Inti Berita:
• Admin Askab PSSI Trenggalek mengakui kesalahan dalam pengelolaan aplikasi SIAP yang berdampak pada data pemain Shrimp Army.
• Admin Askab PSSI menyatakan siap meminta maaf secara resmi dan berjanji Askab tidak lagi mencampuri akun SIAP milik klub.
• Polemik ini sekaligus memunculkan desakan evaluasi pembinaan sepak bola usia dini dan tata kelola administrasi pemain di Trenggalek.
SUARA TRENGGALEK – Polemik pengelolaan data pemain dalam aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) yang menyeret Askab PSSI Trenggalek dan Sekolah Sepak Bola (SSB) Shrimp Army akhirnya mendapat respons langsung dari internal Askab.
Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni mengakui adanya kesalahan dalam pengelolaan akun SIAP yang berdampak pada data pemain milik Shrimp Army.
Persoalan ini mencuat setelah SSB Shrimp Army gagal menurunkan tim pada ajang Piala Soeratin U-15 2026, Kamis (25/6/2026).
Klub asal Kecamatan Watulimo itu menilai sejumlah pemain yang sebelumnya terdaftar dalam database mereka hilang dari akun SIAP tanpa sepengetahuan pengelola tim.
Menanggapi tudingan tersebut, Bima yang juga menjabat Wakil Sekretaris Askab PSSI Trenggalek mengakui bahwa pada awal penerapan SIAP, pengelolaan aplikasi memang dipusatkan di Askab karena sebagian besar klub belum mampu mengoperasikan sistem secara mandiri.
“Pada waktu itu saat pengajuan aplikasi SIAP, tidak semua peserta siap memiliki dan mengoperasikan aplikasi tersebut. Yang siap hanya sekitar tiga tim, termasuk Shrimp Army. Saat itu yang disahkan hanya enam tim,” ujar Bima.
Menurut dia, secara prinsip kepemilikan akun SIAP memang berada di masing-masing tim. Namun karena keterbatasan kemampuan administrasi klub saat itu, pengelolaan masih dilakukan melalui Askab.
Akui Kesalahan Ikut Campur pada SIAP
Bima mengakui dirinya ikut terlibat dalam pengelolaan data pemain karena berstatus sebagai admin kabupaten.
Ia menyebut keterlibatan tersebut menjadi sumber persoalan yang kini dipersoalkan oleh Shrimp Army.
“Mungkin itu juga kesalahan saya karena ikut campur dalam aplikasi SIAP tersebut, termasuk dalam pencabutan pemain dan lain-lain karena admin kabupaten itu saya,” katanya.
Ia bahkan secara terbuka mengakui bahwa pengeluaran pemain dari akun Shrimp Army merupakan kesalahan pribadinya.
“Itu kembali lagi kesalahan saya pribadi sebagai admin Askab dan juga memiliki akses akun Shrimp Army. Saya mencampuri hak mereka,” tegasnya.
Atas kejadian tersebut, Bima menyatakan siap menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada Shrimp Army.
“Mungkin secara pribadi maupun organisasi saya akan meminta maaf secara resmi kepada tim Shrimp Army karena telah ikut campur terhadap hak mereka dalam memegang aplikasi SIAP,” ujarnya.
Askab Janji Tidak Lagi Campuri Akun Klub
Sebagai langkah perbaikan, Askab PSSI Trenggalek berkomitmen mengembalikan penuh pengelolaan akun SIAP kepada masing-masing klub.
Bima mengatakan ke depan Askab hanya akan berperan dalam sosialisasi dan pendampingan teknis tanpa ikut mengelola akun tim.
“Untuk haknya, Askab sendiri tidak akan mencampuri urusan tersebut lagi,” katanya.
Ia menjelaskan saat ini baru enam klub di Trenggalek yang telah memiliki akun SIAP, yakni Singa Muda, Poras, Shrimp Army, PSBM Munjungan, Jupiter, dan Kampak.
Menurutnya, Askab berencana membuka pengajuan akun baru dalam beberapa gelombang agar semakin banyak klub yang terintegrasi dengan sistem administrasi PSSI.
“Nanti tim-tim akan kami sosialisasi terkait cara pendaftaran dan pengelolaannya agar mereka memiliki haknya sendiri-sendiri,” jelasnya.
SIAP Jadi Syarat Mengikuti Kompetisi Resmi
Bima menegaskan keberadaan akun SIAP menjadi syarat penting bagi klub yang ingin mengikuti kompetisi resmi yang terintegrasi dengan PSSI.
“Kalau tim tidak masuk dalam aplikasi SIAP, tidak bisa mengikuti kegiatan yang diadakan provinsi maupun kabupaten yang terintegrasi dengan pusat,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui masih banyak klub yang belum tertarik mengurus administrasi karena menganggap prosesnya rumit.
“Kadang mereka berpikir sepak bola kok terlalu ribet urusan administrasi. Padahal ini penting untuk akses kompetisi hingga tingkat nasional,” katanya.
Shrimp Army Minta Evaluasi Pembinaan
Sebelumnya, Pemilik Shrimp Army, Anjar Priadi Putra, menilai persoalan SIAP menjadi salah satu indikator perlunya evaluasi pembinaan sepak bola usia dini di Trenggalek.
Menurutnya, jumlah peserta Piala Soeratin 2026 yang hanya diikuti lima tim U-15 dan delapan tim U-13 menunjukkan pembinaan akar rumput belum berjalan optimal.
“Kami sebagai peserta melihat perlu evaluasi besar mengapa hanya sedikit tim yang ikut, padahal ada puluhan SSB di Trenggalek,” ujarnya.
Anjar mengaku telah menyampaikan persoalan data pemain tersebut kepada Askab sejak Mei 2025. Namun hingga pelaksanaan Piala Soeratin 2026, ia merasa belum mendapatkan penjelasan yang memadai.
“Saya sudah meminta penjelasan sejak Mei 2025 sampai sekarang penjelasan tidak ada. Ini perlu menjadi evaluasi besar bagi Askab,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan utama SSB bukan sekadar bantuan perlengkapan latihan, melainkan pendampingan dalam pengelolaan organisasi dan administrasi pemain.
“Kami mendapatkan bantuan bola, tetapi yang kami butuhkan adalah pendampingan, termasuk pengelolaan aplikasi SIAP,” katanya.











