PERISTIWA

Capaian Pemenuhan Hak Anak di Trenggalek Jalan Ditempat

×

Capaian Pemenuhan Hak Anak di Trenggalek Jalan Ditempat

Sebarkan artikel ini
Iqmal eaby pansus LKPJ Trenggalek
Iqmal Eaby saat menyampaikan usulan dalam rapat pansus LKPJ Trenggalek

SUARA TRENGGALEK – Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Trenggalek menyoroti stagnasi angka Pemenuhan Hak Anak (PUHA) di daerah tersebut selama dua tahun terakhir, yakni pada 2023 dan 2024.

Berdasarkan catatan Pansus, capaian PUHA di Trenggalek sempat meningkat dari 70 persen pada 2020 menjadi 75 persen pada 2021. Namun, pada 2022 turun menjadi 70,01 persen dan hanya sedikit naik menjadi 70,5 persen di 2023, lalu stagnan pada angka yang sama di 2024.

“Dari sini terlihat tidak ada progres dalam mewujudkan PUHA di Trenggalek. Klaster pendidikan menjadi yang paling terdampak, dengan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) mencapai kurang lebih 4.900,” ungkap Anggota Pansus, Iqmal Eaby Mugy Mahawidya.

Iqmal memperingatkan bahwa stagnasi PUHA ini berpotensi meningkatkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan memperparah kemiskinan di masa depan, akibat lemahnya pemenuhan hak anak di sektor pendidikan.

“Ini dampaknya akan terasa di 2025 dan tahun-tahun mendatang, apalagi saat ini TPT tidak tercapai dari target 3,8 persen dan terealisasi di angka 3,90 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi Kabar Trenggalek.

Perlu Evaluasi dan Perbaikan Serius

Lebih lanjut, Iqmal menegaskan pentingnya evaluasi serius dari pemerintah eksekutif. Menurutnya, jika tidak ada langkah konkret, permasalahan stagnasi PUHA akan terus berulang dan menghambat pencapaian target pembangunan.

“Ini harus segera dilakukan evaluasi dan perbaikan oleh eksekutif, karena dampaknya juga akan berimbas pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM),” katanya, dalam rapat pada Kamis (24/4/2025).

Untuk diketahui, IPM Trenggalek pada tahun 2024 tercatat sebesar 72,47 poin, sedikit melampaui target sebesar 71,93 poin. Namun, tanpa perbaikan serius di sektor pendidikan dan pemenuhan hak anak, perkembangan ini bisa terhambat di masa mendatang.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.