Inti Berita:
• SSB Shrimp Army mengkritik pembinaan sepak bola usia dini Askab PSSI Trenggalek usai gagal mengikuti Piala Soeratin U-15.
• Shrimp Army mengaku sejumlah pemain hilang dari database SIAP tanpa sepengetahuan klub.
• Keluhan terkait administrasi pemain disebut telah disampaikan sejak Mei 2025.
SUARA TRENGGALEK – Pelaksanaan Piala Soeratin 2026 di Kabupaten Trenggalek diwarnai kritik terhadap sistem administrasi dan pembinaan sepak bola usia dini yang dijalankan Askab PSSI Trenggalek.
Kritik tersebut datang dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Shrimp Army asal Kecamatan Watulimo yang mengaku gagal menurunkan tim U-15 akibat persoalan administrasi pemain dalam aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP).
Pemilik Tim Sepak Bola Shrimp Army, Anjar Priadi Putra menilai minimnya jumlah peserta pada Piala Soeratin tahun ini menjadi sinyal bahwa pembinaan sepak bola usia muda di Trenggalek perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Kami sebagai peserta untuk Piala Soeratin kali ini ada 5 tim dari U-15 dan hanya 8 tim U-13. Terhitung sedikit dibandingkan dengan lalu. Menurut kami perlu sebuah evaluasi besar kenapa hanya sekian tim mengingat kurang lebih puluhan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Trenggalek,” ujarnya.
Menurut Anjar, Shrimp Army telah melakukan pembinaan terhadap pemain secara berkelanjutan sejak 2023.
Namun, upaya yang dilakukan tersebut tidak berbuah keikutsertaan pada kategori U-15 karena sejumlah pemain yang sebelumnya tercatat dalam database klub disebut hilang dari akun SIAP milik mereka.
Ia menilai kondisi tersebut justru menyulitkan klub yang selama ini aktif melakukan pembinaan pemain usia dini.
“Dari pihak Askab yang memfasilitasi kami pembinaan di grassroot, faktanya kami lebih ribet. Mengingat aplikasi SIAP yang seharusnya menjadi hak kami ternyata dikelola Askab,” katanya.
Anjar mengaku terkejut ketika mengetahui beberapa pemain yang sebelumnya tercatat sebagai bagian dari Shrimp Army tidak lagi muncul dalam database klub.
“Dan ironisnya beberapa tim kami yang seharusnya mewakili U-15 justru dikeluarkan dari aplikasi SIAP kami, database kami, dan itu menjadi bukan pemain kami tanpa sepengetahuan dari kami,” lanjutnya.
Keluhan Disampaikan Sejak 2025
Persoalan tersebut, kata Anjar, sebenarnya telah disampaikan kepada Askab PSSI Trenggalek sejak Mei 2025. Namun hingga pelaksanaan Piala Soeratin 2026, dirinya mengaku belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan.
“Saya sudah meminta penjelasan sejak Mei 2025 sampai sekarang penjelasan tidak ada. Mungkin ini perlu menjadi evaluasi besar oleh Askab, ke mana arah pembinaan yang akan dilakukan Askab dan bagaimana mendampingi SSB ini untuk bisa tumbuh dan berjalan,” tegasnya.
Menurut Anjar, kebutuhan utama SSB bukan hanya bantuan perlengkapan latihan seperti bola, melainkan pendampingan yang lebih konkret dalam pengelolaan klub dan administrasi pemain.
“Karena kami merasakan belum ada kontribusi yang nyata di bawah yang dilakukan Askab. Kami mendapatkan bantuan bola 5 sampai 10 biji, bukan itu harapan kami, tapi pendampingan termasuk salah satunya pengelolaan aplikasi SIAP,” ujarnya.
Kritik tersebut sekaligus menyoroti kondisi pembinaan sepak bola akar rumput di Trenggalek. Pasalnya, dari puluhan SSB yang ada, hanya sebagian kecil yang mengikuti Piala Soeratin tahun ini.
Askab Akui Ada Kesalahan Administrasi
Menanggapi kritik tersebut, Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni menjelaskan bahwa pada awal penerapan aplikasi SIAP tidak semua SSB mampu mengelola sistem secara mandiri. Karena itu, Askab sempat membantu proses administrasi pemain.
“Pada waktu itu pertama saat pengajuan aplikasi SIAP untuk tim-tim ini tidak semua peserta itu siap memiliki aplikasi ini, hanya 3 yang siap,” jelasnya.
Bima yang juga menjabat Wakil Sekretaris Askab PSSI Trenggalek mengakui kemungkinan terjadi kesalahan dalam proses administrasi pemain karena keterlibatan admin kabupaten dalam sistem tersebut.
“Kemungkinan itu kesalahan saya, karena ikut campur dalam pencabutan pemain, karena admin kabupaten saya,” katanya.
Sebagai langkah perbaikan, Askab berjanji akan membenahi tata kelola aplikasi SIAP dan menyerahkan pengelolaannya administrasi aplikasi SIAP sepenuhnya kepada masing-masing klub atau tim SSB.
“Setelah ini ada perbaikan soal aplikasi tersebut, dan Askab sendiri tidak akan mencampuri aplikasi itu,” ujarnya.











