Inti Berita:
• CKG terintegrasi skrining TBC di Pogalan, Trenggalek mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
• Dengan jumlah pendaftar mencapai sekitar 120 orang.
• Sementara pemeriksaan TBC dilakukan menggunakan radiologi portabel untuk mendekatkan layanan kepada warga.
SUARA TRENGGALEK – Antusiasme warga mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terintegrasi skrining Tuberkulosis (TBC) di Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, cukup tinggi.
Dari sekitar 100 warga yang sebelumnya diundang, jumlah pendaftar dalam kegiatan yang digelar di Balai Desa/Kecamatan Pogalan, Rabu (26/8/2026), mencapai lebih dari 120 orang.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek bersama Puskesmas Ngulankulon.
Warga yang mengikuti pemeriksaan mendapatkan sejumlah layanan kesehatan, mulai dari pengecekan berat badan, tinggi badan, tekanan darah, kadar gula darah hingga skrining TBC menggunakan peralatan radiologi portabel.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek, drg Andiek Muarifin, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mempercepat penemuan kasus TBC sekaligus memberikan pemeriksaan kesehatan dasar kepada masyarakat.
“Hari ini kita melakukan kegiatan tracing penyakit TBC yang terintegrasi dengan pemeriksaan cek kesehatan gratis,” ujar drg Andiek.
Menurutnya, pemeriksaan CKG menyasar seluruh kelompok usia atau siklus hidup. Mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa hingga lanjut usia.
Pemeriksaan juga mencakup tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi, skrining diabetes melitus serta pemeriksaan TBC.
“Jadi, pasien-pasien atau yang hadir di Balai Desa Pogalan ini akan dilakukan pemeriksaan mulai dari tensi, apakah hipertensi, kemudian skrining diabetes melitus. Kemudian yang paling penting juga adalah penyakit TBC,” jelasnya.
Integrasi CKG dengan skrining TBC dilakukan agar pemeriksaan kesehatan tidak hanya berfokus pada penyakit tidak menular, tetapi juga membantu menemukan penyakit menular.
“Jadi, ini diintegrasikan. Ada dua program, CKG dan tuberkulosis, dan dilakukan bersama-sama,” katanya.
Andalkan Rontgen Portable
Untuk mempercepat penemuan kasus TBC, Dinkes PPKB Trenggalek mendapatkan satu unit peralatan radiologi portabel dari Kementerian Kesehatan.
Peralatan tersebut dapat dibawa ke berbagai lokasi sehingga pemeriksaan radiologi tidak hanya dilakukan secara statis di fasilitas kesehatan.
“Portable radiologi ini artinya alat radiologi yang bisa kita lebih fleksibel, bisa dibawa ke mana-mana, tidak statis di suatu tempat, misalnya di rumah sakit,” imbuhnya.
Penggunaan alat tersebut sekaligus menjadi upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Dinkes PPKB Trenggalek berencana menggunakan peralatan radiologi portabel secara bergerak dengan menyasar desa-desa.
“Untuk menjemput bola. Jadi, masyarakat tidak harus datang ke faskes, cukup ke desa yang dekat,” ujarnya.
Saat ini baru terdapat satu unit radiologi portabel. Namun, Dinkes PPKB Trenggalek berharap tambahan satu unit dari Kementerian Kesehatan dapat segera terealisasi.
“Ini baru satu unit. Insyaallah kemarin dari Kementerian Kesehatan juga mau mengirim lagi satu. Mudah-mudahan nanti bisa terealisasi,” kata drg Andiek.
Keterbatasan kapasitas alat membuat pemeriksaan harus dilakukan secara bertahap. Dalam kegiatan di Pogalan, awalnya hanya sekitar 100 warga yang diundang. Namun, jumlah pendaftar mencapai sekitar 120 orang.
“Alat ini sendiri juga punya maksimum kapasitas. Sehingga hari ini yang diundang kurang lebih 100. Tapi nampaknya animo masyarakat cukup tinggi. Tadi yang mendaftar saya cek sudah 100 lebih, 120-an,” ungkapnya.
Bagi warga yang belum mendapatkan pemeriksaan, Dinkes PPKB Trenggalek akan mempertimbangkan penjadwalan ulang, khususnya di lokasi dengan antusiasme masyarakat tinggi.
“Manakala hari ini belum bisa ter-cover semua, kita akan coba lihat lagi apakah nanti kita buat reschedule jadwal di tempat-tempat yang memang animonya bagus,” jelasnya.
Capaian CKG Capai 50 Persen
drg Andiek mengatakan, pelaksanaan CKG di Kabupaten Trenggalek hingga Agustus 2026 telah mencapai sekitar 50 persen.
Sementara target yang ditetapkan hingga akhir 2026 mencapai 60 persen dari jumlah penduduk.
“Untuk CKG saat ini sekitar kurang lebih 50 persen. Targetnya adalah 60 persen dari penduduk,” ujarnya.
Pelaksanaan CKG juga telah menyasar lingkungan sekolah. Skrining di sejumlah sekolah mulai dilakukan sejak tahun ajaran baru pada Juli 2026.
“Di bulan Juli kemarin, tahun ajaran baru, kita sudah mulai. Beberapa sekolah sudah dilakukan skrining,” katanya.
Skrining tersebut akan dilanjutkan setelah berbagai kegiatan pada Agustus selesai, termasuk bagi siswa SD, SMP, dan SMA yang belum mendapatkan pemeriksaan.
Penemuan Kasus TBC Masih Jadi Tantangan
Di sisi lain, penemuan kasus TBC masih menjadi tantangan bagi Dinkes PPKB Trenggalek.
drg Andiek menyebut capaian penemuan kasus saat ini masih sekitar 40 persen dari target.
Menurutnya, penemuan kasus harus dilakukan sebanyak mungkin untuk mencegah fenomena gunung es.
“Kalau penyakit menular kita harus menemukan segera sebanyak-banyaknya. Karena khawatirnya kalau temuannya rendah, dikhawatirkan seperti fenomena gunung es,” ujarnya.
Skrining tidak hanya dilakukan terhadap masyarakat yang memiliki gejala, tetapi juga mereka yang tidak menunjukkan gejala.
“Dalam rangka hari ini kita coba menyisir orang-orang yang tidak ada gejala pun kita lakukan pemeriksaan atau skrining,” jelasnya.
Sasaran skrining juga mencakup kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi tertular TBC, termasuk kontak erat pasien TBC.
Selain itu, pemeriksaan menyasar kelompok dengan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko, seperti diabetes melitus dan HIV.
“Kelompok-kelompok yang rentan ini khususnya, tapi tidak menurunkan kelompok yang lain. Yang tanpa gejala pun harus dilakukan skrining,” ungkapnya.
Angka Kesembuhan TBC Capai 90 Persen
Untuk pasien TBC yang telah mendapatkan pengobatan, angka kesembuhan di Trenggalek disebut mencapai sekitar 90 persen.
Pasien lainnya terdiri dari mereka yang meninggal dunia, menghentikan pengobatan, terlambat mengonsumsi obat, hingga berpindah domisili sehingga sulit dipantau.
“Angka kesembuhan kita di angka 90 persen. Yang lainnya macam-macam. Ada yang meninggal, ada juga yang drop out,” ungkapnya.
Menurut drg Andiek, pasien drop out merupakan pasien yang menghentikan pengobatan sebelum seluruh rangkaian pengobatan selesai.
Perpindahan alamat atau domisili juga dapat menyebabkan tenaga kesehatan kehilangan kontak dengan pasien.
“Karena pindah alamat, pindah domisili. Ini akhirnya kita hilang kontak dengan pasien ini,” jelasnya.
Ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir menjalani pemeriksaan TBC. Penemuan kasus sejak dini dinilai dapat mempermudah penanganan dan meningkatkan peluang kesembuhan.
Jika hasil skrining menunjukkan dugaan TBC, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
Pasien yang dinyatakan positif kemudian mendapatkan pengobatan dan harus mengonsumsi obat secara rutin hingga tuntas.
“Sekarang ini obat-obatan sudah tersedia. Yang penting adalah rutin konsumsi obat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya,” tutupnya.
Hasil Skrining TBC Masih Dianalisis
Terpisah, Dokter Ahli Muda yang diberi tugas tambahan sebagai Kepala Puskesmas Ngulankulon, Dinkes PPKB Trenggalek, dr Ika Fibrin Fauziah, mengatakan hasil pemeriksaan CKG yang bersamaan dengan skrining TBC di Pogalan masih berupa data sementara.
Hasil tersebut belum dapat disampaikan untuk menentukan warga yang terduga maupun telah dinyatakan positif TBC.
Pasalnya, data pemeriksaan masih harus masuk dan dianalisis melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), aplikasi resmi Kementerian Kesehatan untuk pencatatan, pelaporan dan pengelolaan data kasus TBC secara terintegrasi.
“Ini belum dianalisa mas. Masih data gelondongan, data nanti semua masuk SiTB,” kata dr Ika.
Ia mengatakan hasil pemeriksaan nantinya akan disampaikan langsung kepada masyarakat yang bersangkutan melalui petugas yang membidangi.
“Nanti langsung dihubungi oleh koordinatornya Program Tuberculosis. Jadi langsung yang bersangkutan,” paparnya.











