Inti Berita:
• FASI Trenggalek membuka rekrutmen gratis bagi pelajar usia 15–20 tahun untuk menyiapkan atlet paralayang menghadapi Kejurprov Jatim 2027.
• Regenerasi menjadi kebutuhan mendesak karena saat ini hanya dua atlet yang masih memenuhi syarat usia bertanding.
• Dukungan diklat gratis dari Pengprov FASI Jatim diharapkan mampu melahirkan penerus yang dapat mempertahankan prestasi aerosport Trenggalek di tingkat provinsi maupun nasional.
SUARA TRENGGALEK – Pengurus Cabang (Pengcab) Federasi Aerosport Indonesia (FASI) Kabupaten Trenggalek membuka rekrutmen atlet paralayang baru secara gratis sebagai langkah regenerasi menghadapi Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jawa Timur 2027.
Rekrutmen ini menyasar pelajar asli Kabupaten Trenggalek berusia 15 hingga 20 tahun. Langkah tersebut dilakukan karena sebagian besar atlet yang dimiliki saat ini telah melewati batas usia untuk mengikuti kejuaraan kelompok umur.
Pembina Pengkab FASI Trenggalek, Muhammad Azmi, mengatakan saat ini hanya dua atlet yang masih memenuhi syarat usia untuk berlaga di Kejurprov Jatim 2027.
“Atlet yang ada di Trenggalek sekarang tinggal dua anak yang umurnya masuk dalam kategori untuk ikut Kejurprov, yaitu Satria dan Zulfa. Makanya kita bidik atlet baru dari sekarang,” kata Azmi, Jumat (3/7/2026).
Regenerasi Atlet Dimulai Sejak Awal 2026
Azmi menjelaskan proses pencarian bibit atlet sebenarnya telah dimulai sejak awal 2026. Hal itu dilakukan karena mencetak atlet paralayang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Menurutnya, FASI Trenggalek tengah menghadapi tantangan regenerasi atlet sehingga persiapan harus dilakukan jauh sebelum pelaksanaan Kejurprov.
“Untuk rekrutmen menyangkut kejuaraan tahun 2027 nanti, yang jelas kami sudah membidik untuk mencari atlet itu sejak awal 2026,” ujarnya.
Idealnya, kata Azmi, Trenggalek membutuhkan sedikitnya enam atlet, terdiri dari tiga putra dan tiga putri agar dapat mengikuti seluruh nomor pertandingan, mulai kategori akurasi, eksibisi, beregu putra hingga beregu putri.
Namun, keterbatasan anggaran dari KONI Trenggalek membuat target tersebut harus disesuaikan.
“Karena anggaran dari KONI Trenggalek terbatas, kemungkinan kami targetkan bisa memberangkatkan minimal dua putra dan dua putri untuk dilombakan di Kejurprov,” tambahnya.
Diklat Gratis Didukung Pengprov FASI Jatim
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, FASI Trenggalek mendapat dukungan dari Pengurus Provinsi (Pengprov) FASI Jawa Timur.
Bantuan tersebut digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) paralayang bagi calon atlet baru secara gratis.
Seluruh kebutuhan pelatihan, mulai instruktur, peralatan, biaya pendidikan hingga kuota terbang ditanggung dalam program tersebut.
Meski demikian, Azmi mengakui mencari atlet paralayang bukan perkara mudah karena olahraga ini tergolong ekstrem.
Ia mengingat kembali pengalaman saat FASI bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Trenggalek menggelar diklat massal.
“Waktu itu ada kolaborasi dan kami berhasil menjaring 25 anak. Diklat diadakan di Trenggalek dan Malang secara gratis, bahkan dapat pesangon serta penginapan sampai 40 kali terbang. Tapi ternyata yang berhasil lulus sampai akhir hanya lima orang,” kenangnya.
Calon Atlet Wajib Lulus 40 Kali Penerbangan
Azmi menjelaskan, setiap calon atlet wajib menjalani proses pelatihan hingga sedikitnya 40 kali penerbangan menggunakan glider sebelum mengikuti ujian lisensi dasar atau PL 1 (Surat Izin Mengudara).
Setelah memenuhi jumlah penerbangan tersebut, instruktur akan melakukan evaluasi untuk menentukan kelayakan peserta memperoleh lisensi.
“Usai 40 kali terbang itu nanti instruktur akan mengadakan ujian. Dia layak tidak mempunyai PL gelar PL 1. Istilahnya SIM, Surat Izin Mengudara,” jelasnya.
Prestasi Trenggalek Terus Berlanjut
Meski menghadapi tantangan regenerasi, prestasi cabang olahraga aerosport Trenggalek tetap membanggakan.
Pada 2025 lalu, kontingen Trenggalek berhasil meraih medali emas dari cabang olahraga gantole, medali perak, serta medali perunggu dari cabang olahraga paralayang.
Untuk menjaga kemampuan atlet sekaligus membina calon penerbang baru, latihan rutin digelar setiap akhir pekan.
“Kami latihan hampir setiap minggu, biasanya hari Sabtu dan Minggu sore. Lokasi latihannya berpindah-pindah antara Bukit Tunggangan, Pantai Gemah yang paling sering, kemudian Pantai Modangan di Blitar hingga Kota Batu,” paparnya.
Ajak Pemuda Trenggalek Bergabung
Azmi berharap rekrutmen terbuka ini dapat dimanfaatkan para pelajar yang memiliki minat terhadap olahraga dirgantara.
Menurutnya, Trenggalek telah memiliki fasilitas latihan, peralatan, serta legalitas yang memadai sehingga regenerasi atlet harus terus berjalan.
“Saya berharap banyak adik-adik yang tertarik meneruskan regenerasi ini. Ini hobi yang spektakuler dan langka, tidak semua orang punya kemampuan ini. Sayang sekali kalau tidak diteruskan, karena kita sudah punya tempat latihan, punya alat, izin, dan legalitas yang lengkap. Mari harumkan nama Kabupaten Trenggalek di level provinsi maupun nasional,” pungkasnya.











