Inti Berita:
• Produksi gabah Trenggalek musim tanam kedua 2026 mencapai 68 ribu ton dan ditargetkan tembus 80 ribu ton.
• Distanpan menyiapkan antisipasi kemarau ekstrem melalui pompanisasi, pemanfaatan mata air, dan optimalisasi dam parit.
Petani di Gandusari mengaku hasil panen cukup baik dengan produktivitas mencapai 7,6 ton per hektare.
SUARA TRENGGALEK – Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Kabupaten Trenggalek mencatat produksi gabah pada musim tanam kedua tahun 2026 telah mencapai sekitar 68 ribu ton.
Pemerintah daerah pun menargetkan total produksi bisa menembus angka 80 ribu ton dari luasan lahan periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 mencapai 15.610 hektare.
Kepala Distanpan Trenggalek, Imam Nurhadi mengatakan pihaknya kini fokus menjaga stabilitas produksi padi di tengah ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026 mendatang.
Menurut Imam, luas tanam padi di Kabupaten Trenggalek periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 mencapai 15.610 hektare.
“Hingga minggu kedua April 2026, laporan produksi gabah yang masuk telah menyentuh angka 68 ribu ton,” ujar Imam Nurhadi saat dikonfirmasi, Sabtu (9/5/2026).
Ia optimistis angka produksi tersebut masih akan terus bertambah seiring proses panen yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
“Kami mengharapkan luas panen nantinya bisa mengangkat angka produksi di atas 80 ribu ton. Sampai hari ini, Indeks Pertanaman (IP) kita sudah berada di atas angka 2,” imbuhnya.
Imam menjelaskan, mayoritas petani di Trenggalek kini telah menjalani dua kali masa tanam dalam setahun.
Bahkan, pemerintah daerah menargetkan Indeks Pertanaman bisa meningkat hingga 2,5 pada tahun ini.
Untuk menghadapi ancaman kemarau ekstrem atau El Nino, Distanpan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, khususnya terkait penyediaan sumber air bagi lahan pertanian.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni optimalisasi sistem irigasi perpompaan dengan memanfaatkan sumber air tanah maupun air permukaan dari sungai yang masih tersedia.
“Lalu pemanfaatan mata air, menyalurkan air dari sumber mata air yang tersisa ke lahan pertanian melalui sistem perpompaan,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga akan melakukan optimalisasi dam parit dengan peninggian muka air agar distribusi air mampu menjangkau area persawahan lebih luas.
“Langkah-langkah ini kami tempuh untuk mempertahankan indeks pertanaman agar tidak merosot akibat kekeringan,” katanya.
Imam berharap berbagai langkah tersebut mampu menjaga ketahanan pangan di Trenggalek sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.
“Mudah-mudahan ketahanan pangan di Trenggalek tetap terjaga dengan produksi yang baik seperti tahun kemarin,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu petani asal Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Isnan Ali mengaku hasil panen tahun ini cukup baik.
Dengan menggunakan benih Inpari 32, hasil produksi gabah di lahannya mencapai 7,6 ton per hektare.
“Untuk panen kemarin itu kami mendapatkan 7,6 ton per hektare,” ujar Isnan.
Ia juga menyebut kondisi pasokan air untuk area persawahan saat ini masih aman karena curah hujan masih cukup tinggi.
“Alhamdulillah curah hujan masih tinggi. Tidak ada keluhan, doanya saja semoga aman tidak ada hambatan untuk kesejahteraan petani,” pungkasnya.











