OLAHRAGA

Tolak Permintaan Maaf Admin Askab PSSI Trenggalek, SSB Shrimp Army Merasa Dirugikan Secara Organisasi

×

Tolak Permintaan Maaf Admin Askab PSSI Trenggalek, SSB Shrimp Army Merasa Dirugikan Secara Organisasi

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pemilik SSB Shrimp Army Watulimo, Anjar Priadi Putra saat menyampaikan protes atas polemik database sistem aplikasi SIAP
Inti Berita:
• Polemik aplikasi SIAP antara Shrimp Army dan Askab PSSI Trenggalek terus berlanjut.
• Shrimp Army menilai alasan Askab terkait ketidakmampuan SSB mengelola aplikasi tidak memiliki dasar karena tidak pernah ada audiensi maupun sosialisasi sebelum akun dikelola admin kabupaten.
• Meski menerima permintaan maaf secara pribadi dari Admin Askab, Shrimp Army meminta evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola administrasi pemain dan pembinaan sepak bola usia dini di Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Polemik otak-atik aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) milik Sekolah Sepak Bola (SSB) Shrimp Army Watulimo yang dilakukan Admin Askab PSSI Trenggalek belum mereda.

Setelah Admin Askab PSSI mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf, SSB Shrimp Army menolak permintaan maaf secara organisasi dan menilai persoalan tersebut belum selesai karena telah menimbulkan kerugian bagi organisasi dan pembinaan pemain usia dini

Alasan SSB Shrimp Army, persoalan yang terjadi tidak hanya menyangkut individu, melainkan sangat merugikan dan berdampak terhadap organisasi, pelatih, hingga para orang tua pemain sepak bola.

Pemilik Sekolah Sepak Bola (SSB) Shrimp Army, Anjar Priadi Putra kembali melayangkan tanggapan atas pernyataan Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni.

Anjar menilai sejumlah alasan yang disampaikan Askab tidak relevan dan meminta organisasi tersebut mengakui kesalahan serta memperbaiki tata kelola pembinaan sepak bola usia dini.

Pertanyakan Dasar Askab Menilai SSB Tidak Mampu

Anjar menyoroti pernyataan Askab yang menyebut sebagian SSB belum mampu mengelola aplikasi SIAP sehingga pengelolaannya dilakukan oleh admin kabupaten.

Menurutnya, pernyataan tersebut justru membingungkan karena di sisi lain Shrimp Army disebut sebagai salah satu dari tiga tim yang dinilai mampu.

“Kalau kami dianggap mampu kenapa pengelolaannya tetap oleh mereka?” ujar Anjar.

Ia mempertanyakan dasar Askab menyimpulkan SSB tidak mampu mengelola aplikasi tersebut.

“Saya beri pertanyaan untuk Mas Bimo. Apa dasar menjustifikasi kami tidak mampu? Apa dasarnya? Men-judge bahwa kami tidak mampu. Apakah sudah dilakukan audiensi? Apakah sudah dilakukan sosialisasi?” katanya.

Anjar menegaskan tidak pernah ada komunikasi maupun audiensi dengan pihak Shrimp Army sebelum aplikasi SIAP dikelola oleh admin Askab.

Nilai Alasan Sosialisasi Tidak Relevan

Anjar juga membantah alasan Askab yang menyebut pihaknya tidak menghadiri sosialisasi aplikasi SIAP.

Menurutnya, sosialisasi baru dilaksanakan pada 16 Juni 2026, sementara pengelolaan akun SIAP oleh Askab sudah berlangsung jauh sebelumnya.

“Undangan ini dilakukan baru kemarin, 16 Juni 2026. Tidak relevan jika ini menjadi alasan kenapa kemudian mereka mengelola aplikasi SIAP kami,” tegasnya.

Ia mengungkapkan undangan sosialisasi baru dibagikan melalui grup pada 15 Juni 2026 pukul 17.33 WIB untuk kegiatan yang digelar keesokan harinya pukul 11.00 WIB.

“Artinya hanya 18 jam sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan undangannya baru disebarkan. Apakah mereka menganggap kami ini semua pengangguran? Bisa diundang sewaktu-waktu tanpa mempertimbangkan aktivitas kami maupun jarak menuju Trenggalek,” ujarnya.

Soroti Data Pemain Dicabut Tanpa Koordinasi

Anjar kembali menegaskan inti persoalan bukan sekadar pengelolaan aplikasi, melainkan adanya perubahan data pemain tanpa sepengetahuan klub.

Ia mengaku tidak pernah mengetahui siapa yang memasukkan maupun mengubah data pemain di dalam aplikasi SIAP.

“Tiba-tiba aplikasi SIAP kami sudah ada, kemudian data-datanya kami juga enggak tahu siapa yang input. Kemudian pemain kami sebagian besar sudah masuk, tiba-tiba dikeluarkan, dicabut dari sana tanpa sepengetahuan kami,” katanya.

Menurutnya, apabila Askab mengakui adanya kesalahan, sebaiknya fokus pada perbaikan tata kelola dibanding mencari pembenaran.

“Kalau kalian sudah salah, akui bahwa itu salah. Mari kita perbaiki bersama,” ucapnya.

Sebut Pembinaan Harus Diperbaiki

Anjar menilai persoalan administrasi tersebut menjadi salah satu penyebab minimnya peserta Piala Soeratin 2026 di Trenggalek.

Ia menyoroti hanya lima tim yang mengikuti kategori U-15 dan delapan tim pada kategori U-13.

“Semangat yang kita bawa ini bagaimana sepak bola Trenggalek tidak lagi hanya lima tim U-15 dan delapan tim U-13. Sementara kabupaten kota lain bisa sampai puluhan peserta,” ujarnya.

Menurutnya, Shrimp Army sejak awal berupaya mengikuti seluruh mekanisme yang ditetapkan Askab, termasuk mengurus legalitas hingga akta notaris sejak mendirikan SSB pada 2023.

“Itu yang disarankan Askab Trenggalek dan sudah kami ikuti. Artinya kami berusaha mengikuti mekanismenya,” katanya.

Terima Permintaan Maaf Secara Pribadi, Bukan Organisasi

Menanggapi permintaan maaf yang sebelumnya disampaikan Admin Askab PSSI Trenggalek, Anjar mengaku menerima secara pribadi.

Namun, menurutnya persoalan tersebut tidak berhenti pada hubungan personal karena dampaknya dirasakan oleh seluruh organisasi Shrimp Army.

“Secara pribadi saya menerima. Tapi secara organisasi ini masih menjadi pertanyaan,” ujarnya.

Ia menilai kerugian akibat perubahan data pemain turut dirasakan orang tua pemain dan pelatih yang telah melakukan pembinaan sejak awal.

“Kita sudah repot-repot membentuk tim, membina pemain dari nol, tiba-tiba pemain itu hilang begitu saja,” katanya.
Minta Askab Edukasi Proses Perpindahan Pemain

Anjar menegaskan perpindahan pemain antar-SSB merupakan hal yang wajar selama dilakukan sesuai prosedur.

Menurutnya, Askab semestinya berperan memberikan edukasi mengenai mekanisme perpindahan pemain, bukan justru memfasilitasi perpindahan tanpa koordinasi dengan klub asal.

“Kalau mau pindah SSB itu ada caranya. Bukan malah memfasilitasi. Kami tidak tahu tiba-tiba siswa kami pindah SSB tanpa berpamitan,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila Askab mengetahui adanya persoalan administrasi, seharusnya dilakukan komunikasi terlebih dahulu dengan klub yang bersangkutan.

“Mereka mencabut pemain dari aplikasi kami tanpa koordinasi dan komunikasi dengan kami. Mereka memfasilitasi seperti itu tentu kurang tepat,” tegasnya.