Inti Berita:
• Ratusan nelayan di Pantai Prigi menghentikan aktivitas melaut akibat cuaca buruk.
• Gelombang laut mencapai 2,5 meter disertai angin kencang di perairan selatan Trenggalek.
• Kondisi ini terjadi saat awal musim panen ikan yang biasanya dimulai pada Juni.
SUARA TRENGGALEK – Ratusan nelayan di Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, terpaksa menghentikan sementara aktivitas melaut akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi yang melanda perairan selatan Jawa.
Kondisi tersebut terjadi di tengah awal musim panen ikan yang biasanya mulai berlangsung pada bulan Juni, sehingga membuat para nelayan kehilangan kesempatan memperoleh hasil tangkapan maksimal.
Salah seorang nelayan Prigi, Tarmuji (47), mengatakan cuaca buruk dan angin kencang memaksa nelayan menyandarkan kapal demi keselamatan.
“Bulan enam (Juni) ini sebenarnya sudah mulai musim ikan, tetapi sementara ini nelayan terkendala masalah cuaca. Cuacanya agak buruk, gelombangnya besar, sehingga nelayan tidak bisa menangkap ikan. Jadi, sementara nelayan berhenti dulu,” ujar Tarmuji saat ditemui di Pantai Prigi, Senin (15/6/2026).
3 Kapal Nekat Melaut, 2 Pulang Tanpa Hasil
Tarmuji menceritakan, dirinya bersama kru sempat mencoba melaut pada malam sebelumnya menggunakan tiga kapal, termasuk Kapal Motor (KM) Sumber Makmur.
Meski telah memperkirakan kondisi laut kurang bersahabat, mereka tetap berangkat karena mengetahui stok ikan di perairan Prigi sedang melimpah.
Namun sesampainya di tengah laut, gelombang setinggi 2,5 meter dan angin kencang membuat proses penangkapan ikan tidak dapat dilakukan.
“Tadi malam itu kami coba melaut dengan tiga kapal. Ternyata sampai di tengah kami tidak bisa menangkap ikan karena kendala gelombang tinggi mencapai 2,5 meter dan anginnya kencang,” jelasnya.
Menurut nelayan yang telah berpengalaman selama 15 tahun tersebut, keberadaan ikan sebenarnya cukup banyak di lokasi penangkapan. Namun kapal yang terus terombang-ambing membuat penebaran jaring menjadi berisiko.
Akibatnya, hanya satu kapal yang berhasil membawa pulang hasil tangkapan, itu pun dalam jumlah yang sangat sedikit.
“Terpaksa mengambil di tengah cuaca jelek itu, cuma dapat 2 kuintal untuk satu kapal. Sementara dua kapal lainnya sama sekali tidak mendapat hasil. Akhirnya kami rugi besar,” keluhnya.
Nelayan Pilih Libur Lima Hari
Tarmuji menyebut saat ini perairan Prigi sedang memasuki musim ikan teropong dan ikan banyar. Namun cuaca yang tidak menentu membuat nelayan harus lebih berhati-hati.
Ia menilai pola cuaca dalam beberapa tahun terakhir jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan sebelumnya.
Untuk menghindari risiko kecelakaan laut, para nelayan berencana menghentikan aktivitas melaut selama kurang lebih lima hari ke depan sambil memantau perkembangan cuaca.
“Kami memantau sendiri, tetapi kecenderungannya tetap merujuk pada informasi dari BMKG karena aslinya itu yang lebih akurat,” tuturnya.
Waktu Dimanfaatkan untuk Perbaikan Alat Tangkap
Selama aktivitas melaut dihentikan, kapal-kapal nelayan tampak bersandar di pelabuhan dan berada dalam kondisi siaga.
Para nelayan memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan perawatan alat tangkap, memperbaiki jaring yang rusak, hingga membenahi mesin kapal.
“Kalau kapal selama ini standby di tempat. Selama istirahat total ini, aktivitas kami diisi dengan melakukan perawatan, seperti memperbaiki jaring-jaring yang sobek,” pungkas Tarmuji.
Pantauan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi menunjukkan puluhan nelayan terlihat duduk di atas tumpukan jaring berukuran besar sambil menjahit bagian yang rusak.
Sebagian lainnya tampak memperbaiki mesin kapal di area dermaga sembari menunggu kondisi cuaca kembali membaik.











