dari identitas budaya Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 memasuki babak baru. Kegiatan yang diawali dengan Samboja tersebut bakal digelar selama selama 7 hari pada bulan september.

Festival yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-30 tersebut resmi masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), sekaligus menjadi momentum memperkuat identitas jaranan sebagai bagian dari budaya Trenggalek.

Koordinator FJTT, Resa Jaya, mengatakan persiapan penyelenggaraan saat ini telah mencapai sekitar 45 persen.

Panitia masih menyelesaikan petunjuk teknis dan musik sebelum membuka pendaftaran peserta pada Agustus 2026.

“Kalau berapa persen sekarang sudah 45 persen,” kata Resa.

Sebelum memasuki agenda utama, panitia lebih dahulu menggelar Sambang Bolo Jaranan (Samboja).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi panitia untuk bertemu langsung dengan komunitas jaranan di sejumlah wilayah sekaligus menggali cerita dan pengetahuan dari para pelaku kesenian.

Samboja 2026 menyambangi Watulimo, Pogalan, Pule, Bendungan, Kampak, Gandusari, dan Tugu.

Menurut Resa, Samboja tidak hanya menjadi agenda pemanasan menjelang festival.

Panitia juga mengumpulkan berbagai informasi mengenai ekosistem jaranan, mulai dari cerita komunitas, artefak hingga sosok sesepuh yang memiliki peran dalam perjalanan kesenian jaranan di Trenggalek.

“Lalu untuk hasil dari Samboja kemarin tahun 2026 ini lebih asik lagi karena kami sangat banyak diskusi dari keluh kesah teman jaranan, lalu bagaimana ekosistem jaranan di daerah, kami di situ kulik semua dan mendapatkan informasi banyak dari teman bolo jaranan ini bahwa di sini ada artefak yang ini, ada sesepuh yang kami kumpulkan harapannya membuat suatu draft dan menambah riset kami,” ujarnya.

FJTT 2026 Digelar Tujuh Hari

FJTT 2026 dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari, mulai 20 hingga 26 September 2026. Seluruh rangkaian kegiatan akan digelar pada malam hari.

Pada 20 September, festival dibuka dengan agenda pembukaan sekaligus lomba Turonggo Yakso kategori bocah.

Kemudian pada 21 September digelar lomba jaranan kategori bocah dan remaja. Kompetisi kategori remaja berlanjut pada 22 September.

Sementara pada 23 hingga 25 September, kompetisi memasuki kategori umum yang mempertemukan jaranan Turangga Yaksa dan non-Turangga Yaksa.

Rangkaian FJTT 2026 ditutup pada 26 September melalui penyerahan penghargaan sekaligus pengumuman hasil lomba.

Resa mengatakan format rangkaian kegiatan secara umum masih dipertahankan seperti tahun sebelumnya. Namun, FJTT tahun ini ingin membawa pembahasan lebih jauh mengenai identitas jaranan Trenggalek.

“Yang membedakan lagi nanti di tahun ini bagaimana identitas Trenggalek dan jaranannya. Jadi di Trenggalek sendiri kami melihat spektrum komunitas jaranan ini nanti golnya bagaimana membikin episentrum,” jelasnya.

FJTT Masuk Karisma Event Nusantara

Masuknya FJTT dalam Karisma Event Nusantara menjadi salah satu capaian penting pada penyelenggaraan tahun ini.

Resa menyebut FJTT kini berada dalam ruang yang sama dengan sejumlah festival budaya lainnya di Jawa Timur.

“Untuk membedakan di tahun ini kami lebih sedikit spesial, alhamdulillah saat ini sudah masuk di Karisma Event Nusantara di tahun ini sudah terwujud, dan dari teman-teman satu suara dan satu semangat, kami sudah bersatu ruang dengan Festival Reyog, Rontek Pacitan, kami posisinya sudah di situ,” ujarnya.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi kesempatan untuk semakin memperkuat posisi jaranan Trenggalek sekaligus memperkenalkan identitas kesenian tersebut melalui festival.

Regenerasi Jaranan Jadi Perhatian

Perjalanan FJTT selama tiga dekade juga menjadi perhatian para pelaku dan sesepuh jaranan Trenggalek. Salah satunya Sutiono, sesepuh sekaligus perintis Festival Jaranan Trenggalek.

Sutiono mengatakan dirinya ikut mendirikan lomba jaranan pada 1996. Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi festival yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-30.

“Saya sangat bangga punya generasi penerus seperti adik-adik sekarang yang punya niatan cukup hebat, bagaimana ke depannya lebih baik, karena saya termasuk di tahun 1996 ikut mendirikan lomba jaranan yang sekarang jadi festival jaranan yang ke-30 tahun ini,” kata Sutiono.

Menurutnya, pengalaman generasi sebelumnya seharusnya menjadi bekal bagi pengelola festival saat ini, bukan menjadi penghambat untuk berinovasi.

Ia berharap generasi penerus tetap memiliki ruang untuk mencari terobosan, dengan tetap memperhatikan aturan yang berlaku agar pengembangan kesenian tidak menimbulkan gesekan antarkelompok.

“Tetapi tetap saya sampaikan pengalaman yang saya miliki monggo jangan menjadi kendala semangat mereka untuk mengembangkan kegiatan ini, malah memacu semangat mereka untuk mencari terobosan dan memperlancar kegiatan adik-adik tanpa harus bersinggungan dan bergesekan kelompok lain dan akhirnya menjadi hambatan. Yang terpenting aturan pemerintah tetap diikuti, cita-cita mengembangkan kegiatan kesenian berkebudayaan ini bisa lancar,” ujarnya.

Sutiono juga melihat regenerasi jaranan mulai menunjukkan perkembangan. Menurutnya, anak-anak muda semakin terbuka menunjukkan ketertarikan terhadap kesenian tersebut.

“Dari sisi semangat bangga, saat ini anak sekolah bawa jaranan sambil pakaian jaranan naik sepeda motor bawa barongan tidak ada rasa malu, dan saya bangga berarti jaranan sudah melekat pada jiwa adik-adik, hanya saja perlu kami wadahi dan diarahkan,” katanya.

Menurut Sutiono, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan jaranan di Trenggalek.

Festival, kata dia, tidak hanya menjadi arena perlombaan, tetapi juga ruang mempertemukan generasi lama dengan generasi yang sedang tumbuh.

FJTT 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan tiga dekade perjalanan festival.

Masuknya FJTT dalam KEN menjadi kesempatan untuk memperluas ruang jaranan Trenggalek sekaligus memperkuat identitas kesenian tersebut di tengah generasi muda.