BISNIS

Rupiah Kembali Dekati Rp 18.000 per Dolar AS

×

Rupiah Kembali Dekati Rp 18.000 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
1 dolar berapa rupiah. Rupiah menguat tipis
Ilustrasi

SUARA TRENGGALEK – Nilai tukar rupiah kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,55 persen atau 98 poin menjadi Rp17.916 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan prospek negosiasi kembali antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut memengaruhi sentimen pasar.

“Iran dan Amerika Serikat masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka,” ujarnya, Kamis (24/9/2026).

Ibrahim mengutip pernyataan seorang pejabat senior Iran yang menyebut Iran tetap terbuka untuk diplomasi. Namun, Iran juga menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan AS.

“Pejabat Iran itu sedang meninjau usulan perdamaian Washington untuk membuka kembali Selat Hormuz. Termasuk pencabutan blokade terhadap angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran,” ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, alotnya diplomasi antara AS dan Iran mengindikasikan konflik kemungkinan masih akan berlangsung lama.

Dari sisi ekonomi, pasar juga mencermati sikap hawkish pejabat The Fed, Michael Barr.

“Barr mengatakan, penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi,” ucap Ibrahim.

Kondisi tersebut memunculkan kemungkinan bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga tersebut mencapai 69,7 persen. Persentase itu meningkat dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di level 48,7 persen.

Di dalam negeri, para ekonom mengingatkan masih tingginya risiko eksternal. Suku bunga tinggi dapat memicu kenaikan imbal hasil global, ditambah tekanan geopolitik dan harga minyak yang fluktuatif.

Pemerintah juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, serta sentimen pasar yang rentan.

Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan nilai tukar rupiah yang masih rawan terhadap penguatan dolar AS dan arus keluar modal asing.

Selain itu, fenomena alam El Nino juga menjadi ancaman bagi perekonomian. Kondisi tersebut berisiko mengganggu produksi dan pasokan pangan.

Gangguan produksi dan pasokan pangan berpotensi memicu inflasi, terutama dari komponen harga pangan yang bergejolak.