OLAHRAGA

Askab PSSI Trenggalek Absen di Piala Presiden U-10 dan U-12, Imbas Polemik Asprov Jatim

×

Askab PSSI Trenggalek Absen di Piala Presiden U-10 dan U-12, Imbas Polemik Asprov Jatim

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo saat menyampaikan absennya PSSI di Piala Presiden.
Inti Berita:
• Askab PSSI Trenggalek memutuskan tidak menggelar Piala Presiden U-10 dan U-12 sekaligus tidak mengirim wakil ke tingkat Jawa Timur.
• Keputusan tersebut diambil sebagai respons terhadap polemik kepengurusan Asprov PSSI Jawa Timur dan belum optimalnya kesiapan administrasi klub melalui aplikasi SIAP.
• Ke depan, Askab akan mengumpulkan seluruh klub anggota untuk melakukan evaluasi dan menyusun langkah pembenahan demi meningkatkan tata kelola serta prestasi sepak bola di Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK Askab PSSI Trenggalek memutuskan tidak menggelar turnamen Piala Presiden kelompok usia U-10 dan U-12 pada tahun ini.

Keputusan tersebut berdampak pada tidak adanya wakil Kabupaten Trenggalek yang berlaga di putaran tingkat Provinsi Jawa Timur.

Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, menegaskan keputusan tersebut bukan dipicu persoalan internal di tingkat kabupaten.

Menurutnya, langkah itu diambil sebagai respons atas polemik kepengurusan yang masih berlangsung di tubuh Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur, khususnya terkait legalitas kewenangan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asprov.

“Waktu itu kami menerima masukan dan saran agar tidak menggulirkan kompetisi tersebut. Sikap kami di Askab sangat jelas. Jika ada klub lokal yang tetap ingin berpartisipasi silakan saja, tetapi Askab secara kelembagaan tidak ingin terlibat karena polemik di tingkat Asprov belum menemui titik temu,” ujar Puguh Purnomo.

Polemik Asprov Jadi Pertimbangan Utama

Puguh menjelaskan, sejak awal Askab telah menyampaikan sikap kepada seluruh pengurus maupun klub anggota terkait kondisi yang terjadi di tingkat provinsi.

Ia juga mengimbau seluruh klub agar berhati-hati dalam menyikapi pelaksanaan kompetisi yang masih dibayangi konflik organisasi.

Menurutnya, regulasi di lingkungan PSSI membatasi kewenangan seorang pelaksana tugas (Plt), termasuk dalam mengambil keputusan strategis mengenai penyelenggaraan kompetisi resmi.

“Aturan organisasi dengan tegas membatasi ruang gerak dan kewenangan seorang Plt. Alasan itulah yang membuat kami ragu ketika Asprov tetap memaksakan kompetisi berjalan,” katanya.

Kesiapan Klub Masih Terbatas

Selain persoalan di tingkat provinsi, Askab PSSI Trenggalek juga masih menghadapi tantangan dalam kesiapan administrasi klub.

Puguh mengungkapkan, hingga kini baru sebagian kecil klub anggota yang mampu mengoperasikan aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) secara mandiri.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan tambahan untuk tidak memaksakan penyelenggaraan kompetisi usia dini.

“Klub yang benar-benar siap mengoperasikan aplikasi SIAP jumlahnya masih sangat terbatas. Faktor ini juga memperkuat pertimbangan kami untuk tidak memaksakan kompetisi,” jelasnya.

Akibat keputusan tersebut, Trenggalek dipastikan tidak memiliki wakil pada putaran Piala Presiden tingkat Jawa Timur.

Meski demikian, Puguh menyebut langkah serupa juga diambil oleh sejumlah Askab lain di Jawa Timur yang memilih tidak mengirimkan tim karena situasi di tubuh Asprov dinilai belum kondusif.

“Bukan hanya Askab Trenggalek yang memutuskan tidak mengirim tim. Banyak daerah lain juga mengambil langkah serupa karena mereka melihat situasi di tubuh Asprov saat itu belum kondusif,” imbuhnya.

Askab Siapkan Forum Evaluasi Bersama Klub

Di tengah kondisi tersebut, Askab PSSI Trenggalek berencana menggelar forum bersama seluruh klub anggota dalam waktu dekat.

Forum tersebut akan dimanfaatkan untuk mengevaluasi berbagai persoalan organisasi, mempercepat implementasi aplikasi SIAP di seluruh klub, membahas kesiapan perangkat pertandingan, hingga menyusun rencana pelaksanaan Liga Trenggalek Soccer League (TSL).

Puguh memastikan setiap bidang di kepengurusan Askab akan memaparkan laporan pertanggungjawaban sekaligus program kerja secara terbuka kepada seluruh klub anggota.

“Nanti bidang kompetisi akan menjelaskan seluruh agenda turnamen ke depan, bidang perwasitan memaparkan rencana penyegaran wasit, begitu juga bidang lainnya. Harapan kami, forum ini melahirkan sistem yang lebih sehat demi kemajuan sepak bola Trenggalek,” pungkasnya.

Rencana evaluasi tersebut muncul di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap tata kelola sepak bola di Trenggalek.

Dalam beberapa pekan terakhir, perhatian juga tertuju pada polemik administrasi data pemain di aplikasi SIAP yang melibatkan Askab PSSI Trenggalek dan SSB Shrimp Army.