Inti Berita:
• Sebanyak 711 peserta mengikuti Bimbingan Muqri’ Metode Yanbu’a di Ponpes Al Kautsar Durenan.
• Peserta berasal dari Trenggalek, Tulungagung, hingga Kediri dan mendapat syahadah sanad pengajaran Al-Qur’an.
• Kegiatan bertujuan mencetak guru Al-Qur’an bersanad hingga Rasulullah SAW.
SUARA TRENGGALEK – Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di halaman Pondok Pesantren Al Kautsar, Desa Durenan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Minggu (10/5/2026).
Ratusan peserta tampak antusias mengikuti Pelatihan Bimbingan Muqri’ Baca Tulis Al-Qur’an dengan Metode Yanbu’a.
Kegiatan tersebut menghadirkan langsung KH M Ulil Albab Arwani atau Gus Bab, ulama ahli Al-Qur’an asal Kudus, Jawa Tengah, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh Yanbu’ul Qur’an.
Ketua Lajnah Muqorobah Yanbu’a (LMY) Daerah Trenggalek, Gus Ahmad Munawwir, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian haflah Pondok Pesantren Al Kautsar Durenan.
“Haflah di pondok pesantren ini bisa dua atau tiga tahun sekali. Dan Bimbingan Muqri’ ini termasuk rangkaian acara haflah yang paling akhir,” ujarnya.
Menurut Gus Ahmad, pelatihan itu digelar untuk memperluas penerapan Metode Yanbu’a dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an di berbagai daerah.
“Bimbingan ini diadakan karena pondok pesantren ini mengajarkan baca tulis Al-Qur’an menggunakan Metode Yanbu’a. Yanbu’a sendiri memang berasal dari Kudus,” jelasnya.
Ia menambahkan, para peserta nantinya akan memperoleh syahadah atau ijazah untuk mengamalkan dan mengajarkan metode tersebut kepada santri di daerah masing-masing.
“Guru yang mengikuti acara ini dapat syahadah yang mana menjadi guru yang bersanad bersambung sampai Rasulullah untuk mengajarkan Al-Qur’an,” katanya.
Jumlah peserta yang tercatat mengikuti kegiatan tersebut mencapai 711 orang yang berasal dari Trenggalek, Tulungagung, hingga Kediri.
Awalnya panitia hanya menargetkan sekitar 400 peserta secara daring. Namun antusiasme masyarakat membuat jumlah peserta yang hadir secara langsung jauh melebihi perkiraan.
“Alhamdulillah melihat antusiasmenya dari peserta kami bersyukur, sudah lebih dari perkiraan. Ketika offline yang datang lebih dari 400 sampai 700 peserta,” ungkap Gus Ahmad.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi wadah bagi guru maupun calon pengajar Al-Qur’an untuk memperoleh sanad keilmuan yang jelas dan sesuai ajaran ulama terdahulu.
“Nantinya bisa mencetak generasi qur’ani yang benar-benar bersanad sampai Rasulullah SAW,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu peserta asal Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Indana Aunur Rachman (21), mengaku mengikuti pelatihan tersebut untuk memperdalam metode pengajaran Al-Qur’an kepada anak-anak.
“Kami ingin mengajarkan ke anak-anak baca Al-Qur’an yang baik dan benar,” ujarnya.
Ia mengaku mendapatkan banyak ilmu selama mengikuti kegiatan tersebut, termasuk mengulang pelajaran yang pernah dipelajari saat mondok.
“Pelajaran yang dahulu mungkin sekarang agak-agak lupa. Alhamdulillah dengan adanya ini saya menjadi ingat lagi,” katanya.
Indana berharap ilmu yang diperoleh bisa menjadi bekal untuk lebih giat mengajarkan Al-Qur’an dan metode Yanbu’a kepada para santri.
“Alhamdulillah saya bisa menyambung sanad yang bersambung ke Rasulullah SAW,” pungkasnya.











