PERISTIWA

Musim Kemarau 9.308 KK di Trenggalek Terdampak Kekeringan, Panggul Paling Parah

×

Musim Kemarau 9.308 KK di Trenggalek Terdampak Kekeringan, Panggul Paling Parah

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kegiatan rutin BPBD Trenggalek menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan.
Inti Berita:
• Bencana kekeringan di Kabupaten Trenggalek meluas hingga berdampak pada 9.308 KK di 43 desa dan 12 kecamatan, dengan wilayah terparah berada di Kecamatan Panggul.
​• BPBD Trenggalek melakukan penanganan tanggap darurat berupa penyaluran air bersih berkisar 12.000 hingga 18.000 liter per hari menggunakan empat armada tangki serta dukungan dari BBWS Brantas, Baznas, dan relawan.
​• Guna memperkuat penanganan hingga puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada Oktober–November, BPBD mengajukan bantuan sarana prasarana seperti tandon, terpal, dan jeriken ke Pemprov Jatim.

SUARA TRENGGALEK – Dampak kekeringan di Kabupaten Trenggalek terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat sebanyak 9.308 kepala keluarga (KK) di 12 kecamatan dan 43 desa terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Kecamatan Panggul.

“Sampai saat ini ada perkembangan terbaru bahwasanya terdampak di 12 kecamatan, di 43 desa. Yang paling parah adalah Kecamatan Panggul. Ini kalau keseluruhan jumlahnya hampir 9.308 KK ini yang terdampak kekeringan,” kata Triadi.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Trenggalek saat ini melakukan langkah tanggap darurat dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.

“Langkah yang kita lakukan memang saat ini tanggap darurat, jadi kita mengirimkan air bersih, dropping air bersih,” ujarnya.

Distribusi air bersih tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Di antaranya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), organisasi masyarakat, serta sejumlah penggerak sosial.

“Dan alhamdulillah kita juga dibantu rekan-rekan dari Baznas, kemudian organisasi masyarakat yang lain serta beberapa penggerak sosial yang saat ini ikut serta membantu pendistribusian air bersih,” jelasnya.

Terkait kondisi kemarau, Triadi menyebut berdasarkan estimasi BMKG, puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Oktober-November.

“Prediksi kemarau kalau menurut dari estimasi BMKG, memang puncaknya estimasi antara bulan Oktober-November,” katanya.

Ajukan Bantuan Sarana ke Pemprov Jatim

Untuk mendukung penanganan kekeringan, BPBD Trenggalek juga mengajukan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Stefanus mengatakan pihaknya memohon bantuan sarana dan prasarana kepada Gubernur Jawa Timur. Bantuan tersebut antara lain berupa terpal, tandon, jeriken, serta tambahan air bersih.

“Saat ini kami memohon Ibu Gubernur Provinsi Jawa Timur berkaitan dengan sarana prasarana seperti terpal, kemudian tandon, kemudian jerigen, termasuk penambahan air bersih,” ujarnya.

Jumlah tandon dan terpal yang diajukan menyesuaikan jumlah desa yang terdampak. Estimasi pengajuan tersebut berada di atas 50 unit.

“Ya, karena kita meminta melihat jumlah desa yang terdampak dan sebagainya, estimasi ya di atas 50 sekian,” jelas Stefanus.

Pengajuan Dropping Air Bisa Lewat Aplikasi

Untuk mendapatkan bantuan dropping air bersih, pemerintah desa atau kelurahan harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada BPBD.

Selain surat tertulis, BPBD Trenggalek juga telah menyediakan mekanisme pengajuan melalui aplikasi yang diinformasikan melalui akun Instagram BPBD Trenggalek serta nomor WhatsApp yang telah disiapkan.

Menurut Triadi, mekanisme tersebut diperlukan agar BPBD dapat memastikan jumlah warga yang terdampak serta lokasi yang membutuhkan bantuan.

“Kalau berkaitan karena kita memastikan standar pelayanan minimal, jumlah yang terdampak warganya berapa, kemudian RT, RW yang terdampak lokasinya,” katanya.

Data tersebut menjadi dasar BPBD dalam menentukan kebutuhan air yang harus dikirim ke masing-masing wilayah.

“Sehingga ketika dropping air bersih memastikan nanti BPBD dan di back up TNI, Polri memastikan berapa jumlah kebutuhan air bersih yang harus dikirimkan,” ujarnya.

BPBD Siapkan Empat Armada Tangki

Untuk mendukung distribusi air bersih, BPBD Trenggalek saat ini memiliki sekitar empat armada tangki. Dua armada ditempatkan di wilayah Panggul dan dua lainnya berada di Trenggalek.

“Saat ini kami ada kurang lebih empat armada tangki di mana dua yang ada di Panggul dan dua di Trenggalek,” terang Stefanus.

Selain armada milik BPBD, dukungan juga datang dari Kementerian Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PUSDA) melalui Balai Besar Wilayah Sungai Brantas yang meminjamkan armada tangki untuk membantu distribusi air bersih.

Adapun volume distribusi air bersih setiap hari menyesuaikan kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak. BPBD memperkirakan distribusi berada di kisaran 12.000 hingga 18.000 liter per hari.

“Kalau jumlahnya sesuai dengan kebutuhan air bersih, jadi kita bergantian. Estimasi antara 12.000 sampai 18.000,” pungkasnya.