Inti Berita:
• Pemanfaatan drone pertanian mulai membantu petani di Trenggalek meningkatkan efisiensi penyemprotan padi.
• Selain mampu menyelesaikan penyemprotan lahan dalam hitungan menit, teknologi ini juga membuat pekerjaan lebih ringan, presisi, serta menawarkan sistem pembayaran yang dapat dilakukan setelah masa panen.
SUARA TRENGGALEK – Teknologi drone mulai dimanfaatkan petani di Kabupaten Trenggalek untuk meningkatkan efisiensi penyemprotan tanaman padi.
Dengan teknologi tersebut, penyemprotan lahan seluas 100 ru atau sekitar 1.444 meter persegi dapat diselesaikan hanya dalam waktu empat hingga enam menit.
Salah satu petani, Senin, warga Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, mengaku merasakan manfaat penggunaan drone dibandingkan metode penyemprotan manual menggunakan tangki gendong.
Ia menggarap lahan bengkok milik Kepala Desa Karanganom seluas sekitar 700 ru yang pada hari itu seluruhnya disemprot menggunakan drone.
“Kalau menggunakan drone hanya tinggal melihat, lebih mudah serta murah,” ujar Senin, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, lahan di sisi timur baru pertama kali memanfaatkan teknologi tersebut. Sementara lahan di sisi barat sebelumnya sudah pernah menggunakan layanan penyemprotan drone.
Pengajuan Berasal dari Kepala Desa
Helper Pilot Drone PT Maxxi Tani Teknologi wilayah Trenggalek, Muhammad Fadlika, mengatakan penyemprotan dilakukan atas permintaan Kepala Desa Karanganom, Muntingah.
“Kalau ini tadi pengajuan dari Bu Lurah. Bu Lurah Karanganom meminta tolong untuk di-drone-kan lahannya,” kata Fadlika.
Ia menjelaskan, target penyemprotan hari itu mencapai sekitar 700 ru atau setara sekitar 3 hingga 4 hektare dan ditargetkan selesai dalam satu hari.
“Kurang lebih satu hari, soalnya kan lahannya pindah-pindah juga,” ujarnya.
Pembayaran Bisa Setelah Panen
Fadlika menjelaskan layanan penyemprotan yang disediakan PT Maxxi Tani Teknologi menggunakan skema kerja sama yang fleksibel. Paket jasa telah mencakup penggunaan drone sekaligus penyediaan obat pertanian.
“Sistemnya ini kerja sama. Jadi jasa sama obat itu dari saya. Nanti petani itu bayarnya panen. Dibayar di depan boleh, dibayar di belakang juga boleh,” terangnya.
Menurutnya, tarif dihitung berdasarkan satuan luas lokal (ru) dengan biaya sebesar Rp100 ribu per ru.
“Skema ini dinilai transparan karena nominal pembayaran langsung dikalikan dengan total luasan lahan milik petani,” jelasnya.
Penyemprotan Lebih Presisi dan Hemat Tenaga
Fadlika menilai penggunaan drone membuat proses penyemprotan menjadi lebih presisi sekaligus mengurangi beban kerja petani.
“Sangat mudah, soalnya sudah dibantu dengan obatnya juga, dengan alatnya juga. Jadi petani tinggal di pinggir sambil melihat saja,” katanya.
Dalam satu musim tanam, penyemprotan biasanya dilakukan dua hingga tiga kali menyesuaikan kondisi tanaman di lapangan.
Adapun cairan yang disemprotkan melalui drone merupakan kombinasi nutrisi tanaman, fungisida untuk mencegah jamur, serta insektisida guna mengendalikan serangan hama.
“Seluruh pasokan obat pertanian tersebut dipastikan murni berasal dari produk kami tanpa adanya unsur subsidi,” tutup Fadlika.











