Inti Berita:
• Paguyuban Persatuan dan Kesatuan Nasional Kebatinan Sejati Kaweruh Jowo Dipo di Trenggalek terus berkembang dengan berbagai kegiatan rutin, mulai pertemuan malam Jumat Kliwon, peringatan Bulan Suro, hingga ruwatan menjelang Hari Kemerdekaan.
• Penghayatnya telah tersebar di seluruh kecamatan di Trenggalek dan mengaku mendapat dukungan dari pemerintah daerah.
• Ajaran Jowo Dipo sendiri menitikberatkan pada pembinaan spiritual agar setiap penganut senantiasa mengingat Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari.
SUARA TRENGGALEK – Penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) yang tergabung dalam Persatuan dan Kesatuan Nasional Kebatinan Sejati Kaweruh Jowo Dipo terus berkembang di Kabupaten Trenggalek.
Paguyuban yang berpusat di Dusun Payaman, Desa Durenan, Kecamatan Durenan itu mengaku aktivitas keagamaan dan kebudayaannya berjalan aktif dengan dukungan pemerintah daerah.
Tokoh utama sekaligus pendiri ajaran Kaweruh Jowo Dipo adalah Ki Mangoen Taroeno yang wafat pada 1931. Penyebaran ajarannya kemudian dilanjutkan oleh Djojo Imam Soepingi dan K. Sajekti. Saat ini, paguyuban di Trenggalek dipimpin oleh Sugito Wijoyokusumo.
Sugito Wijoyokusumo mengatakan perkembangan Kaweruh Jowo Dipo di Kabupaten Trenggalek berjalan tanpa hambatan berarti.
“Kawruh Jawadipa di Trenggalek itu selalu lancar, selalu berkembang tanpa terkendala,” ujar Sugito Wijoyokusumo saat ditemui di kediamannya, Minggu (5/7/2026).
Pria yang akrab disapa Mbah Gito itu menjelaskan, salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah pertemuan warga setiap malam Jumat Kliwon.
Dalam pertemuan tersebut, para penghayat saling berdiskusi dan bertukar pengetahuan mengenai ajaran Kaweruh Jowo Dipo.
“Soalnya itu urusannya cuma termasuk temu warga, berbicara saling mengisi antara para sesepuh pada menceritakan apa mengetahuinya. Ya cuma seperti itu bab urusan pengetahuan,” jelasnya.
Menurut Mbah Gito, jumlah peserta yang hadir dalam pertemuan rutin tidak menentu. Namun, umumnya diikuti puluhan hingga sekitar seratus orang.
“Kalau malam Jumat Kliwon ini yang hadir tidak bisa ditentukan berapa begitu, tidak bisa. Jadi ya pokoknya sekitar paling sedikit ya 50, ada yang 30, pokoknya seperti lebih. Ya sampai ke 100 kadang-kadang seperti itu,” bebernya.
Bulan Suro Diperingati sebagai Hari Lahir Kaweruh Jowo Dipo
Selain pertemuan rutin, paguyuban juga memperingati sejumlah momentum penting seperti Hari Lahir Pancasila, Bulan Suro, dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi penganut Jowo Dipo, Bulan Suro memiliki makna khusus karena diperingati sebagai tahun baru Jawa sekaligus hari lahir Kaweruh Jowo Dipo.
“Kalau Suro itu ditentukan tanggal 12 Suro. Itu turunnya wahyu ketika Kanjeng Eyang Ki Ageng Mangun Taruno menerima ilham dari Gusti Allah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, peringatan Suro biasanya diisi dengan pagelaran wayang kulit yang turut mengundang unsur pemerintah daerah, termasuk Bupati Trenggalek dan sejumlah instansi lainnya.
Sementara itu, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI, paguyuban telah menyiapkan tradisi ruwatan yang akan digelar pada malam 17 Agustus.
Dalam kegiatan tersebut, warga menyiapkan puluhan nasi tumpeng dan ayam lodho sebagai bagian dari selamatan adat.
“Itu seperti cara ayam lodho, nasi itu, sampai ada 70 tumpeng. Pokoknya seperti 45 tumpeng pasti ada. Nah, kegiatannya kegiatan ruwatan,” paparnya.
Menurut Mbah Gito, ritual ruwatan bertujuan meruwat sukerta atau membuang kedukaan negara sekaligus mendoakan para leluhur, pahlawan, dan nenek moyang yang telah berjasa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Penganut Tersebar di 14 Kecamatan
Mbah Gito mengungkapkan, penganut Kaweruh Jowo Dipo telah tersebar di seluruh 14 kecamatan di Kabupaten Trenggalek.
Meski tidak memiliki sistem pendataan anggota secara administratif, hubungan antarwarga terjalin kuat melalui ikatan emosional.
Penganut Jowo Dipo berada di berbagai wilayah, mulai Kecamatan Panggul, Munjungan, Bendungan hingga wilayah lainnya.
Menurutnya, jumlah penganut cukup banyak di Kecamatan Gandusari dan Kampak, sementara di Kecamatan Durenan sebagai pusat paguyuban jumlahnya juga relatif besar.
“Namun kalau warganya itu semua sudah semangat dalam pribadi. Ya sebagian sedikit sekali yang semangat tentang organisasi. Begitu lho,” imbuhnya.
Apresiasi Dukungan Pemerintah Daerah
Mbah Gito juga mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Trenggalek terhadap keberadaan penghayat kepercayaan Jowo Dipo.
Menurutnya, dukungan diberikan melalui kehadiran pejabat pemerintah dalam sejumlah kegiatan serta bantuan anggaran yang disalurkan melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol).
“Kalau dukungan masalah keuangan ini itu malah ditentukan dua tahun sekali dari Kesbangpol begitu. Namun kalau yang dahulu-dahulu itu ya misalnya seperti bupati hadir, tetap ada dukungan,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Mbah Gito menegaskan ajaran Kaweruh Jowo Dipo tidak mengajarkan paksaan kepada para pengikutnya.
Nilai utama yang ditekankan adalah membangun kesadaran spiritual untuk senantiasa mengingat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang ditekankan ya cuma harus dirinya sendiri itu selalu belajar membiasakan melihat, selalu belajar membiasakan ingat. Selama hidup itu selalu melihat ingat kepada Tuhannya, selalu melihat, selalu ingat kepada Gusti Allah,” pungkasnya.











