Inti Berita:
• Satgas MBG Trenggalek menekankan penerapan SOP dan penggunaan APD bagi penjamah makanan sebagai langkah efektif mencegah penularan hepatitis A.
• Masker, sarung tangan, dan penutup kepala tertentu harus digunakan sekali pakai, sedangkan APD berbahan karet masih dapat digunakan kembali setelah dicuci.
SUARA TRENGGALEK – Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Trenggalek memperketat aturan penggunaan alat pelindung diri (APD) di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penggunaan APD sekali pakai seperti masker, sarung tangan, dan penutup kepala sekali pakai dinilai sebagai langkah paling efektif dan efisien untuk mencegah penularan wabah Hepatitis A.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi penjamah makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal itu disampaikan Satgas MBG menyusul informasi di luar daerah mengenai adanya penjamah atau relawan SPPG yang terdeteksi terkena hepatitis.
Sunarto menjelaskan, hepatitis terdiri dari beberapa jenis. Salah satunya adalah hepatitis A yang dapat menular melalui makanan.
“Jadi hepatitis itu perlu diketahui hepatitis itu ada banyak. Ada hepatitis A, B, C, dan seterusnya. Jadi, yang menular lewat makanan itu namanya hepatitis A,” kata Sunarto.
Menurutnya, hepatitis A dapat menular melalui tangan yang tercemar kotoran, terutama apabila seseorang tidak mencuci tangan menggunakan sabun.
“Di mana dia bisa ditularkan biasanya dari tangan yang mungkin tercemar dari kotoran, tidak cuci tangan pakai sabun dan lain sebagainya dari situ,” jelasnya.
Sunarto mengatakan hepatitis A dapat menyebabkan wabah karena penularannya berlangsung cepat.
Gejala yang dapat muncul antara lain mual, muntah, pusing, demam hingga tubuh mengalami perubahan warna menjadi kuning. Dalam kondisi tertentu, penderita perlu menjalani perawatan di rumah sakit.
“Dan ini bisa mengakibatkan wabah biasanya kalau hepatitis cepat sekali. Seperti itu. Gejalanya biasanya ya mual, muntah, pusing, panas sama kuning. Kira-kira seperti itu. Dia biasanya perlu rawat inap di rumah sakit,” ujarnya.
Untuk mencegah kejadian tersebut, Sunarto menilai penerapan SOP dan penggunaan APD menjadi langkah yang paling efektif.
“Nah, yang paling efektif adalah sebenarnya adalah penerapan SOP tadi dan penggunaan APD. Penggunaan APD ini yang perlu kita giatkan dan sesuai dengan SOP memang harus ada penggunaan APD,” katanya.
Terkait imunisasi bagi penjamah makanan, Sunarto menyebut aturan mengenai hal tersebut belum sampai pada tahap tersebut. Satgas masih mengikuti program yang ada.
“Jadi untuk proses imunisasi, penjamu makanan atau dan sebagainya aturannya belum ada. Belum sampai di sana kira-kira seperti itu. Kita mengikuti program,” jelasnya.
Menurut Sunarto, pemeriksaan maupun imunisasi membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena itu, penggunaan APD dinilai menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah risiko penularan.
“Untuk pemeriksaan itu cukup mahal, untuk imunisasinya juga cukup mahal dan lain sebagainya dan sebenarnya ada cara yang efektif yaitu menggunakan APD,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tidak semua APD dapat digunakan berulang kali. Beberapa jenis APD memang dirancang untuk sekali pakai dan harus segera dibuang setelah digunakan.
“Ya, jadi yang digunakan di sini adalah APD yang sekali pakai. Jadi masker itu enggak boleh dipakai lagi. Jadi sekian jam itu harus dibuang,” katanya.
Sunarto menambahkan, masker tidak boleh dicuci kemudian digunakan kembali karena kemampuan penyaringannya dapat menurun.
“Karena dia anunya sudah enggak bisa nyaring lagi. Kan kita kadang-kadang bersin, batuk, itu kan percikannya kan anu kan virusnya itu masih merobos tadi seperti itu,” jelasnya.
Selain masker, sarung tangan dan penutup kepala berbentuk seperti yang digunakan saat operasi juga termasuk APD yang harus sekali pakai.
“Termasuk sarung tangan APD ya? Iya, sarung tangan itu juga harus sekali gunakan dibuang, tidak boleh digunakan lagi seperti itu,” tegasnya.
Sementara itu, APD berbahan karet yang digunakan untuk kegiatan tertentu masih dapat digunakan kembali setelah melalui proses pencucian menggunakan sabun.
“Karena nanti kan dicuci lagi pakai sabun. Masih memungkinkan. Tapi kalau yang lain sarung tangan, kemudian masker, kemudian penutup kepala yang bentuknya yang bentuk kayak mengoperasi itu harus sekali pakai,” pungkasnya.











