Inti Berita:
• Program Cek Kesehatan Gratis di Trenggalek telah melayani 181.037 warga atau 52,8 persen dari target sasaran 343.092 orang hingga Juni 2026.
• Dari hasil skrining tersebut, sekitar 26 persen peserta terdeteksi berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa, dengan kasus terbanyak ditemukan pada usia produktif.
SUARA TRENGGALEK – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Trenggalek telah melampaui target nasional pada semester pertama 2026.
Dari target cakupan sebesar 46 persen dari seluruh penduduk, realisasi layanan hingga Juni 2026 telah mencapai 52,8 persen atau sebanyak 181.037 warga dari total sasaran 343.092 orang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek, drg. Andiek Muarifin, mengatakan CKG merupakan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang menjadi program prioritas Presiden sehingga wajib dilaksanakan seluruh daerah.
“Target dari CKG itu sendiri adalah 46 persen dari jumlah penduduk. Saat ini di Kabupaten Trenggalek sudah tercapai 52,8 persen sampai dengan bulan Juni tahun 2026,” ujar Andiek.
Ia menjelaskan, sasaran CKG mencakup seluruh kelompok usia dalam siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi baru lahir, balita, remaja, usia produktif hingga lanjut usia.
Berdasarkan hasil skrining yang telah dilakukan, Dinkes menemukan sekitar 26 persen atau 43.448 orang peserta memiliki potensi masalah kesehatan jiwa.
Temuan tersebut muncul hampir di seluruh kelompok usia, meski paling banyak ditemukan pada usia produktif.
“Dari sekian itu ditemukan memang ada potensi masalah kejiwaan kurang lebih sekitar 26 persen. Memang paling tinggi ada di usia produktif, tetapi juga terdeteksi pada anak-anak remaja atau usia sekolah,” jelasnya.
Menurut Andiek, capaian skrining kesehatan jiwa pada anak usia sekolah tahun ini masih belum maksimal karena proses penjaringan baru akan dilakukan pada awal tahun ajaran baru.
“Nanti kita akan lakukan penjaringan atau screening di awal tahun ajaran baru. Jadi nanti menjadi program rutin CKG anak sekolah,” katanya.
Bullying hingga Gadget Jadi Faktor Pemicu
Andiek mengungkapkan sejumlah faktor diduga memengaruhi munculnya gangguan kesehatan jiwa pada anak usia sekolah.
“Kalau di anak sekolah memang ada beberapa, misalnya kasus bullying. Kemudian penggunaan gadget yang berlebihan juga memengaruhi masalah kejiwaan. Selain itu faktor pergaulan juga ikut berpengaruh,” ujarnya.
Program Berlanjut Setiap Tahun
Ia menegaskan CKG bukan program satu kali, melainkan akan terus dilaksanakan setiap tahun dengan target yang terus meningkat.
“Tahun ini targetnya 46 persen. Tahun lalu 40 persen. Tahun depan pasti akan dinaikkan lagi. Masing-masing kelompok usia minimal mendapat CKG satu kali dalam setahun,” terang Andiek.
Dengan demikian, masyarakat yang telah menjalani pemeriksaan tahun ini tetap akan kembali menjalani skrining pada tahun berikutnya.
Hasil Skrining Ditindaklanjuti
Dinkes memastikan setiap temuan dalam CKG akan ditindaklanjuti sesuai kondisi pasien. Penanganan dilakukan mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit apabila diperlukan.
“Kalau masih bisa diintervensi di Puskesmas, maka cukup dilakukan pemeriksaan atau pengobatan di Puskesmas. Tetapi kalau memang perlu dirujuk, maka Puskesmas akan merujuk ke rumah sakit sesuai kondisi pasien,” jelasnya.
Menurut Andiek, tindak lanjut tidak selalu berupa pengobatan. Sebagian kasus cukup diberikan edukasi, sementara kasus yang lebih kompleks akan mendapatkan penanganan komprehensif dengan melibatkan dokter spesialis sesuai kebutuhan.











