PERISTIWA

Dinsos Ungkap Proses Terkini Bayi Perempuan yang Ditemukan Warga Trenggalek

×

Dinsos Ungkap Proses Terkini Bayi Perempuan yang Ditemukan Warga Trenggalek

Sebarkan artikel ini
Istimewa

SUARA TRENGGALEK – Dinas Sosial PPPA Trenggalek terus melakukan koordinator dalam penanganan bayi perempuan yang ditemukan warga di Desa Ngrayung Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek.

Hal itu disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinsos PPPA Christina Ambarwati, ia juga mengatakan saat ini juga masih menunggu kesehatan bayi tersebut pulih.

Penanganan Dinsos PPPA Saat Ini

“Selain mendorong upaya penegakan hukum, koordinasi dengan Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinsos Provinsi Jawa Timur, untuk panti asuhan juga sudah dijalankan,” jelasnya, Minggu (15/12/2024).

Dijelaskannya, koordinasinya cukup intens kepada Dinsos Provinsi Jawa Timur untuk penyerahan bayi ke Pelayanan Sosial Asuhan Balita (PSAB) Sidoarjo.

Christina juga menerangkan, saat ini kondisi bayi sudah berangsur membaik pasca dilakukan perawatan RSUD dr. Soedomo Trenggalek. Sedangkan untuk penyerahan ke PSAB masih menunggu jadwal lebih lanjut.

Proses Adopsi Bayi Perempuan

Masih menurut Christina, saat ini Dinsos PPPA sudah mendapatkan banyak kunjungan warga dan pertanyaan secara langsung soal adopsi. Namun ia menghimbau kewenangan adopsi sepenuhnya di Dinsos Provinsi Jawa Timur.

“Karena proses adopsi adalah kewenangan provinsi maka mekanisme sudah kami jelaskan. Tapi kami juga tidak menyarankan semua mengajukan adopsi karena persyaratan adopsi panjang,” ucapnya.

Ia juga tidak menyarankan calon adopsi yang sudah berumur tua. Dia mencontohkan ketika ada calon adopsi umur 45 tahun itu akan memiliki resiko pada bayi, meski secara ekonomi tercukupi.

“Secara teknis persyaratan adopsi sudah kami publikasikan baik melalui media sosial maupun website resmi kami,” tandasnya

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.