Inti Berita:
Peresmian gudang PT Mutual Pangan Utama di Wonoanti menjadi bagian dari upaya Bulog memperkuat cadangan pangan dan mendekatkan fasilitas penyimpanan dengan sentra produksi petani.
Gudang tersebut berkapasitas 2.000 ton, sementara Bulog juga memiliki dua unit gudang di Karangsoko dengan total kapasitas 3.000 ton.
SUARA TRENGGALEK – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meresmikan gudang PT Mutual Pangan Utama – Filial Bulog Kompleks Pergudangan Karangsoko di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek.
Gudang berkapasitas 2.000 ton tersebut menjadi bagian dari upaya Bulog memperkuat kapasitas penyimpanan cadangan pangan sekaligus mendekatkan penyerapan gabah petani dengan sentra produksi petani yang berada di Kabupaten Trenggalek.
Emil mengatakan, keberadaan sarana logistik menjadi penting seiring dengan meningkatnya penyerapan gabah dan beras oleh Bulog di Jawa Timur.
“Di Jawa Timur kita punya stok beras hampir 1,3 juta ton lebih, artinya kan dan ini sudah menyumbang seperempat dari total cadangan beras nasional yang menembus di atas 5 juta ton,” ujar Emil, Senin (10/8/2026) sore.
Menurutnya, besarnya cadangan pangan tersebut harus ditunjang dengan ketersediaan sarana dan prasarana logistik yang memadai.
“Tentunya dibutuhkan ketersediaan logistik sarana prasarana logistik yang memadai,” katanya.
Gudang Dekat Sentra Produksi Petani
Emil menyebut Trenggalek menjadi salah satu daerah yang perlu mendapatkan dukungan sarana penyimpanan pangan karena berada di wilayah selatan Jawa Timur.
“Trenggalek ini adalah tentunya daerah yang juga harus bisa terjangkau, dia kabupaten yang berlokasi di selatan. Gandusari ini juga agak selatan meskipun di tengah-tengah dan di sini ada gudang yang dikerjasamakan,” jelasnya.
Menurut Emil, Bulog saat ini menyewa total 269 unit gudang untuk menjaga ketersediaan cadangan pangan.
“Jadi total 269 unit gudang yang disewa oleh Bulog untuk bisa menjaga cadangan pangan kita,” ujarnya.
Keberadaan gudang tersebut dinilai semakin penting karena saat ini telah memasuki musim kering. Pemerintah tetap berupaya menjaga produksi padi dan kesejahteraan petani, tetapi pada saat yang sama harus memastikan cadangan pangan tetap mencukupi.
Harga Gabah Di Atas Rp 8.000
Emil juga menyoroti adanya laporan harga gabah di tingkat petani yang disebut telah berada di atas Rp 8.000 per kilogram.
“Hari ini saja kami mendapat info ada harga gabah di atas Rp 8.000. Nah, tentu bagus petani sejahtera, yang tinggal kita harus lakukan adalah pantau harga di level konsumen,” katanya.
Ia menilai tingginya harga gabah perlu diikuti dengan pemantauan harga beras di tingkat konsumen agar tidak menimbulkan tekanan inflasi bagi rumah tangga.
“Karena jangan sampai terjadi inflasi yang memberatkan rumah tangga. Harus sejahtera dua-duanya. Petaninya sejahtera, waktu itu dengan harga gabah Rp 6.500 mereka bisa sejahtera. Monggo silakan kalau lebih, tapi nanti kita akan cek dari sisi harga konsumennya juga,” tutur Emil.
“Jangan sampai rumah tangga mengalami kesulitan membeli beras,” lanjutnya.
Menurut Emil, cadangan pangan menjadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
“Dengan adanya cadangan pangan ini menjadi sarana yang luar biasa untuk kita menjaga terkendalinya tingkat inflasi,” tegasnya.
Selain menjaga cadangan pangan, Emil menilai keberadaan gudang di Trenggalek juga memberikan manfaat bagi pelaku ekonomi setempat. Pengisian stok di gudang tersebut turut melibatkan mitra-mitra pertanian di Trenggalek.
“Jadi efisiensi jarak dan juga pemberdayaan pelaku ekonomi setempat ini menjadi sangat-sangat penting,” ujarnya.
Target Program Bulog Disebut Terpenuhi 100 Persen
Sementara itu, Pemimpin Cabang Perum Bulog Kantor Cabang Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, mengatakan target program yang tengah dijalankan telah terpenuhi 100 persen.
“Target sudah terpenuhi 100 persen. Fokus kita sekarang persiapan penyaluran bantuan pangan untuk alokasi Juli, Agustus, September,” terang Yonas.
Selain penyaluran bantuan pangan, Bulog juga masih menjalankan program SPHP jagung untuk kebutuhan peternakan ayam dan telur.
Yonas mengatakan stok jagung saat ini dalam kondisi aman. Selain penyerapan yang masih dilakukan, pasokan juga diperoleh dari cabang lain di wilayah Kanwil Jawa Timur serta dari Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi.
“Stok aman,” tegasnya.
Untuk wilayah Tulungagung, Blitar, Blitar Raya dan Trenggalek, total alokasi jagung mencapai 89.000 ton.
“Tulungagung, Blitar, Blitar Raya dan Trenggalek itu totalnya 89.000 ton. Terbesar se-Indonesia ini. Jadi se-Indonesia menyalurkan hampir 250.000, untuk 130.000-nya ada di Jawa Timur, 89.000-nya ada di cabang,” jelas Yonas.
Ia menyebut penyaluran lebih banyak diarahkan ke wilayah yang memiliki koperasi dan peternak lebih banyak.
Gudang Karangsoko Berkapasitas 3.000 Ton
Terkait kapasitas pergudangan, Yonas mengatakan Bulog masih memiliki sejumlah gudang kerja sama, termasuk gudang PT Mutual Pangan Utama yang baru diresmikan tersebut, gudang tersebut memiliki kapasitas 2.000 ton.
Selain itu, Bulog juga memiliki dua unit gudang di Karangsoko dengan kapasitas masing-masing 2.000 ton dan 1.000 ton.
“Karangsuko itu ada dua unit, satunya 2.000, satunya 1.000,” kata Yonas.
Bulog juga masih memiliki gudang di Tulungagung yang baru dibuka. Sementara itu, sebagian stok beras dari wilayah tersebut dikirim ke daerah yang mengalami defisit pangan.
“Kita juga melayani pengiriman memang beras untuk Kanwil-Kanwil defisit seperti yang dijabarkan oleh Pak Wagub tadi. Kita ngirim, kebetulan Tulungagung ini ngirim ke NTT, Papua, Maluku,” ujarnya.
Pengiriman stok tersebut turut membuat ruang penyimpanan di sejumlah gudang kembali tersedia.
“Jadi ada juga space gudang yang tersedia karena kita sudah mengeluarkan stok untuk membantu mengisi stok di sana,” jelas Yonas.
Terkait kemungkinan penambahan gudang baru, Yonas mengatakan hal tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas penyimpanan yang tersedia.
“Nanti sesuai kebutuhan. Kalau sudah cukup ya kita tidak nambah lagi,” pungkasnya.











