SUARA TRENGGALEK – Katarak merupakan gangguan penglihatan yang terjadi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat difokuskan dengan baik ke retina.
Kondisi ini membuat penglihatan menjadi buram dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Meski sering dikaitkan dengan usia lanjut, katarak sebenarnya dapat terjadi pada berbagai kelompok usia.
Gangguan ini termasuk salah satu penyebab utama penurunan penglihatan di dunia. Katarak dapat berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan keluhan yang berarti pada tahap awal.
Karena prosesnya yang bertahap, banyak orang baru menyadari adanya masalah ketika penglihatan mulai terganggu secara signifikan.
Oleh sebab itu, memahami berbagai penyebab katarak dan faktor risiko katarak menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mata sejak dini.
Penyebab Katarak Tidak Hanya Karena Faktor Usia
Banyak orang menganggap katarak hanya dialami lansia. Padahal, proses penuaan hanyalah salah satu faktor yang dapat memicu terjadinya katarak.
Seiring bertambahnya usia, protein pada lensa mata dapat mengalami perubahan sehingga membentuk kekeruhan yang menghalangi masuknya cahaya ke retina. (klinikmatanusantara.com)
Pada usia lanjut, kemampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan sel juga mengalami penurunan. Akibatnya, lensa mata menjadi lebih rentan mengalami perubahan struktur yang menyebabkan penglihatan tidak lagi jernih.
Meski demikian, tidak semua orang lanjut usia akan mengalami katarak dengan tingkat keparahan yang sama karena kondisi kesehatan dan gaya hidup turut memengaruhi risikonya.
Namun, kondisi tersebut bukan satu-satunya penyebab. Sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami katarak lebih dini.
Bahkan pada beberapa kasus, katarak dapat muncul pada usia produktif akibat kombinasi faktor kesehatan, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari.
Gaya Hidup Tidak Sehat Berisiko Memicu Katarak
Kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko katarak. Paparan zat berbahaya dalam rokok dapat mempercepat proses kerusakan pada lensa mata.
Selain itu, konsumsi minuman beralkohol berlebihan juga dapat memperbesar risiko gangguan penglihatan akibat katarak. (klinikmatanusantara.com)
Asap rokok mengandung berbagai senyawa kimia yang dapat meningkatkan stres oksidatif pada jaringan mata. Kondisi ini dapat mempercepat kerusakan protein pada lensa sehingga kekeruhan terbentuk lebih cepat.
Risiko tersebut cenderung meningkat pada perokok aktif yang telah memiliki kebiasaan merokok dalam jangka waktu lama.
Pola makan yang kurang sehat dan minim asupan gizi juga disebut dapat berkontribusi terhadap kesehatan mata yang menurun.
Kurangnya konsumsi buah dan sayuran yang kaya antioksidan dapat membuat mata lebih rentan terhadap kerusakan akibat radikal bebas.
Sebaliknya, pola makan seimbang yang mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin E, serta mineral penting dapat membantu menjaga kesehatan mata secara keseluruhan.
Selain itu, paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan tanpa perlindungan juga dapat meningkatkan risiko katarak.
Oleh karena itu, penggunaan kacamata hitam yang mampu menyaring sinar UV saat beraktivitas di luar ruangan dapat menjadi salah satu langkah pencegahan yang bermanfaat.
Diabetes dan Penyakit Metabolik
Penyakit metabolik seperti diabetes mellitus menjadi faktor risiko lain yang perlu diperhatikan. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memengaruhi kondisi lensa mata dan mempercepat pembentukan katarak. Karena itu, pengelolaan diabetes yang baik juga berperan dalam menjaga kesehatan penglihatan. (klinikmatanusantara.com)
Pada penderita diabetes, kadar gula yang tinggi dapat menyebabkan perubahan pada cairan dan jaringan mata. Kondisi tersebut membuat lensa lebih mudah mengalami pembengkakan dan perubahan struktur yang akhirnya memicu kekeruhan. Tidak mengherankan jika penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami katarak dibandingkan individu tanpa diabetes.
Selain diabetes, beberapa gangguan metabolik lainnya juga dapat memengaruhi kesehatan mata. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin dan pengendalian penyakit kronis menjadi bagian penting dalam upaya mencegah berbagai komplikasi, termasuk katarak.
Cedera Mata dan Penggunaan Obat Tertentu
Riwayat trauma atau cedera pada mata juga dapat menyebabkan katarak. Benturan keras, luka akibat benda tajam, maupun paparan bahan kimia tertentu dapat merusak struktur lensa mata sehingga memicu terbentuknya kekeruhan. Katarak akibat cedera dapat muncul segera setelah trauma terjadi atau berkembang beberapa waktu kemudian.
Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, terutama golongan kortikosteroid, diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya kekeruhan pada lensa mata. (klinikmatanusantara.com)
Karena itu, penggunaan obat-obatan tersebut sebaiknya selalu mengikuti anjuran dokter. Pasien yang memerlukan terapi jangka panjang umumnya disarankan menjalani pemeriksaan mata secara berkala untuk memantau kemungkinan efek samping terhadap penglihatan.
Faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah riwayat operasi mata serta adanya anggota keluarga yang mengalami katarak pada usia relatif muda. Faktor genetik dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap perubahan pada lensa mata sehingga risiko katarak menjadi lebih tinggi.
Kenali Gejala Sejak Dini
Katarak umumnya berkembang secara perlahan. Penderita sering mengeluhkan penglihatan kabur, warna terlihat lebih redup, mudah silau saat melihat cahaya terang, hingga kesulitan melihat pada malam hari. Pada tahap awal, gejala dapat terasa ringan sehingga kerap tidak disadari. (klinikmatanusantara.com)
Beberapa orang juga mengalami perubahan ukuran kacamata yang lebih sering dari biasanya karena kualitas penglihatan terus berubah. Dalam kondisi tertentu, penderita dapat melihat bayangan ganda pada satu mata atau merasa aktivitas membaca menjadi semakin sulit meskipun pencahayaan cukup.
Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Deteksi dini dapat membantu menentukan penanganan yang tepat sebelum gangguan penglihatan semakin berat.
Dengan pemeriksaan rutin, dokter dapat memantau perkembangan katarak dan memberikan rekomendasi terapi yang sesuai dengan kondisi pasien.
Menjaga pola hidup sehat, mengendalikan penyakit kronis, menghindari kebiasaan merokok, serta melindungi mata dari paparan sinar UV merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu menurunkan risiko katarak.
Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, upaya tersebut dapat membantu menjaga kualitas penglihatan dalam jangka panjang.











