Inti Berita:
• Askab PSSI Trenggalek mulai menerapkan pembenahan administrasi sepak bola daerah dengan mewajibkan seluruh klub peserta TSL menggunakan aplikasi SIAP dan berbadan hukum mulai musim 2026.
• Sebelum liga bergulir pada September atau Oktober mendatang, Askab akan memberikan pendampingan kepada seluruh klub Dalam forum evaluasi tersebut.
SUARA TRENGGALEK – Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau Askab PSSI Trenggalek mulai melakukan pembenahan tata kelola kompetisi sepak bola di tingkat kabupaten.
Salah satu kebijakan yang disepakati bersama seluruh klub anggota adalah kewajiban menggunakan aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) serta memiliki badan hukum sebagai syarat mengikuti Trenggalek Soccer League (TSL) mulai musim 2026.
Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam forum silaturahmi dan evaluasi yang digelar Askab PSSI Trenggalek bersama 32 klub sekolah sepak bola (SSB) di Kabupaten Trenggalek pada, Kamis (2/7/2026).
Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai dinamika yang terjadi sekaligus menyusun langkah pembinaan sepak bola Trenggalek ke depan.
“Hari ini agendanya silaturahmi pengurus Askab PSSI Kabupaten Trenggalek dengan seluruh klub. Kita melakukan evaluasi atas dinamika yang berkembang, membahas program ke depan, sekaligus saling menyampaikan masukan antara klub dan Askab,” ujarnya.
Seluruh Klub Wajib Gunakan Aplikasi SIAP
Dijelaskannya, dalam forum tersebut, Askab dan seluruh klub mencapai kesepakatan untuk menerapkan aplikasi SIAP secara penuh pada seluruh kompetisi resmi yang digelar mulai TSL 2026.
Menurut Puguh, penggunaan aplikasi SIAP tersebut merupakan bagian dari penataan administrasi agar seluruh data pemain, klub, hingga kompetisi terintegrasi dengan Askab, Asprov PSSI Jawa Timur, hingga PSSI Pusat.
“Mulai TSL nanti seluruh klub wajib menggunakan aplikasi SIAP. Selain itu, klub yang mengikuti TSL juga wajib berbadan hukum,” tegasnya.
Meski demikian, Puguh memastikan tidak akan membiarkan klub belajar sendiri. Sebelum kompetisi dimulai, seluruh peserta akan mendapatkan pendampingan agar mampu mengoperasikan aplikasi tersebut.
“Aplikasinya akan kami serahkan ke klub masing-masing. Sebelum itu tentu ada pendampingan. Jadi tidak akan kami lepas begitu saja,” katanya.
Baru Sebagian Klub Berbadan Hukum
Puguh juga mengungkapkan hingga saat dari 32 klub sepak bola yang ada, saat ini baru sekitar 12 klub yang telah memiliki badan hukum.
Sementara itu, tantangan terbesar justru terletak pada penguasaan aplikasi SIAP yang masih belum dipahami sebagian besar klub.
Padahal, sistem tersebut menjadi bagian penting dalam administrasi sepak bola nasional karena terhubung langsung dengan PSSI di semua tingkatan.
TSL Bergulir September atau Oktober
Askab PSSI Trenggalek menargetkan Trenggalek Soccer League (TSL) mulai bergulir pada September atau Oktober 2026.
Sebelum kompetisi dimulai, Askab akan fokus melakukan pendampingan penggunaan aplikasi SIAP kepada seluruh klub agar tidak ada lagi kendala administrasi saat liga berlangsung.
“Insyaallah TSL akan kita gelar bulan September atau Oktober. Sebelum itu kita lakukan pendampingan sehingga nanti tidak ada alasan lagi belum bisa menggunakan aplikasi SIAP,” ujar Puguh.
Ia menegaskan seluruh pelaksanaan kompetisi nantinya akan mengacu pada statuta, peraturan organisasi (PO), dan regulasi resmi PSSI.
Polemik Piala Presiden Dianggap Selesai
Dalam kesempatan yang sama, Puguh juga menanggapi kekecewaan sejumlah klub terkait batalnya penyelenggaraan Piala Presiden kelompok usia U-10 dan U-12 di Trenggalek.
Menurutnya, persoalan tersebut dipicu adanya miskomunikasi yang terjadi di tingkat provinsi maupun kabupaten.
Bahkan, usulan agar juara Trenggalek Soccer League mewakili daerah pada ajang tersebut juga tidak dapat direalisasikan.
“Masalah piala presiden U-10 dan U-12 sudah selesai. Tadi seluruh klub juga sudah bisa memahami kondisi yang terjadi di Asprov,” pungkasnya.











