PERISTIWA

Jejak Kereta Api di Trenggalek: Dari Jalur Trem Kolonial hingga Tinggal Reruntuhan

×

Jejak Kereta Api di Trenggalek: Dari Jalur Trem Kolonial hingga Tinggal Reruntuhan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kondisi peninggalan jejak perkeretaapian di Trenggalek.
Inti Berita:
• Trenggalek pernah dilalui jalur trem Tulungagung–Trenggalek–Tugu era Belanda
• Jalur dibangun 1921–1923 untuk angkut penumpang dan hasil bumi
• Ditutup tahun 1932 akibat krisis ekonomi dan kalah saing transportasi darat
• Rel sempat dibongkar Jepang, sebagian jalur aktif lagi hingga 1970 lalu berhenti
• Peninggalan masih ada: pondasi jembatan, bekas stasiun, hingga jalur tanah
• Kini jadi bukti sejarah penting perkeretaapian di Trenggalek

SUARA TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, ternyata pernah menjadi bagian dari jaringan perkeretaapian pada masa kolonial Belanda. Meski saat ini tidak ada lagi jalur aktif, sejumlah peninggalan masih tersisa sebagai saksi sejarah.

Jalur yang pernah melintasi wilayah ini merupakan bagian dari lintas trem Tulungagung–Trenggalek–Tugu yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda.

Pembangunan jalur ini dilatarbelakangi kebutuhan pemerintah kolonial untuk menghubungkan wilayah pedalaman guna mendukung mobilitas penumpang serta distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan pertambangan.

Survei awal dilakukan sejak 1881 dan 1885, meski realisasinya baru berjalan beberapa dekade kemudian.

Secara resmi, pembangunan jalur trem tersebut didasarkan pada Wet 6 Juni 1919 Staatsblad No. 312. Jalur sepanjang kurang lebih 48 kilometer ini dibangun secara bertahap dengan biaya mencapai 1,8 juta gulden.

Segmen Tulungagung-Campurdarat sepanjang 14 kilometer mulai beroperasi pada 15 Juli 1921.

Sementara itu, jalur Campurdarat–Tugu diselesaikan hingga awal 1923, dengan Stasiun Tugu di Kecamatan Tugu sebagai titik akhir perjalanan.

Jalur ini menggunakan rel dengan lebar 1.067 mm yang umum digunakan untuk trem di wilayah pedalaman. Selain mengangkut penumpang, jalur ini juga dimanfaatkan untuk distribusi hasil bumi lokal.

Namun, operasional jalur tersebut tidak berlangsung lama. Pada masa Depresi Ekonomi Dunia 1930-an, jalur ini mengalami kerugian dan akhirnya ditutup pada 1 November 1932.

Selain faktor ekonomi, persaingan dengan transportasi darat seperti bus juga menjadi penyebab utama.

Pada masa pendudukan Jepang, sebagian rel di segmen Campurdarat–Tugu bahkan dibongkar pada 1943 untuk kepentingan perang.

Sementara segmen Tulungagung–Campurdarat sempat diaktifkan kembali sekitar 1947 hingga 1970 untuk angkutan gamping dan gula sebelum akhirnya berhenti total.

Meski jalur kereta api tersebut telah lama tidak beroperasi, sejumlah peninggalan masih bisa ditemukan hingga kini.

Di antaranya adalah abutment atau pondasi jembatan yang masih terlihat di area persawahan Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek, serta di sekitar Jembatan Munjungan, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan.

Selain itu, bangunan yang kini menjadi SMPN 1 Tugu diduga merupakan bekas Stasiun Tugu.

Sisa-sisa rel, pondasi, hingga gundukan tanah bekas jalur juga masih dapat ditemukan di beberapa titik, meski sebagian besar telah tertutup atau berubah fungsi.

Peninggalan tersebut menjadi bukti bahwa Trenggalek pernah terhubung dengan jaringan kereta api kolonial, meski kini keberadaannya nyaris terlupakan.

Dokumentasi mengenai jalur ini lebih banyak ditemukan melalui komunitas pecinta kereta api dan penggiat sejarah lokal.

Sejarah ini menunjukkan bagaimana pembangunan infrastruktur kolonial yang ambisius pada masanya juga rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Jalur trem Tulungagung-Trenggalek-Tugu yang hanya bertahan sekitar satu dekade itu kini meninggalkan jejak yang layak untuk dilestarikan sebagai bagian dari warisan sejarah perkeretaapian Indonesia.