BUDAYA

Jamasan Pusaka, Ketua DPRD Trenggalek Ingatkan Tanggung Jawab Moral Seorang Pemimpin

×

Jamasan Pusaka, Ketua DPRD Trenggalek Ingatkan Tanggung Jawab Moral Seorang Pemimpin

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi saat melakukan penjamasan payung pusaka milik Trenggalek.
Inti Berita:
• Jamasan sekitar 14 pusaka menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek menjadi momentum untuk merawat peninggalan sejarah.
• Sekaligus mengingat kembali pesan leluhur tentang tanggung jawab pemimpin dalam menyelesaikan persoalan dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

SUARA TRENGGALEK – Menjelang peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek menggelar tradisi jamasan pusaka di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Sabtu (29/8/2026).

Dalam rangkaian hari jadi dengan tema Hambeging Bumi itu sekitar 6 pusaka dijamas dalam prosesi tersebut. Jamasan dilakukan dengan tradisi Jawa dan diikuti para pejabat yang mengenakan pakaian adat Jawa.

Usai pelaksanaan jamasan, Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi mengatakan jamasan pusaka bukan sekadar tradisi membersihkan benda pusaka peninggalan masa lalu.

Menurutnya, pusaka yang terdiri dari tombak, payung dan sejumlah peninggalan lainnya memiliki filosofi yang berkaitan dengan sejarah serta pesan leluhur Trenggalek.

“Ya, kita hari ini kan melaksanakan jamasan pusaka ya. Artinya kita membersihkan pusaka-pusaka yang ada di Trenggalek,” kata Doding, Sabtu (29/8/2026).

Ia menyebut salah satu pusaka yang memiliki pesan khusus adalah tombak Korowelang.

Menurut Doding, nama Korowelang mengandung filosofi mengenai tanggung jawab seorang pemimpin terhadap persoalan masyarakat.

“Pusaka namanya tombak kita itu Korowelang, itu mengandung filosofi, mengandung pesan dari para leluhur kita, pendiri Trenggalek bahwa seorang pemimpin rakyat itu harus memperhatikan dua perkara,” jelasnya.

Doding menjelaskan, kata “koro” dimaknai sebagai perkara atau persoalan. Sementara “welang” berarti piwulang atau pembelajaran.

“Perkara-perkara rakyat itu, tugasnya pemimpin harus menyelesaikan permasalahan di rakyat. Juga Welang itu piwulang,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, pemimpin tidak hanya dituntut menyelesaikan persoalan masyarakat, tetapi juga memberikan pembelajaran dan pelayanan yang baik.

“Jadi, sebagai pemimpin juga harus memberi pembelajaran, memberi pendidikan, kesehatan kepada masyarakat yang baik,” katanya.

Pesan tersebut, lanjut Doding, menjadi pengingat bagi para pemimpin di Trenggalek untuk bekerja menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat.

“Sebagai pemimpin di Trenggalek kita harus bisa bener-bener bekerja menyelesaikan permasalahan yang ada di Trenggalek. Terus nanti pengajaran pendidikan kepada masyarakat kita yang baik,” tegasnya.

Selain tombak Korowelang, Doding juga menyinggung filosofi payung Songsong Tunggal Hawa Bawono.

Menurutnya, payung tersebut menggambarkan kewajiban seorang pemimpin untuk menaungi seluruh kemaslahatan masyarakat Trenggalek.

“Ya, kaya payung Songsong Hawa Tunggal Bawono misalkan itu seorang pemimpin harus memayungi seluruh kemaslahatan Trenggalek baik dari itu secara kehidupan rakyatnya, secara ekonomi, secara kesehatan, secara alam kita harus kita memberi sumbangsih yang baik pada masyarakat,” jelasnya.

Dalam prosesi tersebut juga terdapat Prasasti Kamulan yang disebut sebagai salah satu peninggalan yang mengandung nilai sejarah.

Doding menilai seluruh pusaka tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan sejarah dan akar leluhur Trenggalek.

“Itu semuanya mengandung filosofi bahwa kita tidak boleh lupa dengan sejarah akar leluhur kita,” ujarnya.

Sementara itu, Hari Jadi ke-832 Trenggalek tahun 2026 mengusung tema “Hambeging Bumi”.

Tema tersebut mengajak masyarakat agar tidak melupakan jati diri Trenggalek yang tumbuh dan berkembang dari bumi serta tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Bagi Doding, pesan yang terkandung dalam pusaka-pusaka tersebut merupakan nilai moral yang perlu dijaga bersama.

“Jadi, ini adalah pesan moral yang ditinggalkan oleh para leluhur kita yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

Ada 6 pusaka yang dijamas hari ini, untuk pusaka Songsong ayom sih dan Tumbak kyai Wignyo murti merupakan pemberian dari kraton ngayogyakarta

  1. Songsong ayom sih.
  2. Tumbak kyai Wignyo murti
  3. Songsong tunggul nogo
  4. Songsong tunggul projo
  5. Tumbak kyai Karawelang
  6. Lambang jwalita praja karana.