PERISTIWA

Transplantasi Terumbu Karang di Pantai Mutiara Trenggalek Berbuah Hasil, Ikan Endemik Mulai Kembali Bermunculan

×

Transplantasi Terumbu Karang di Pantai Mutiara Trenggalek Berbuah Hasil, Ikan Endemik Mulai Kembali Bermunculan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ilustrasi.
Inti Berita:
• Pokmaswas Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek menilai program transplantasi terumbu karang yang dijalankan sejak 2023 mulai membuahkan hasil.
• Terumbu karang tumbuh sekitar 5–7 sentimeter per tahun, sementara ikan endemik perlahan kembali menghuni kawasan konservasi.
• Melalui MUF ON, kelompok tersebut terus mengembangkan media transplantasi dan rumah ikan sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem bawah laut.

SUARA TRENGGALEK – Upaya konservasi ekosistem bawah laut yang dilakukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek mulai menunjukkan hasil.

Setelah konsisten melakukan transplantasi terumbu karang sejak 2023, berbagai jenis ikan endemik kini mulai kembali bermunculan di kawasan konservasi tersebut.

Ketua Pokmaswas Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek, Kacuk Wibisono, mengatakan pertumbuhan terumbu karang buatan yang ditanam bersama para pegiat lingkungan berlangsung cukup baik.

“Upaya konservasi terumbu karang MUF ON ini sudah sejak tahun 2023. Berarti di tahun 2026 ini MUF ON keempat. Alhamdulillah mulai kita transplantasi sejak 2023,” ujar Kacuk, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, hasil pemantauan rutin menunjukkan terumbu karang yang ditransplantasikan mampu tumbuh sekitar 5 hingga 7 sentimeter setiap tahun.

“Kita mulai itu perkembangan setiap tahunnya untuk yang kita transplantasi sekitar pertumbuhan 5 sampai 7 centimeter,” katanya.

MUF ON Jadi Aksi Nyata Konservasi

Kacuk menegaskan, penyelenggaraan Mutiara Under Festival and Conservation (MUF ON) bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi wadah aksi nyata dalam menjaga kelestarian biota bawah laut.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Eco Fish House, yakni rumah ikan berbahan bambu yang sekaligus menjadi media transplantasi terumbu karang.

Ia menjelaskan, bambu dipilih karena mudah diperoleh di wilayah setempat sekaligus dinilai lebih cepat menarik ikan untuk datang dan berlindung.

“Untuk Eco Fish House berbahan alami dari bambu. Itu model rumah ikan yang juga kita beri transplantasi karang. Jadi kalau di Eco Fish House kita lebih cenderung rumah ikan plus transplantasi karang,” jelasnya.

Selain itu, Pokmaswas juga mengembangkan media transplantasi berbentuk hati atau bioreeftek cinta yang menggunakan rangka besi sebagai penyangga.

Pada rangka tersebut dipasang tempurung kelapa yang dimanfaatkan sebagai media menempel telur karang sehingga diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan koloni baru.

“Kemudian kita padukan dengan besi sebagai penyangganya. Kita masukkan tempurung kelapa sebagai tempat transplantasi karang,” ujarnya.

Ekosistem Laut Mulai Pulih

Menurut Kacuk, keberadaan terumbu karang buatan mulai memulihkan rantai ekosistem bawah laut.

Ia menjelaskan, terumbu karang menjadi habitat bagi plankton yang kemudian menarik ikan-ikan kecil hingga akhirnya didatangi ikan berukuran lebih besar.

“Kemudian ikan kecil muncul dan ikan besar muncul. Sehingga nelayan dengan harapan ketika cuaca di sini tidak bagus maka memancing di dalam teluk mudah-mudahan bisa mendapatkan hasil,” ungkapnya.

Ia mengakui, jumlah media transplantasi yang telah diturunkan ke laut selama empat tahun terakhir sudah mencapai ribuan unit sehingga sulit dihitung secara pasti.

“Dengan penambahan 100 ini selama 4 tahun ya sudah ribuan. Sudah ribuan yang berada di dalam,” pungkasnya.