Intinya Sih:
• Produksi sampah di Trenggalek rata-rata 0,4 kg per orang per hari
• Volume sampah naik dari 33 ribu ton (2024) jadi 37 ribu ton (2025)
• Sampah didominasi sisa makanan dan plastik sekali pakai
• DLH dorong pengelolaan sampah dari rumah, hanya 20% yang masuk TPA
• Plastik kresek, styrofoam, sedotan, dan mika jadi fokus pembatasan
SUARA TRENGGALEK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mencatat rata-rata produksi sampah harian masyarakat mencapai 0,4 kilogram per orang.
Angka tersebut berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan di Trenggalek sendiri volume sampah tahun 2025 meningkat di banding tahun 2024.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi menjelaskan bahwa jumlah tersebut merupakan rata-rata produksi sampah di wilayah kota kecil seperti Trenggalek.
“Setiap orang itu kalau berdasarkan penelitian dari SNI, menghasilkan sampah sekitar 0,4 kilogram per hari,” jelas Fahmi.
Menurutnya, sampah tersebut umumnya berasal dari sisa makanan dan kemasan plastik dari aktivitas rumah tangga sehari-hari.
DLH mendorong agar sebagian besar sampah tersebut dapat dikelola langsung dari rumah, khususnya sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos atau pakan ternak.
“Harapannya, sampah itu tidak keluar rumah. Sampah organik bisa dikomposkan atau dijadikan pakan ternak, sedangkan sampah anorganik dipilah dan dijual ke bank sampah,” ujarnya.
Fahmi menambahkan, jika pengelolaan sampah dilakukan dengan baik, maka sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seharusnya hanya sekitar 20 persen dari total produksi harian.
“Kalau dari 0,4 kilogram itu bisa dipilah dan diolah, maka yang masuk ke TPA hanya sekitar 20 persen saja,” katanya.
Bahkan DLH mencatat terjadi peningkatan volume sampah di Trenggalek dari tahun ke tahun. Pada 2024, total sampah tercatat sebesar 33.469 ton dan meningkat menjadi 37.427 ton pada 2025.
Peningkatan tersebut dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya aktivitas masyarakat saat momen tertentu seperti Ramadan dan Lebaran, serta meningkatnya sektor perdagangan dan UMKM.
“Budaya praktis sekarang ini, seperti makanan dan minuman berkemasan, termasuk layanan pesan antar, turut menambah volume sampah,” jelas Fahmi.
Sebagai upaya pengendalian, DLH terus menggalakkan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, terutama yang sulit didaur ulang.
Beberapa jenis yang menjadi perhatian utama antara lain kantong plastik kresek, styrofoam, sedotan plastik, serta kemasan berbahan mika.
“Plastik kresek nilai ekonominya sangat rendah, styrofoam tidak bisa didaur ulang dan berbahaya bagi kesehatan, sedangkan sedotan plastik dan mika juga sulit diolah kembali,” paparnya.
DLH pun mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk mulai beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan sedotan bambu dan kemasan yang dapat digunakan ulang.
“Kami terus menyampaikan melalui surat edaran setiap tahun agar penggunaan plastik sekali pakai yang tidak memiliki nilai manfaat bisa dibatasi,” pungkasnya.











