Inti Berita:
• Disperinaker Trenggalek menggelar pelatihan tata boga selama 14 hari untuk 20 peserta hasil seleksi dari 80 pendaftar.
• Program ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi masyarakat, mencetak wirausaha baru, sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang memiliki sertifikasi kompetensi.
• Selain itu, Disperinaker juga terus mendampingi UMKM dalam standarisasi produk dan membuka pelatihan bahasa Jepang serta Korea untuk mendukung peluang kerja di luar negeri.
SUARA TRENGGALEK – Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Trenggalek kembali menggelar pelatihan tata boga sebagai upaya menekan angka pengangguran terbuka melalui peningkatan kompetensi masyarakat.
Pelatihan tersebut diikuti 20 peserta terpilih yang telah lolos proses seleksi dari total 80 pendaftar. Kegiatan dijadwalkan berlangsung selama 14 hari atau setara 140 jam pelajaran (JP) dengan mengacu pada kurikulum standar tata boga.
Kepala Disperinaker Kabupaten Trenggalek, Christina Ambarwati mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat menjadi modal membuka usaha maupun memasuki dunia kerja.
“Dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran terbuka, salah satunya adalah dengan meningkatkan kompetensi masyarakat,” ungkapnya, Senin (29/6/2026).
Christina juga menyampaikan, dalam pelaksanaan tersebut terdapat 80 pendaftar, namun kuota yang tersedia hanya 20 orang, sehingga dinas mengambil langkah melakukan seleksi.
Dalam prosesnya, pelatihan berlangsung selama 14 hari atau 140 JP dengan harapan peserta memiliki pengetahuan, keterampilan, dan komitmen untuk membuka usaha sendiri atau menjadi syarat ketika bekerja di badan usaha.
“Materi pelatihan berfokus pada teknik pengolahan pangan yang baik, aman, halal, serta sesuai standar kurikulum tata boga,” ungkapnya.
Dijelaskannya, peserta berasal dari masyarakat umum, termasuk lulusan sekolah. Menariknya, pelatihan kali ini juga diikuti dua peserta penyandang disabilitas.
Setelah menyelesaikan pelatihan, diterangkan Christina seluruh peserta akan memperoleh sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Disperinaker Juga Dampingi Standarisasi UMKM
Selain pelatihan keterampilan, Disperinaker juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya dalam memenuhi berbagai standar usaha.
Pendampingan tersebut meliputi pengurusan sertifikat halal, pendaftaran merek, hingga uji nutrisi produk agar memiliki daya saing lebih baik di pasaran.
Terkait anggaran tahun mendatang, Christina menyebut perencanaan masih menyesuaikan kondisi fiskal pemerintah yang saat ini belum mengalami perubahan signifikan.
“Kebijakan fiskal sampai hari ini masih belum ada perubahan yang signifikan, sehingga perencanaan masih mengacu pada estimasi tahun ini,” jelasnya.
Siapkan Tenaga Kerja ke Jepang dan Korea
Selain pelatihan tata boga, Disperinaker juga membuka pelatihan bahasa Korea dan bahasa Jepang sebagai bekal masyarakat yang ingin bekerja maupun mengikuti program magang di kedua negara tersebut.
Menurut Christina, program tersebut juga menjadi bagian dari dukungan pemerintah daerah terhadap berbagai program strategis nasional yang dijalankan pemerintah pusat.
Peserta Ingin Kembangkan Usaha Kuliner
Salah seorang peserta asal Kecamatan Dongko, Siti Nurariyah (26) mengaku mengikuti pelatihan untuk mengembangkan usaha kuliner yang telah dirintis sejak 2018.
Perempuan yang akrab disapa Arisa itu menjual berbagai produk seperti salad buah, cendol aren, coco pandan, hingga pancake yang sedang viral.
Saat ini ia menerapkan sistem berpindah lokasi berjualan di sejumlah kecamatan seperti Dongko, Munjungan, dan Pule.
Menurutnya, media sosial terutama TikTok menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan penjualan.
“Media sosial luar biasa sekali. Saya berjualan lewat TikTok. Pernah waktu internet mati karena listrik padam, pembeli tetap ada, tetapi tidak seramai saat saya live streaming,” katanya.
Melalui pelatihan ini, Arisa berharap mampu menciptakan produk kuliner sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada produk dari pabrik.
“Harapan saya setelah mengikuti pelatihan ini saya punya produk baru yang bisa saya jual sendiri, jadi tidak perlu mengambil produk dari pabrik lagi,” ujarnya.











