Inti Berita:
• BPBD Kabupaten Trenggalek menerima bantuan 25 tandon air dari BPBD Jawa Timur untuk memperlancar distribusi air bersih di wilayah terdampak kekeringan.
• Secara keseluruhan, BPBD Trenggalek mengajukan bantuan hampir 100 tandon dan 250 lembar terpal ke Pemprov Jatim yang dikirim secara bertahap.
• Bencana kekeringan di Trenggalek saat ini telah meluas dan berdampak pada 51 desa yang tersebar di 12 kecamatan.
SUARA TRENGGALEK – Upaya penanganan kekeringan di Kabupaten Trenggalek terus dilakukan. Selain memasok air bersih, pemerintah menyiapkan sarana penampungan untuk memperlancar distribusi air kepada masyarakat terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek sekaligus Pj Sekda Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan BPBD Trenggalek telah menerima bantuan sarana dan prasarana penanganan kekeringan dari BPBD Jawa Timur.
Sebanyak 25 tandon telah tiba di Trenggalek. Bantuan tersebut akan didistribusikan secara bertahap ke sejumlah wilayah yang membutuhkan.
“Yang sudah sampai di Trenggalek kurang lebih ada 25 tandon. Secara bertahap kita harapkan sesuai pengajuan kita, hampir 100 tandon yang kita ajukan ke BPBD provinsi,” ujar Stefanus.
Selain tandon, BPBD Trenggalek juga mengajukan bantuan sekitar 250 lembar terpal kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Bantuan tersebut diharapkan segera menyusul. Proses distribusinya dilakukan secara bertahap ke 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Stefanus memperkirakan sarana dan prasarana penanganan kekeringan tersebut mulai didistribusikan ke Trenggalek pada Senin.
Saat ini, kekeringan di Trenggalek berdampak pada sekitar 51 desa yang tersebar di 12 kecamatan.
Sejumlah pemerintah desa yang terdampak juga telah mengajukan permohonan bantuan kepada BPBD. Tandon yang telah tiba mulai dimanfaatkan untuk mendukung distribusi air bersih.
Keberadaan tempat penampungan dengan kapasitas lebih besar dinilai penting agar air yang dikirim menggunakan kendaraan tangki tidak harus langsung dibagikan dari rumah ke rumah.
“Di masing-masing desa atau RT yang terdampak ini membutuhkan tempat untuk penampungan yang lebih besar. Supaya memudahkan, karena kalau kita keliling dari rumah ke rumah itu tidak efektif,” jelasnya.
Selama ini, warga menerima air bersih menggunakan berbagai wadah sederhana, mulai dari galon air mineral, ember, timba hingga jeriken.
Dengan adanya tandon, air yang dikirim dapat ditampung terlebih dahulu di titik-titik tertentu. Warga kemudian dapat mengambil air dari lokasi penampungan sesuai kebutuhan.
Stefanus berharap tambahan sarana tersebut dapat memperlancar distribusi air bersih sekaligus memudahkan masyarakat memperoleh air di tengah kondisi kekeringan.
“Dengan bantuan ini bisa mempermudah pendistribusian kepada warga masyarakat untuk mengatasi kekeringan,” pungkasnya.











