PERISTIWA

TPA Srabah Trenggalek Diprediksi Penuh Sebelum 2030, Kajian Teknologi Pengolahan Sampah Disiapkan

×

TPA Srabah Trenggalek Diprediksi Penuh Sebelum 2030, Kajian Teknologi Pengolahan Sampah Disiapkan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ilustrasi.
Inti Berita:
• DLH Trenggalek memprediksi TPA Srabah bisa penuh sebelum 2030 karena tren peningkatan sampah.
• Pemkab tengah menggandeng PT SMI untuk mengkaji teknologi pengolahan sampah yang paling cocok diterapkan.
• Teknologi yang dikaji meliputi RDF pengganti batu bara hingga pirolisis yang mengubah sampah menjadi BBM.

SUARA TRENGGALEK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mulai menyiapkan langkah antisipasi terkait potensi penuhnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah.

Jika sebelumnya TPA tersebut bakal penuh menampung sampah pada tahun 2030, namun prediksi terbaru sebelum tahun 2030 diperkirakan sudah penuh.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, mengungkapkan prediksi awal TPA Srabah penuh pada tahun 2030 kemungkinan bisa berubah lebih cepat.

Hal itu dipengaruhi tren peningkatan volume sampah yang terus terjadi setiap tahun.

“Kalau melihat tren yang sekarang, kayaknya sebelum 2030 itu sudah penuh,” ujar Fahmi saat dikonfirmasi.

Menurutnya, saat ini pemerintah daerah masih melakukan penghitungan ulang terkait kapasitas dan pengelolaan TPA Srabah melalui kajian bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Fahmi menegaskan sebenarnya masih terdapat sejumlah titik lahan yang berpotensi dimanfaatkan kembali untuk pengembangan area landfill atau zona penampungan sampah.

Namun, seluruh opsi tersebut masih menunggu hasil kajian teknis yang saat ini berjalan.

“Masih dihitung kembali bersama PT SMI terkait pengolahan sampah di TPA. Jadi saat ini belum keluar opsi-opsi penambahan landfill maupun pembukaan landfill lama,” jelasnya.

Kajian Fokus Teknologi Pengolahan Sampah

Fahmi menjelaskan kajian tersebut tidak hanya membahas kapasitas lahan TPA, tetapi juga menentukan teknologi pengolahan sampah paling sesuai dengan karakteristik sampah di Kabupaten Trenggalek.

Salah satu teknologi yang dikaji adalah Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu pengolahan sampah menjadi bahan bakar pengganti batu bara untuk industri semen.

“Beberapa daerah sudah memanfaatkan RDF untuk suplai bahan bakar pabrik semen,” katanya.

Selain RDF, DLH juga mempertimbangkan teknologi non-RDF seperti pirolisis yang mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Dalam proses tersebut, sampah dipanaskan pada suhu tertentu hingga menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Tak hanya itu, sampah juga berpotensi diolah menjadi produk lain seperti paving block, kursi, hingga meja melalui proses pencetakan ulang material limbah.

“Ada juga yang sampahnya dilelehkan lalu dicetak jadi paving atau furniture seperti kursi dan meja,” imbuh Fahmi.

Kajian Ditarget Rampung Tahun Ini

Kajian pengelolaan sampah tersebut didukung melalui program CSR PT SMI dan ditargetkan selesai pada tahun 2026.

Pihaknya memperkirakan proses penyusunan kajian membutuhkan waktu sekitar delapan bulan.

Hasil kajian nantinya akan menjadi dasar penentuan arah kebijakan pengelolaan sampah dan pengembangan TPA Srabah ke depan.