PERISTIWA

Penjualan Beras Premium di Trenggalek Menurun, Cap Koi Jadi Pilihan Konsumen

×

Penjualan Beras Premium di Trenggalek Menurun, Cap Koi Jadi Pilihan Konsumen

Sebarkan artikel ini
Beras lokal Trenggalek
Sidak beras terindikasi oplosan di Trenggalek oleh Dinas Komindag.

SUARA TRENGGALEK – Penjualan sejumlah merek beras premium di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, mengalami penurunan setelah muncul indikasi beras oplosan pada beberapa merek tertentu.

Kondisi ini mendorong konsumen beralih ke merek lain, meskipun kenaikan harga beras terjadi bukan karena isu tersebut, melainkan akibat tren kenaikan harga secara umum.

Pemilik Toko Aloha Trenggalek, Dwi Hariani, membenarkan adanya penurunan permintaan terhadap beras merek Fortune karena banyak konsumen yang beralih ke merek lain.

“Kalau biasanya merek Fortune dalam seminggu bisa habis dua ret atau delapan ton, sekarang satu ton saja belum tentu habis,” ujarnya, Jumat (18/7/2025).

Dwi menyebut, beras Fortune dijual seharga Rp74.000 per lima kilogram. Meski ada penurunan permintaan, ia menegaskan tidak ada keluhan maupun temuan beras dari pembeli.

“Belum ada komplain hingga penarikan beras merek tertentu oleh pabrik,” jelasnya.

Sementara itu, Dwi juga menjelaskan konsumen kini banyak beralih ke merek Cap Koi. Menurut Dwi, penjualannya meningkat signifikan.

“Biasanya habis satu ret delapan atau sembilan ton per minggu. Sekarang, dua hari saja sudah habis,” katanya.

Ia menambahkan, harga beras Cap Koi juga mengalami kenaikan, namun hal itu terjadi karena memang harga beras secara umum naik di pasaran.

Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek, Saniran, mengatakan pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik distribusi.

Sidak dilakukan untuk menindaklanjuti temuan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait 212 merek beras yang diduga tidak memenuhi standar mutu.

“Kami mengecek langsung ke gudang dan kios distributor. Dari hasil pengecekan, ditemukan dua merek yang masuk dalam daftar indikasi, yaitu Fortune dan Kepala Lele,” ungkapnya.

Saniran menyebut, selain dua merek itu saat sidak di Pasar Basah Trenggalek hanya ditemukan beras Cap Koi dan beras lokal. Beras Cap Koi yang kini menjadi alternatif utama masyarakat karena tidak termasuk dalam daftar beras bermasalah.

Meski belum ada perintah resmi penarikan produk dari pemerintah pusat, pihaknya melaksanaan sidak untuk mengantisipasi dan tetap melakukan langkah deteksi dini.

“Belum ada perintah penarikan. Namun kami tetap lakukan pemantauan sebagai dasar pelaporan ke Kementerian,” tutupnya.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.