Inti Berita:
• Trenggalek memiliki Hutan Durian Internasional (International Durio Forestry) seluas sekitar 650 hektare di Kecamatan Watulimo.
• Kawasan ini ditetapkan sebagai IDF oleh Kementerian Pertanian pada 2016 dan dikenal sebagai salah satu hutan durian terbesar di Asia Tenggara.
• Desa Wisata Durensari menjadi pusat wisata durian dengan konsep berbasis masyarakat.
SUARA TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, memiliki kekayaan alam yang tidak banyak dimiliki daerah lain, yakni Hutan Durian Internasional atau International Durio Forestry (IDF).
Kawasan seluas sekitar 650 hektare yang berada di Kecamatan Watulimo ini dikenal sebagai salah satu hutan durian terbesar di Asia Tenggara sekaligus pusat pelestarian berbagai varietas durian lokal unggulan.
Sebagian besar pohon durian yang tumbuh di kawasan tersebut telah berusia puluhan hingga ratusan tahun dan masih produktif hingga saat ini.
Keberadaan hutan durian tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Trenggalek.
Ditetapkan Sebagai International Durio Forestry
Kawasan hutan durian tersebar di sejumlah wilayah Kecamatan Watulimo, dengan Desa Wisata Durensari atau Desa Sawahan menjadi salah satu pusat aktivitas wisata.
Pada 2016, Kementerian Pertanian menetapkan kawasan tersebut sebagai International Durio Forestry (IDF), menjadikannya sebagai salah satu kawasan konservasi dan pengembangan durian yang mendapat perhatian nasional.
Selain sebagai sentra produksi durian, kawasan ini juga berfungsi sebagai ekosistem yang menjaga keanekaragaman hayati. Berbagai jenis durian lokal tumbuh secara alami dan terus dilestarikan melalui kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah.
Pengelolaan wisata dilakukan dengan konsep Community Based Tourism (CBT), yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam penyediaan homestay, kuliner, jasa pemandu wisata hingga pengembangan produk lokal.
Wisata Hutan Durian dan Sungai Bawok
Hutan durian Trenggalek menawarkan pengalaman wisata alam yang unik, terutama saat musim panen tiba.
Pengunjung dapat melakukan jungle trekking menyusuri kawasan hutan sambil menikmati suasana alam yang masih asri.
Saat musim panen, wisatawan bahkan dapat menikmati durian yang jatuh langsung dari pohonnya atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai durian “suluhan”.
Selain itu terdapat Sungai Bawok, sungai dengan air jernih yang dipercaya masyarakat memiliki berbagai manfaat dan menjadi lokasi favorit untuk bermain air maupun bersantai.
Berbagai kuliner khas juga tersedia, mulai dari tiwul jambul, kelapa muda hingga aneka olahan berbahan dasar durian.
Untuk menunjang kenyamanan wisatawan, kawasan ini dilengkapi fasilitas parkir, homestay, kafetaria, pusat oleh-oleh, serta berbagai spot foto.
Desa Wisata Durensari bahkan pernah meraih penghargaan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Nasional.
Durian Ripto, Ikon Trenggalek yang Diakui Nasional
Di antara ratusan varietas durian yang tumbuh di Trenggalek, Durian Ripto menjadi varietas paling terkenal.
Durian ini berasal dari pohon indukan milik Suripto atau Ripto di Dusun Ponggok, Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo. Pohon tersebut diperkirakan telah berumur lebih dari 100 tahun.
Durian Ripto memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya:
Daging buah tebal dengan warna kuning tua.
Tekstur lembut dan halus.
Rasa manis legit dengan sedikit sensasi kesat.
Biji relatif kecil.
Kulit tipis dan mudah dibelah.
Bobot buah rata-rata 1,5 hingga 2,2 kilogram.
Daya simpan mencapai sekitar tujuh hari setelah jatuh dari pohon.
Produktivitas tinggi dengan kemampuan berbuah hingga dua kali dalam setahun.
Karena keunggulannya tersebut, Durian Ripto ditetapkan sebagai varietas unggul nasional oleh Kementerian Pertanian dan pernah meraih prestasi dalam berbagai kontes durian tingkat nasional.
Selain Ripto, sejumlah varietas lokal lain seperti Rindu dan Kunirjiman juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan hingga pasar ekspor.
Jadi Penopang Ekonomi Masyarakat
Keberadaan hutan durian menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak petani di Kecamatan Watulimo dan wilayah sekitarnya.
Selain menjual buah segar, masyarakat juga mengembangkan usaha wisata, kuliner, penginapan hingga penjualan bibit unggul durian.
Berbagai teknologi perbanyakan tanaman seperti okulasi, mini grafting, dan top working juga terus dikembangkan untuk menjaga kualitas varietas unggulan Trenggalek.
Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus mendorong pelestarian kawasan ini agar tetap menjadi sumber ekonomi sekaligus kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Namun demikian, sejumlah pihak menilai kawasan hutan durian perlu mendapatkan perlindungan yang kuat dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan agar fungsi ekologis dan ekonominya tetap terjaga untuk generasi mendatang.











